SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Perusahaan pelayaran global terus menghindari rute di sekitar Laut Merah usai serangan yang dilakukan oleh Houthi akhir-akhir ini. Akibatnya juga dapat mengancam serta memicu kekhawatiran serangan inflasi global
Kedua perusahaan raksasa Maersk Denmark can saingannya dari Jerman Hapag-Lloyd akan terus menghindari rute Laut Merah yang memiliki akses ke Terusan Suez dengan mengubah rute pelayarannya melalui Tanjung Harapan di bagian selatan Afrika untuk mengantisipasi adanya serangan Houthi.
Hapag-Lloyd juga mengatakan bahwa kapal-kapalnya akan terus beralih dari Laut Merah dengan berlayar melalui ujung selatan Afrika, hingga setidaknya 9 Januari 2024, mengutip Reuters, Rabu (03/1/2024).
Dapat diketahui, Terusan Suez digunakan oleh sekitar sepertiga kargo kapal kontainer global. Dengan mengalihkan apal-kapal melalui ujung selatan Afrika diperkirakan akan menghabiskan biaya tambahan bahan bakar hingga US$1 juta untuk setiap perjalanan pulang pergi antara Asia dan Eropa utara.
Kemudian, kekhawatiran tentang potensi gangguan pasokan di Timur Tengah setelah serangan Laut Merah terbaru mendorong kenaikan harga minyak dalam sesi perdagangan pertama tahun 2024.
Ekspektasi bahwa rute yang lebih panjang akan mengakibatkan tarif pengiriman lebih tinggi telah mendorong kenaikan saham perusahaan pelayaran sejak krisis dimulai, dan saham Maersk naik 6,3�lam perdagangan sore, sedangkan saham Hapag-Lloyd naik 5%.
Sebagai informasi, kelompok Houthi yang didukung Iran, yang menguasai beberapa wilayah Yaman setelah bertahun-tahun berperang, mulai menyerang pelayaran internasional pada November 2023. Adapun, upaya tersebut dilakukan untuk mendukung kelompok Islamis Palestina, Hamas, dalam perangnya dengan Israel di Jalur Gaza.
Hal tersebut mendorong kelompok-kelompok pelayaran besar termasuk Maersk dan Hapag-Lloyd, untuk berhenti menggunakan rute Laut Merah, dan memilih untuk mengambil rute yang lebih jauh di sekitar Tanjung Harapan. sb-01/dsy
Editor : Desy Ayu