Home / Kesehatan : Jaminan dari Menkes

Transplantasi di Indonesia, Makin Mudah!

author surabayapagi.com

- Pewarta

Senin, 10 Jun 2024 20:13 WIB

Transplantasi di Indonesia, Makin Mudah!

Telah Ditunjuk 17 Rumah Sakit Menangani Transplantasi Organ Ginjal, Kornea, Hati, dan Lainnya

 

Baca Juga: Menkes Tertawa, Jokowi Pilih Ketua Indonesia, Bukan Ketum Golkar

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan proses transplantasi organ di Indonesia saat ini semakin mudah diakses. Kemudahan ini diklaim berawal dari sahnya Undang-Undang No.17 Tahun 2023. Budi mengaku beberapa kali mendapat keluhan terkait sengkarut regulasi yang harus dijalani untuk melakukan transplantasi organ, di tengah kebutuhan mendesak pasien.

Karenanya, banyak yang kemudian memutuskan menjalani proses transplantasi di luar negeri.

"Dengan adanya regulasi ini, sekarang terbuka kesempatan untuk melakukan transplantasi di Indonesia," ujar Budi kepada wartawan, Minggu (9/6/2024).

Transplantasi organ turut diatur pelaksanaannya dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.53 Tahun 2021 tentang Transplantasi Organ dan Jaringan Tubuh.

Untuk dapat melakukan proses transplantasi, harus dilakukan di rumah sakit yang terstandar dan dilakukan oleh tenaga kesehatan yang resmi.

PP No. 53 Tahun 2021 tersebut menyatakan tahapan yang harus dilakukan saat pelaksanaan transplantasi organ

"Harus ada pemeriksaan kecocokan antara resipien dan pendonor," kata seorang dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) kepada koresponden Surabaya Pagi di Jakarta , Senin (10/6).

Dikatakan, selama ini transplantasi organ banyak dilakukan di luar negeri, karena dijadikan objek komersial. Padahal secara medik, transplantasi organ dilakukan atas dasar alasan kasih dan kemanusiaan. Dan dilakukan secara sukarela untuk menolong nyawa manusia lain objek komersial.

 

Terkait Transplantasi ginjal

Dokter pria berambut putih itu menyatakan, transplantasi ginjal memang bukan prosedur yang mudah. Diperlukan kesiapan yang matang baik dari sisi pendonor, penerima, penyelenggara atau rumah sakit yang ditunjuk. Selain kemampuan dari tim dokter terkait.

Ia ungkapkan berdasarkan data di rumah sakitnya, di Indonesia tingkat keberhasilan pasien 1 tahun setelah transplantasi mencapai 87% dengan angka fungsi ginjal sebesar 92%. Sementara itu, tingkat keberhasilan pasien 3 tahun pasca transplantasi adalah sebesar 79,7% dengan fungsi ginjal hingga 90,6%.

Dan dari ratusan pasien yang telah menjalani prosedur transplantasi ginjal, ia menyebut data daru Siloam Hospital Asri Jakarta.

Tercatat tingkat keberhasilan hingga 95.6% dengan fungsi ginjal 98.0%. Angka tersebut didapat dari pasien yang telah menjalani transplantasi hingga lebih dari 1 tahun.

Angka ini tentu sangat menggembirakan sebab tingginya persentase keberhasilan transplantasi tergolong sangat tinggi

"Penentu keberhasilan transplantasi ginjal lainnya yaitu pertimbangan genetik, obat imunosupresan, episode kejadian rejeksi akut, dan dosis steroid 3 bulan pertama setelah transplantasi ginjal," tambahnya.

 

Baca Juga: WHO Selidiki COVID Varian 'Eris', Picu Kematian Secara Tiba-Tiba?

Ada 17 Rumah Sakit

Menteri Kesehatan Budi Gunadi menambahkan, kini setidaknya telah ada 17 rumah sakit yang ditunjuk pemerintah sebagai fasilitas kesehatan yang mengutamakan prosedur transplantasi organ meliputi ginjal, kornea, hati, dan lainnya. Sayang

Menteri Kesehatan tidak menjelaskan nama nama ke 17 rumah sakit yang dimaksud.

Budi hanya menyebut regulasi, transplantasi di Tanah Air telah didukung fasilitas dan dokter yang mumpuni. Kemenkes pun menggandeng berbagai pihak, termasuk organisasi keagamaan untuk melakukan sosialisasi perihal transplantasi.

"Tujuannya agar pemahaman mendonorkan organ itu didukung," ucapnya. "Kita akan bikin register orang membutuhkan, orang yang mau donor, diatur pemerintah, enggak ada jual beli, rapi, transparan," tegas Menkes.

 

Testimoni Pasien Transplantasi Ginjal

Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang hadir pada kesempatan memberi testimoni di gedung DPR kawasan Senayan, Jakarta, Minggu (9/6/2024) .

Pria yang akrab disapa Oso ini merupakan mantan pasien transplantasi ginjal. Oso yang mendapatkan donor ginjal dari keluarga, sempat berpikir untuk melakukan transplantasi ke luar negeri. Namun, berhubung dunia dilanda pandemi Covid-19, Oso melakukan transplantasi ginjal di RSCM Jakarta.

Ia pun mengamini Menkes, dengan mengatakan Indonesia punya banyak dokter spesial organ dalam yang mampu melakukan transplantasi. Kualitas dokter-dokter dan fasilitas rumah sakitnya pun tidak kalah dengan yang ada di luar negeri.

Baca Juga: Perundungan Calon Dokter Spesialis, Kisah Feodalisme

"Setelah saya melakukan itu pada 4 Oktober 2021, wah luar biasa. Saya menyesal berpikir tentang ke luar negeri," ujar Oso.

 

RSCM Sediakan Obat Pasien

Tantangan selanjutnya, diakui Budi adalah persoalan ketersediaan obat pasien transplantasi ginjal yang belum lengkap di Tanah Air. Namun, ia mengklaim Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sebetulnya sudah menyediakan kebutuhan obat pasien.

Dalam kesempatan yang sama, dr Gerhard Reinaldi Situmorang, SpU(K), menyebut jenis transplantasi organ di Indonesia juga terus bertambah, kini bisa melakukan transplantasi sel dan jaringan. Begitu pula dengan usia yang bisa mendapatkan transplantasi organ.

 

Operasi Pendonor Lebih Singkat

"Misalnya pada transplantasi ginjal yang sebelumnya hanya dapat dilakukan pada dewasa kemudian dapat dilakukan pada anak, sedangkan transplantasi hati yang pada awalnya hanya dilakukan pada anak kemudian dapat dilakukan pada dewasa," sebutnya.

"Secara teknis, operasi untuk pendonor kini lebih singkat masa rawatnya karena menggunakan teknik terbaru, pemantauan resipien pasca-operasi juga dilakukan secara lebih intensif dengan tingkat komplikasi untuk resipien dan donor yang jauh lebih rendah. Angka kesintasan para resipien transplantasi ini juga makin tinggi karena majunya teknologi kesehatan dan obat-obatan. Hal lain yang perlu diketahui juga adanya kesempatan untuk melakukan proses transplantasi organ dari donor yang berbeda golongan darah atau disebut sebagai ABO incompatible," jelasnya. n jk/erc/rmc

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU