Menkes Ikuti Gaya Hidup FOMO

author surabayapagi.com

- Pewarta

Senin, 24 Jun 2024 10:42 WIB

Menkes Ikuti Gaya Hidup FOMO

i

Meski diusia 60 tahun, Menkes Budi Gunadi antusias mengikuti BTN Jakim 2024 pada Minggu (23/6/2024). SP/ pradita

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, Tergiur Sampai Ikut  Lari Marathon Rutin. Bahkan akan Ikut Berlin Marathon September Mendatang


SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin,mengaku dilanda fenomena 'fear of missing out' alias FOMO. Fenomena psikologis ini mendorongnya ikuti marathon kategori 10K, BTN Jakarta International Marathon (Jakim) 2024 di Jakarta Pusat, Minggu (23/6/2024).

Baca Juga: Tren Covid-19 Naik, Tapi tak Timbulkan Kematian

Budi mengungkapkan keturutsertaannya dalam BTN Jakim 2024 adalah dalam rangka persiapan menjelang Berlin Marathon yang bakal digelar September mendatang.

Persiapan mengikuti Berlin Marathon, ia rutin berlari sejauh 42,195 km untuk pertama kalinya di usia 60 tahun. Menkes juga rajin mengikuti race atau lomba lari.

Ke depan, Budi juga berambisi untuk bisa menyelesaikan enam event marathon terbesar atau World Major Marathon (WMM). Keenam event tersebut adalah Berlin Marathon, Tokyo Marathon, Boston Marathon, London Marathon, Chicago Marathon, dan New York City Marathon.

"Mudah-mudahan bisa beresin 6 marathon besar dunia itu, kita bisa beresin sebelum usia 65 tahun," harapnya.

Menurutnya, lari marathon tidak bisa diikuti secara asal-asalan.

Istilah FOMO pertama kali diperkenalkan oleh Patrick McGinnis, seorang penulis asal Amerika Serikat. Waktu kuliah di Harvard Business School tahun 2003,  Patrick beranggapan bahwa tahun itu merupakan era di mana manusia berada di dalam dotcom bubble.

Dotcom bubble?

Ketika Teknologi Berkembang Pesat

Baca Juga: Pj Wali Kota Kediri Zanariah Terima Penghargaan dari Menteri Kesehatan

Ini  sebutan ketika teknologi dan internet sedang berkembang pesat. Ditambah kehadiran Friendster, media sosial paling hits di jamannya.

Patrick  berpikir kalau kemunculan Friendster dan internet mempengaruhi manusia untuk live to the fullest alias tidak ingin kehilangan momen apapun.

Di kampusnya, Patrick juga ketemu orang-orang beraktivitas lari. Murid di sana berusaha untuk terlihat paling gaul dan update. Mereka nggak pengen ketinggalan tren, berita, atau apapun yang lagi ramai dibicarakan.

Dan Patrick memutuskan untuk menulis sebuah artikel yang berjudul  “Social Theory at HBS: McGinnis’ Two FOs” pada tahun 2004. Di artikel inilah kata FOMO pertama kali muncul.

FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yang berarti kecemasan jika kehilangan momen atau informasi.

Negatifnya Gaya Hidup FOMO

Baca Juga: Rawat Inap BPJS, Ruangan Maksimal Berempat

Dikutip dari akun Brain Academy (March 15, 2024) gaya hidup FOMO dapat menyebabkan seseorang merasa tertinggal dan berpikir bahwa kehidupan orang lain di media sosial lebih menyenangkan dibanding hidupnya sendiri. Itu sebabnya, mereka berusaha mengikuti tren demi terlihat bahagia dan keren.

Penyebab FOMO tak lain adalah media sosial. Misal Coldplay ngumumin bakal konser ke Indonesia tahun lalu? Tiketnya langsung sold out dalam hitungan menit! Meskipun fans Coldplay banyak, tak sedikit yang membeli tiket tersebut hanya karena FOMO alias nggak mau ketinggalan euforia konser.

Selain Coldplay, media sosial juga menampilkan tren lain di bidang makanan, wisata, fashion, sampai gaya hidup.

Ingat Kue Odading Mang Oleh? Sekilas tampak biasa saja, tetapi karena viral di Tiktok, banyak orang yang rela antre untuk membeli demi mengunggahnya ke media sosial.

Nyatanya FOMO dapat menimbulkan efek negatif seperti Insecure. Merasa tidak percaya diri dengan kondisinya. Penyebab insecure bukan hanya fisik, melainkan juga dapat berasal dari finansial, gaya hidup, hubungan, dan lain sebagainya. Awalnya,  merasa iri ketika melihat kehidupan orang lain di Instagram yang terkesan sempurna. Lambat laun, kita jadi insecure dan menganggap hidupnya nggak ada apa-apanya dibanding mereka. n jk/erc/rmc

Editor : Desy Ayu

BERITA TERBARU