Gibran, Sudah tak Punya News (Sales) Value

author surabayapagi.com

- Pewarta

Kamis, 02 Nov 2023 19:58 WIB

Gibran, Sudah tak Punya News (Sales) Value

i

Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Bakal calon wakil presiden Koalisi Indonesia Maju (KIM) Gibran Rakabuming Raka, mengaku, sampai Rabu (1/11/2023) belum menerima undangan makan bersama Wakil Presiden Ma'ruf Amin.

Sebagai bakal calon wakil presiden termuda, Gibran justru ingin bertukar pikiran dengan kedua bakal cawapres yang lebih senior darinya, Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin.

Baca Juga: Tata Kelola Beras Amburadul

"Makanya saya juga pengin bertukar pikiran dengan Pak Mahfud MD, dengan Gus Muhaimin dan juga dengan Pak Wakil Presiden," ungkap Gibran yang mengaku sudah mendapat undangan untuk bertemu Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Namun ia belum tahu kapan rencana pertemuan tersebut.

"Sudah (dihubungi), tapi harinya belum. Kemarin, kemarin (dihubungi)," katanya di Solo, Rabu (1/10/2023).

Berita ini tak lagi ramai di media sosial. Apalagi di media mainstream. Ini isyarat Gibran, tak lagi masuk trending topic. Ia tak masuk tokoh terhangat atau informasi terbaru saat ini.

Sosok "ketokohan" Gibran, menurun. Ia tak terpopuler yang sedang dibicarakan oleh banyak pengguna.

Apalagi Viral yang efeknya lebih luas. Gambaran cross-platform dan senjang waktunya lebih lama, tak saya temukan lagi.

Saya pantau tren penyebaran kegiatan Giban melalui media sosial, tampak anjlok.

Padahal data yang dirilis oleh Reuters Institute, sebanyak 89% masyarakat Indonesia memanfaatkan berita dari media online untuk mendapatkan berita terkini.

Banyaknya pengguna internet yang menghabiskan waktunya di media sosial turut berperan dalam penyebaran informasi tersebut. Apalagi aplikasi WhatsApp sebagai salah satu media komunikasi yang paling banyak digunakan untuk menyebarkan sebuah berita. Gejala apa?

 

***

 

Padahal saat seperti sekarang jelang kampanye, banyak hal yang bisa diberitakan atau dikabarkan melalui media. Namun tidak semua hal bisa dan layak untuk diberitakan termasuk Gibran, yang dipromosikan mewakili generasi muda. Khusus Gibran yang oleh wartawan senior Panda Nababan, ada ingusan, ada aturan untuk pembuatan berita utama. Maklum sebuah informasi harus memiliki nilai berita (news values) agar dapat diberitakan.

Dalam bahasa bisnisnya Gibran, bisa disetarakan sudah tak punya nilai jual atau sales value. Ia masih butuh personal branding.

Gunakan news value tampaknya Gibran, belum jadi "tokoh" layak di ekspos seperti awal pencawapresan 1-2 minggu lalu. Ini mengindikasikan Gibran masuk radar wartawan dari unsur konflik news values. Nilai positifnya belum muncul.

Bagi wartawan, konflik dalam masyarakat memang memberi perhatian. Konflik Gibran hengkang dari PDIP tak ubahnya pada konflik: perang, kriminalitas atau olahraga atau persaingan dalam bidang apa pun. Intinya di dalamnya terkandung unsur konflik.

Konflik: Pertentangan orang atau kekuatan yang menghasilkan efek dramatis . Peristiwa yang mengandung konflik sering kali cukup layak diberitakan. Terkadang dimasukkan dalam Negatif daripada dicantumkan sebagai nilai berita terpisah.

Bagi saya, berita kasus Gibran, bisa meningkatkan hasrat di masyarakat untuk memperhatikan, dan menyukainya. Tapi karena ada wacana etika politik yang dilompati Gibran, ada kritik dari pembaca tidak menimbulkan rasa senang. Peristiwa Gibran sarat dengan pertentangan.

Kalau ada keterbaruannya tak ada keunikan dan daya tarik. Penonjolannya cari kekuasaan sampai "mengajak" Om Anwar Usman, Ketua MK. Jadi unsur luar biasanya tengggelam oleh dugaan nepotismenya.

Baca Juga: PPP Anggap Pilpres Sudah Game Over

 

***

 

Pesan senior- senior saya, tidak semua peristiwa bisa menjadi berita. Juga tidak semua kabar bisa diangkat ke surat kabar. Artinya, sebuah peristiwa harus lolos dari sejumlah filter agar bisa dipublikasikan ke masyarakat yang lebih luas. Filter itu bernama nilai berita, pegangan Lazimnya wartawan profesional.

News values (nilai berita) adalah parameter, acuan atau kriteria yang digunakan untuk mengukur sebuah kejadian atau informasi layak tidaknya diberitakan. Pendeknya para wartawan mesti menguasai nilai-nilai berita sebelum mereka mempublikasikan teks berita ke medianya.

Berlaku, baik media cetak, media online nasional maupun di media lainnya seperti televisi dan radio.

Sejak orang tua saya masih aktif sebagai jurnalis, 10 nilai berita itu saya serap "lahir-bathin". Meski begitu, sebuah informasi tidak harus memenuhi 10 nilai berita tersebut secara utuh, jika hanya memiliki salah satu atau lebih dari nilai yang ada, maka sebuah informasi atau kejadian tersebut layak untuk diberitakan.

Mengingat berita harus mampu meningkatkan hasrat di masyarakat. Artinya tidak cukup dibumbui suatu hal yang baru terjadi saja, bersifat luar biasa, unik, atau berupa pertentangan. Mesti ada magnitude atau pengaruhnya.

Gibran bila bukan anak presiden Jokowi, tak ada pengaruhnya bagi pers. Jokowi memiliki pengaruh yang luas kepada rakyat pembaca.

Ini karena luasnya pengaruh dari sebuah informasi akan dapat menentukan berita tersebut bernilai atau tidak.

Baca Juga: Calon Legislator Jatim, Non Dana Hibah

Jokowi dalam sebuah berita terkait Gibran, tetap bernilai. Gibran, anak tukang mebel, jempalitan di mall, tak ada yang meliput. Artihya, keberadaan Gibran sebagai putra sulung presiden Jokowi lebih mudah diterima oleh masyarakat . Sebuah berita mesti juga ada significance.

Kepentingan dari sebuah informasi juga andalan wartawan. Kepentingan ini tidak didasarkan pada satu orang atau kelompok saja, tapi juga berdasarkan kepentingan orang banyak. Salah satu informasi penting yang menyangkut masyarakat luas adalah apakah presiden bisa menjabat tiga periode?.

Pertanyaan nalarnya, apakah Gibran, sudah masuk jadi tokoh nasional? Belum!

Gibran beda dengan artis. Maka tidak perlu heran jika seorang artis lebih sering diberitakan ketimbang Gibran yang misal bukan anak Jokowi.

Maklum ketokohan juga menjadi sebuah nilai berita. Bahkan menjadi sumber berita. Sehingga apa yang dilakukan atau diucapkannya menjadi sebuah berita yang menarik dan layak untuk diketahui.

Ada juga unsur unusualness atau keanehan.

Ini menyangkut hal yang unik, tidak lazim, aneh, tidak biasanya. Kayak Gibran, ikut karnaval pakai hem jukir. Ada wartawan yang memotret. Mengapa?

Ada nilai beritanya.

Mari kita simak acara makan siang Gibran dengan Wapres Ma'ruf Amien, Senin, 6 November nanti? Apakah Gibran, akan jadi trendsetter? ([email protected])

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU