SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Judul ini, saya angkat selain menggunakan data pada Pilpres 2014 dan 1019, juga survei survei terbaru periode Desember 2023.
Survei dari harian Kompas, yang dirilis awal Desember 2023 lalu menggambarkan paslon nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, unggul jauh dibandingkan dua paslon lainnya, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
Prabowo-Gibran berada di urutan pertama dengan perolehan elektabilitas 39,3 persen, sedangkan Anies-Muhaimin 16,7 persen dan Ganjar-Mahfud dengan 15,3 persen.
Litbang Kompas menegaskan melakukan survei secara independen.
Capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo tak gentar hasil survei elektabilitasnya. Ganjar bertekad akan gentar dan akan tetap bertemu dengan rakyat.
Deputi Politik 5.0 Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Andi Widjajanto, lalu merilis hasil survei internal usai debat cawapres. Andi menyebut berdasarkan survei terkini, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabumimg Raka berada di posisi teratas, diikuti oleh Ganjar Pranowo dan Mahfud Md, serta pasangan AMIN (Anies-Muhaimin).
Andi menejelaskan metode survei yang dilakukan TPN, diantaranya menggunakan survei konvensional, FGD (forum group discussion) 31 kota, dan predictive media analysis.
Andi menjelaskan metode konvensional mirip seperti yang digunakan oleh lembaga survei di mana sampel dan MoE (Margin of Error) berada di angka normal. Ia menyebut untuk metode FGD pihaknya menjangkau 3.000-4.000 peserta di 31 kota.
"Media Analytic bisa dilakukan real-time, misal untuk amati traffic dan sentimen selama debat berlangsung, ditarik jutaan titik data di seluruh platform media. Di TPN, ada laporan traffic 24 jam, 7 hari, dan traffic dari 28 November (awal kampanye) hingga hari ini," ujar Andi dikonfirmasi, Rabu (27/12/2023).
Dalam konferensi pers saat itu, Andi menyampaikan survei internal pihaknya. Hasilnya Prabowo-Gibran berada di posisi teratas dengan perolehan 41,1%.
Posisi kedua diikuti Ganjar dan Mahfud sebesar 37�n Anies-Muhaimin senilai 21,7%. Ia menyebut ada peningkatan dari Ganjar dibandingkan hasil internal TPN tujuh hari yang lalu.
"Jadi terjadi peningkatan dari posisinya Mas Ganjar sekitar 2% gabungan triangulasi metode itu. Tujuh hari yang lalu Mas Ganjar posisinya di 35, lalu dalam 24 jam terakhir ada di 37. Prabowo di tujuh hari yang lalu ada di 42,6 lalu hari ini ada di 41,1. Mas Anies tujuh hari yang lalu ada di 22 lalu stabil di 21,7%," kata Andi. Hasil survei internal PDIP yang perbedaan dengan Prabowo, hanya dipusaran 4%. Pertanyaannya secara nasional, masihkah
PDIP sebagai partai pengusung utama Ganjar-Mahfud kuat dan mengakar termasuk di kalangan anak muda?
Apakah survei dan pasar punya korelasi?
Dibandingkan dengan 2 pemilu terakhir, berdasarkan survei, kesenjangan antara dua kandidat Jokowi vs Prabowo, di pemilu 2019 adalah yang paling konsisten, dengan penyimpangan hanya 7,1% vs rata-rata 13,8% di 2004-09-14. "Ini menyiratkan bahwa hasil nyata untuk kesenjangan pemilihan presiden 2019 kemungkinan akan tetap di kisaran rata-rata 23,8%."
Namun ketidakpastian masih muncul dari meningkatnya jumlah pemilih abstain yang pada pemilihan presiden 2014 mencapai angka tertinggi 29,8%.
Angka ini lebih tinggi daripada kesenjangan hasil survei antara dua kandidat pada tahun 2019 dengan rata-rata 23,8%, yang menyiratkan bahwa ada ruang yang lebih besar untuk terjadinya margin of error. (Ipotnews, Sunday, March 24, 2019).
***
Gambaran promosi PDIP di Surabaya sampai akhir Desember 2013, untuk jumlah baliho dan spanduk, gerakan mensosialisasikan paslon Ganjar-Mahfud lebih dominan dibanding dua capres lainnya.
Bahkan di daerah daerah kantong PDIP seperti di Gubeng dan sekitarnya, Wonokromo, hampir setiap hari sebar kalender, stiker, selebaran tentang Ganjar-Mahfud, dan caleg PDIP.
Sementara posko-poskonya di kantor DPC surabaya dan ranting juga gencar sosialisasikan Ganjar-Mahfud.
Seperti di gubeng, ada posko Ganjar-Mahfud yang didirikan relawan, hampir setiap hari ramai dibuat cangkrukan.
Praktis dengan baliho capres Prabowo-Gibran, cukup berimbang. Misal di daerah jalan-jalan protokol, sprti di Jalan Sulawesi, Jalan Raya Gubeng, Basuki Rahmat, Kertajaya, Manyar, Mayjend, HR muhammad, baliho nomor 2 dan nomor 3 cukup banyak.
***
Gambaran Ganjar-Mahfud, diungguli Prabowo, bisa jadi responden yang dijangkau berbagai lembaga survei tak menjangkau grassroot, pemilih dominan PDIP.
Catatan jurnalistik saya, PDI Perjuangan (PDIP), lahir dari kebijakan rezim Orde Baru yang memaksa aliran politik nasionalis, Kristen dan Katolik, hingga sosialis (Murba) melebur menjadi satu partai.
Kata orang tua saya, kendati terdiri dari banyak latar belakang, kehadirannya merepresentasikan suara kaum nasionalis. Ideologi PDI juga dekat dengan pendahulunya, Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan oleh Soekarno, yakni Marhaenisme.
Data yang saya miliki, basis pemilih PDI pun mewarisi lumbung suara PNI di wilayah Bali, Jawa Tengah hingga Jawa Timur (Mataraman). Banyak pihak yang berpendapat meroketnya suara PDIP adalah implikasi dari keberadaan trah Soekarno di partai kepala banteng. Trah Soekarno yang dimaksud adalah Megawati Soekarnoputri.
Kini, apakah Jokowi mulai jengah dengan tindak tanduk elite PDIP yang dituding Ketua Umum PAN sering bertengkar. Jokowi, mulai membuat perimbangan politik menunjuk Gibran, anak sulungnya gabung Prabowo, mantan rivalnya dalam Pilpres 2014 dan 2019.
Meskipun kalau melihat grass root, sebenarnya banyak juga kader yang menyuarakan regenerasi pimpinan politik. Toh di internal PDIP sebenarnya banyak anak-anak muda atau kader ideologis Bung Karno yang berpengalaman dan mampu memimpin partai politik.
Hasil perolehan pemilu 2019 menunjukkan PDI-P meraup suara pemilih 27.053.961 atau 19,33%.
Fraksi PDIP, tentu saja bisa mengamuk lumat lawan politiknya. Namun, tetap saja mengedepankan solid dan santunnya. Meskipun sudah jelas PDIP merupakan partai militan dan mempunyai kekuatan grassroot. PDIP lebih memilih jalur hukum dan konstitusional dengan kepala dingin. Megawati Soekarnoputri pun turut meredam amarah para kadernya dengan menuliskan pada 26 Juni 2020. PDIP adalah partai yang sah. Dibangun melalui sejarah panjang. Berakar kuat pada sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tak lain melalui Partai Nasional Indonesia yang didirikan oleh Bung Karno pada tanggal 4 Juli 1996.
Tampaknya pilpres 2024, PDI lebih terfokus pada tiga provinsi di Jawa sebagai penyumbang suara terbesar yaitu Jawa Barat (Jabar), Jawa Timur (Jatim), dan Jawa Tengah (Jateng).
Data Komisi Pemilihan Umum (KPU) menunjukkan ketiga provinsi dengan suara terbesar tersebut menguasai 47,14% suara atau menguasai 64,9 juta suara dalam Pileg 2019. Jabar memegang 17�ri total suara atau 23,9 juta. Jatim berkontribusi 16% atau sebanyak 21,6 juta suara. Jateng memegang 14% atau 19,2 juta suara.
Data juga menunjukkan hanya terdapat lima partai politik (parpol) yang mendapat suara total lebih dari 500 ribu dari ketiga provinsi dengan suara terbanyak. Kelima partai tersebut diantaranya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Golongan Karya (Golkar), dan PKS (Partai Keadilan Sejahtera).
Praktis, saat ini, PDIP menjadi partai penguasa dari total akumulasi ketiga provinsi tersebut. Bahkan mencapai 13,3 juta suara.
PDIP sampai kini punya slogan 'Partainya Wong Cilik'. Sebab, PDIP menjadi besar seperti sekarang karena kesetian para pemilihnya yang berasal dari kalangan 'wong cilik'.
Apakah mereka terjangakau oleh lembaga survei? Bisa jadi terlewatkan. Masuk akal analisis Andi Widjajanto, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) diatas. ([email protected]).
Editor : Moch Ilham