Home / Ekonomi dan Bisnis : Akuisisi Perusahaan Beras di Kamboja

Bapanas: Tak Pengarugi Stok Pangan Nasional

author surabayapagi.com

- Pewarta

Jumat, 14 Jun 2024 19:22 WIB

Bapanas: Tak Pengarugi Stok Pangan Nasional

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo menyebut penjajakan Indonesia untuk mengakuisisi perusahaan beras di Kamboja bersifat transaksi bisnis tanpa mempengaruhi stok pangan nasional.

"Nomor 1 itu pasti prioritas produksi dalam negeri, sudah pasti," kata Arief Prasetyo usai menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakornas) Pengendalian Inflasi di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (14/6).

Baca Juga: Dugaan Mark Up Impor Beras, Grand Corruption

Ia mengatakan transaksi bisnis yang terjadi antara satu perusahaan ke perusahaan lain lintas perbatasan negara lazim dilakukan oleh berbagai negara.

"Itu kan dilakukan oleh China, Malaysia, punya ranch di Australia, di Tiongkok, itu cross boarder untuk beberapa negara yang tidak memungkinkan dilakukan di negaranya," katanya.

Namun, Arief memastikan penjajakan akuisisi perusahaan beras di Kamboja merupakan bagian dari business to business, dengan skala prioritas produksi dalam negeri.

Baca Juga: Bapanas Dorong Percepat Penyusunan Perpres SSP

Pemenuhan stok beras dalam negeri dipastikan Arief menjadi prioritas utama, berdasarkan berbagai kebijakan pemerintah dalam meningkatkan produksi pangan nasional.

"Sekarang kan nomor satu produksi dalam negeri, buktinya ada 20 ribu pompa, waduk, Jalan Usaha Tani, pupuk dari 4,7 ke 9,5 juta ton, waduk dibangun 61 unit, saluran primer, sekunder, tersier pun dibangun, cetak sawah, benih. Itu kan artinya kita dorong produksi dalam negeri," katanya.

Dikatakan Arief, akuisisi perusahaan beras Kamboja juga bermanfaat bagi Indonesia sebagai bahan penelitian dan riset.

Baca Juga: Kepala Bapanas dan Dirut Bulog Dilaporkan ke KPK

Kerja sama tersebut juga tidak akan menggerus stok pangan nasional, sebab Bulog menjaga konsistensinya terhadap persediaan minimal 1 juta ton untuk kebutuhan masyarakat di Indonesia.

"Barang itu ada, tetapi tidak mesti untuk Indonesia. Indonesia kalau memerlukan kan akan lebih mudah, tapi kalau tidak memerlukan, biarkan internasional trading," katanya. 

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU