SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Jelang hari pencoblosan pada 14 Februari 2024, manuver politik pasangan calon nomor urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di Jawa Tengah makin masif kegiatan paslon ini, termasuk Presiden Jokowi di Jateng dinilai jadi alarm keras buat PDIP.
Masifnya kunjungan Jokowi ke Jawa Tengah telah terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Sejak 31 Desember 2023 Jokowi bahkan sudah sekitar lima kali berkunjung ke sana.
Terkini, pada Senin (29/1/2024), Prabowo bersama Presiden Joko Widodo sempat terlihat makan siang bersama usai acara peresmian Grha Utama Akademi Militer di Magelang, Jawa Tengah.
Selain itu Prabowo-Gibran juga menggelar kampanye akbar bertajuk kirab kebangsaan di Semarang, Jawa Tengah. Maklum, Jawa Tengah dikenal sebagai "kandang banteng". PDIP dan calon kepala daerah atau calon presiden yang diusungnya hampir selalu menang tebal di di lumbung suara terbesar ketiga di Indonesia tersebut.
Konon, "kandang banteng" mulai goyah di Pilpres 2024 karena digempur manuver politik Prabowo-Gibran yang disebut-sebut disokong Jokowi. Sebab, Gibran merupakan putra sulung Jokowi.
Kabar melemahnya PDIP di Jateng ini terlihat di dalam hasil sejumlah lembaga survei. Sejumlah survei menunjukkan elektabilitas Ganjar Pranowo-Mahfud MD di Jateng yang diusung PDIP tidak terpaut jauh dengan Prabowo-Gibran.
Dalam survei Indikator Politik pada 30 Desember 2023-6 Januari 2024, elektabilitas Ganjar-Mahfud di Jateng dan DIY hanya unggul 7 persen dibanding Prabowo-Gibran.
Bahkan survei LSI pada 1-7 Januari 2024 menunjukkan elektabilitas Ganjar-Mahfud di Jawa Tengah keok dengan Prabowo-Gibran. Mereka terpaut sekitar 10 persen suara.
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro menilai hasil sejumlah lembaga survei tersebut jadi alarm bagi PDIP untuk menjaga Jawa Tengah agar tetap jadi basis suara mereka. Menurutnya, jika PDIP tak bekerja keras, maka istilah "kandang banteng" bisa jadi tinggal sejarah.
"Menimbang masifnya blusukan Presiden Jokowi dan bertubinya-tubinya kampanye kubu (nomor urut) 2," kata Agung kepada CNNIndonesia.com, Senin (29/1/2024) malam.
Indikator Politik Indonesia malah merekam bahwa elektabilitas Ganjar-Mahfud di Jateng mulai mengalami penurunan. Hal itu terlihat dalam tiga hasil survei terakhir mereka sejak Oktober 2023 hingga Januari 2024. Dalam survei pada 27 Oktober-1 November 2023, elektabilitas paslon nomor urut 03 itu berada di angka 68,1 persen. Selanjutnya pada 23 November-1 Desember 2023 menurun ke 51,7 persen. Terakhir pada 30 Desember 2023 sampai 6 Januari 2024, elektabilitas Ganjar-Mahfud di angka 42,4 persen.
Elektabilitas Ganjar Pranowo-Mahfud MD, justru menunjukkan tren penurunan dan terus tergerus Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Bila survei ini valid, bisa diduga karena blusukannya Jokowi di Jawa Tengah dengan beberapa kegiatan.
***
Catatan jurnalistik saya menyebut Jateng dalam beberapa kali pemilu memang terbukti menjadi lumbung suara PDIP sekaligus memenangkan secara mutlak kandidat capres-cawapres yang diusungnya. Namun, pemilu tahun 2024 akan menjadi ujian karena Gibran Rakabuming Raka yang juga putra sulung Presiden Jokowi tampil sebagai kontestan yang tidak diusung PDIP.
Indikator Politik Indonesia merekam bahwa elektabilitas Ganjar-Mahfud di Jateng mulai mengalami penurunan. Hal itu terlihat dalam tiga hasil survei terakhir mereka sejak Oktober 2023 hingga Januari 2024. Dalam survei pada 27 Oktober-1 November 2023, elektabilitas paslon nomor urut 03 itu berada di angka 68,1 persen. Selanjutnya pada 23 November-1 Desember 2023 menurun ke 51,7 persen. Terakhir pada 30 Desember 2023 sampai 6 Januari 2024, elektabilitas Ganjar-Mahfud di angka 42,4 persen.
Sementara itu, elektabilitas Prabowo-Gibran terus mengalami kenaikan di Jateng. Pada 27 Oktober-1 November 2023, elektabilitas paslon 02 sebesar 18,0 persen. Kemudian pada pada 23 November-1 Desember 2023 mengalami peningkatan ke 35,3 persen. Terakhir pada 30 Desember 2023 sampai 6 Januari 2024, elektabilitas Prabowo-Gibran di angka 41,4 persen.
"Jateng, kabar baik buat Pak Prabowo. Kabar buruk buat Mas Ganjar," ujar Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi lewat rilis daringnya, kemarin.
Untuk pasangan 01 Anies Rasyid Baswedan-Abdul Muhaimin Iskandar, angkanya masih terlampau kecil di Jateng. Survei pada 27 Oktober-1 November 2023 (7,8 persen), 23 November-1 Desember 2023 (9,0 persen), dan 30 Desember 2023 sampai 6 Januari 2024 (10,1 persen).
Juga hasil survei dari Litbang Kompas menyebutkan Prabowo-Gibran unggul di 6 dapil dari 10 dapil di Jateng ,sedangkan Ganjar-Mahfud hanya unggul di 4 dapil dari 10 dapil. Gibran malah menyebutkan secara elektabilitas ia masih kalah. Ia juga secara satire mengatakan, mungkin ada kesalahan pada survei tersebut. "Endaklah, masih kalah kok. Mungkin ada kesalahan itu surveinya ya," katanya.
Sebagai jurnalis yang tidak partisan, saya membuat catatan politik dengan angle ini, karena ada cawe-cawe Jokowi, ngawal Gibran.
Jokowi, yang kader PDIP, tahu dua kali capres, raihan suara di Jateng, unggul atas Prabowo. Akal sehat saya berkata blusukannya Jokowi ke beberapa wilayah Jawa Tengah untuk mempertegas, ia dan Gibran, wong jowo. Bisa ditebak Jokowi tak boleh dikalahkan oleh mantan Gubernur Jateng. Ini bisa terkait "strata" nya sebagai presiden.
Makanya Jokowi allout. Termasuk membagi bansos ke warga Jawa Tengah. Selain ada beras cap "Prabowo-Gibran".
Saya beberapa kali kontak dengan saudara saya yang masih berdomisili di Jogja, Magelang dan Purwokerto. Saya bertanya soal Jokowi yang intens blusukan ke kandang banteng di Jawa Tengah. Mereka tahu ini soal perebutan kekuasaan. Seorang Guru bahasa Jawa menyebut Jokowi bisa ngundhuh wohing pakerti. Apa pun yang Jokowi lakukan sekarang akan membuahkan hasil yang sepadan.
Ngunduh wohing pakarti berarti memetik buah akibat perbuatannya. Perbuatan baik maupun buruk, semua akan mendapat balasan. Waktunya bisa seketika atau nanti.
Hal yang mesti diingat ingat oleh orang jawa beradab, setiap perbuatan, pasti mengandung resiko, baik atau buruk. Disadari atau tidak, sekarang atau nanti. Ibarat orang menanam pasti akan menuai. Siapa yang menabur angin pasti akan menuai badai.
Peribahasa ini saya lihat positifnya terhadap Jokowi. Apa yang ia berbuat saat ini bisa demi kebaikan Gibran, anaknya, bukan PDIP partai yang mengusungnya sejak maju Wali kota Solo.
Apa ada yang salah dari ikut sertanya Jokowi "kampanye" untuk Gibran, secara terselubung selama ini?
Ebiet G Ade pernah populerkan lagu berjudul "Berita Kepada Kawan". Ebiet , menulis lirik "..... Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang...." ([email protected])
Editor : Moch Ilham