Febri Diansyah, Public Figure Muda, Dihonor Rp 3,9 M

author surabayapagi.com

- Pewarta

Selasa, 04 Jun 2024 20:35 WIB

Febri Diansyah, Public Figure Muda, Dihonor Rp 3,9 M

i

Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Mantan Kabiro Humas KPK, Febri Diansyah, Senin (3/6/2024) memberi kesaksian di Pengadilan Negeri Tipikor Jakarta. Ia dihadirkan Jaksa KPK sebagai saksi perkara dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) eks Menteri Pertanian SYL . Ada temuan menarik dalam pemberian jasa kepada Febri, yang beralih sebagai advokat.

Pada tingkat penyelidikan ia bersama tiga rekannya dihonor oleh SYL Rp 800 juta. Kemudiaan saat perkara SYL naik tingkat penyidikan, jasa hukum Febri dkk, ditingkatkan menjadi Rp 3,1 miliar. Resiko yang dihadapi Febri, saat menjadi pembela mantan gubernur Sulsel itu, dicekal KPK, tak boleh ke luar negeri.

Baca Juga: Wakil Ketua KPK, Slip of the Tongue

Disamping ia diperiksa sebagai saksi SYL, yang saat itu sudah berstatus tersangka korupsi dan gratifikasi.

Otomatis, dengan status sebagai saksi, Febri dkk, tak bisa jadi pembela SYL ditingkat penyidikan. Febri, mengaku dengan statusnya itu, ia berunding dengan SYL, sebagai kliennya. Akhirnya disepakati, SYL mencabut kuasa hukum ke Febri dkk. Sebaliknya Febri, mengajukan surat pengunduran diri sebagai lawyer SYL.

 

***

 

Saya mengangkat "kisah" Febri ini dalam catatan hukum, mempertimbangkan reputasi seorang anak muda, agar bisa dijadikan cermin generasi milenial dan Z.

Dari berbagai sumber, saya memperoleh informasi, Febri, sejak kuliah sudah berkecimpung sebagai aktivis anti korupsi.

Pria kelahiran Padang, 8 Februari 1983 ini kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dan lulus pada tahun 2007. Ia mengambil hukum perdata, sementara teman-teman aktivis lainya lebih memilih hukum pidana dan tata negara. Saat itu, Febri memilih hukum perdata karena sedang ramai pembahasan tentang kontrak karya perusahaan-perusahaan multinasional yang mengeruk kekayaan alam Indonesia.

Dan semasa kuliah, Febri sudah aktif di organisasi Indonesia Court Monitoring (ICM), sebuah lembaga pengawasan peradilan di Yogyakarta. Alasan Febri mengikuti organisasi tersebut untuk mengasah ilmu hukumnya yang didapat di bangku kuliahnya.

Di sisi lain, Febri juga melihat ada beberapa orang lulusan hukum yang bukannya menegakkan hukum, tapi malah melindungi orang-orang bersalah.

Ini yang membuat idealisme Febri berkecamuk. Ia ingin melakukan perubahan dan mengikuti kegiatan atau aktivitas yang menentang mafia hukum dan korupsi di peradilan.

setelah lulus kuliah. Ia bergabung dengan Lembaga Swadaya Masyarakat antirusiah, Indonesia Corruption Watch (ICW).

Organisasi ini berisi orang-orang yang berkomitmen tinggi untuk menjegal korupsi. Di ICW, mirip saat aktif di kampus, Febri menjadi bagian program monitoring hukum dan peradilan. Tugasnya memonitor jalannya persidangan para pelaku korupsi di Indonesia. Selain itu, ia juga aktif menulis di kolom beberapa surat kabar terkemuka . Juga sering diundang dalam acara talkshow televisi sebagai aktivis dan pengamat hukum.

Pada tahun 2012, Febri pun dianugerahi Charta Politika Award dalam kategori pengamat. Ini karena dianggap sebagai orang paling berpengaruh pada tahun 2011.

Setelah itu, ia bergabung dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tentu setelah lolos serangkain ujian. Ia diterima di bagian pegawai Fungsional Direktorat Gratifikasi KPK.

Berbekal pengalaman dan penguasan persoalan korupsi, karier Febri makin naik. Pada 6 Desember 2016, Febri dilantik sebagai Kepala Biro Humas KPK, sekaligus juru bicara menggantikan pelaksana harian Yuyuk Andriati Iskak. Pelantikan langsung dikukuhkan oleh Ketua KPK Agus Rahardjo.

 

***

 

Sebelum membela SYL, eks pegawai KPK Febri Diansyah dan Rasamala Aritonang bergabung ke tim pengacara Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi. Saat menerima tawaran tersebut, Febri mengaku tidak mendapatkan tekanan dari manapun.

"Tidak, tidak ada dorongan (dari siapa pun)," kata Febri di Hotel Erian di kawasan Menteng, Jakarta Pusat (Jakpus), Rabu (28/9/2022).

Febri mengatakan menjadi kuasa hukum keluarga Ferdy Sambo merupakan pilihan profesional sebagai advokat.

Menurutnya, pengalaman dan pembelajaran yang didapatkannya selama ini sebagai advokat berpengaruh terhadap pemilihan keduanya menjadi pengacara di kasus ini.

Baca Juga: Menteri Bahlil Ancam Menteri, Diledek Mantan Menteri

"Jadi ini pilihan profesional. Pilihan profesional kami sebagai advokat sekaligus tentu saja apabila kami berbicara soal profesional menjadi advokat sekaligus berbicara dari segi etis," katanya.

"Seluruh pengalaman kami selama ini seluruh proses belajar kami dalam pengalaman kerja dan interaksi selama ini, itu pasti akan mempengaruhi bagaimana kami bisa menjadi kuasa hukum di sini," sambungnya

Ketika ditanya perihal bayaran yang didapatkan menjadi pengacara keluarga Ferdy Sambo, Febri hanya berbicara mengenai ujian sebagai advokat. Menurutnya, menjadi pengacara yang objektif merupakan ujian dalam menyelesaikan suatu kasus.

"Mungkin ada yang tidak percaya, 'apa iya misalnya lawyer bisa objektif?' Itu ujian bagi kami untuk bisa menerapkan dalam konteks perkara ini, dan bukan hanya perkara ini juga perkara-perkara yang lainnya," kata Febri.

"Itulah kami pikir tugas dari advokat ujiannya adalah memang ini seperti meniti jalan yang agak licin yang ya. Ujiannya bagi kami adalah bagaimana kami bisa konsisten memegang prinsip-prinsip tersebut," sambungnya.

"Kalau lawyer, advokat, itu kan memang independen, artinya dia memutuskan sendiri, memilih sendiri. Nah kami kan memang memberikan bantuan kepada mereka yang memang membutuhkan. Tentu setelah kami menilai juga bahwa apakah kasus ini misalnya ada peluang untuk melakukan pembelaan atau tidak. Nah itu semua akan kita review dulu, kita verifikasi dulu," katanya.

"Jadi memang ini keputusan independen dan tidak ada kaitannya dengan ada dorongan pihak lain atau pihak ketiga atau pihak manapun. Jadi prinsipnya ini keputusan independen dalam konteks profesi kami sebagai seorang advokat," tuturnya.

Ini testimoni Ferbi, menangani kasus SYL dan keluarga Fredy Sambo.

 

***

 

Berdasarkan pengakuan menangani dua kasus menarik perhatian publik itu, tersirat ada komitmen profesional Febri, dalam menjalankan dua profesi yang sebenarnya "berseberangan".

Baca Juga: "Dosa" Sekjen PDIP Hasto, Diincar dari Harun Masiku

Satu, record sebagai aktivis anti korupsi. Satunya jual jasa hukum membela tersangka korupsi dan kasus pembunuhan. Ada sikap atau etika profesional yang dijalankannya.

Menurut Cambridge Dictionary: arti profesional mengacu pada orang yang memiliki jenis pekerjaan yang disegani. Hal ini karena, untuk bisa menggelutinya, ia harus mengenyam pendidikan dan pelatihan khusus.

Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI: profesional adalah individu yang mempunyai kepandaian khusus dalam menjalankan tugas yang digelutinya.

Jelas, sikap profesional adalah kemampuan seseorang dalam menjalankan tugasnya sesuai dengan bidang yang ia tekuni.

Sikap atau keterampilan ini dijalani Ferbi, ternyata dapat mendukung pengembangan kariernya.

Menurut John C Maxwell dalam bukunya Success One Day At A Time, setidaknya terdapat 7 fakta di balik orang yang sukses dalam karier.

Pertama, orang sukses selalu membuat komitmen untuk tumbuh setiap hari. Namun ada satu dari kekeliruan yang orang buat adalah memiliki fokus yang salah.

Jadi seseorang harus membuat sasaran yang tepat untuk terus bertumbuh tiap hari. Secara teoritis, dengan membuat sasaran yang tepat akan membuat seseorang akan mulai melihat hasil positif dalam kehidupannya.

Prakteknya dijalankan Ferbi. Sudah sejak kuliah ia tertarik mendiagnose kasus kasus korupsi sampai tumbuh jadi aktivis anti korupsi.

Akal sehat saya menyerap dalam dirinya tumbuh suatu tekad memperbaiki mengeluarkan potensi diri soal korupsi.

Kini ia saat Metamorfosis jadi pengacara muncul penetasan diri pengacara tersangka korupsi. Hingga dibayar tersangka sekelas SYL total Rp 3,9 miliar.

Menyimak perjalanan karir Febri, ada passion pada dirinya. Ada tujuan dan rencana Febri sejak kuliah. Dan itu ia lakukan dengan penuh semangat dan konsisten, sehingga jadi public figure jasa hukum saat masih muda. Potret Febri, bisa ditiru generasi milenial dan Z. Semoga. ([email protected])

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU