Krisis Pangan Mengancam, 45 Juta Jiwa Penduduk Indonesia Rawan Kelaparan

author surabayapagi.com

- Pewarta

Rabu, 26 Jun 2024 20:07 WIB

Krisis Pangan Mengancam, 45 Juta Jiwa Penduduk Indonesia Rawan Kelaparan

i

Mentan Andi Amran Sulaiman pada Musrembangtannas 2024 di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Selasa (25/6/2024).

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Indonesia berpotensi terkena krisis pangan hingga menyebabkan kelaparan. Sinyal ini datang dari Menteri Pertanian Amran Sulaiman, saat ia mengisi acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian Nasional Tahun 2024 di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa (25/6/2024).

"Kita harus menggenjot produksi pangan dalam negeri," tambah seorang Dirjen di Kementan, Rabu (26/6/2024).

Baca Juga: Mentan: Kolaborasi Semua Pihak Kunci Tangani Krisis Pangan

Menurut Amran, hal ini dapat terjadi jika pemerintah tidak segera menggenjot produk pangan selama tiga bulan ke depan, yakni Juli, Agustus, dan September.

Menurutnya krisis kelaparan ini bisa mempengaruhi 7-16% penduduk Indonesia. Dengan jumlah penduduk Indonesia pada 2024 ini mencapai 281.603.800 jiwa, artinya sekitar 19.712.266-45.056.608 jiwa rawan kelaparan.

"Saat ini sudah ada 59 negara terancam rawan kelaparan, ada 10 negara sudah kelaparan. Saudara kita, kita cek tadi bertambah lagi ada 970 juta (orang) kelaparan saat ini. Ini ada beberapa negara, Kongo, Nigeria, Sudah, Afganistan, dan seterusnya. Ini kondisi kelaparan saat ini, Indonesia termasuk rawan, rentan kelaparan 7-16%" ingatnya.

 

Tiga Program Mentan

Untuk mengatasi permasalahan ini Amran menyebut pihaknya sudah menyiapkan tiga program unggulan yang dapat membantu tingkat produksi pangan dalam negeri dan sudah berjalan. Yakni program pompanisasi sawah, program opla (optimalisasi lahan pertanian), dan terakhir program padi gogo.

Untuk program pompanisasi ia menyebut saat ini pemerintah sudah membagikan sekitar 24.000 unit pompa air ke wilayah-wilayah pertanian untuk segera dipasang. Selain itu, pihaknya juga sudah menyiapkan 46.000 unit pompa lainnya yang siap untuk dibagikan ke berbagai daerah.

"Tapi tolong yang minta pompa dulu jangan yang tidak punya sungai, jangan yang sungainya sudah kering minta pompa. Apanya yang mau dipompa? Bapak mau saling pompa? Jangan, aku temukan di daerah 'mana pompanya?','ini pak','terus mana airnya?','kering pak', lah kenapa minta pompa?," ucapnya.

"Tolong yang ada mengalir air sepanjang tahun diprioritaskan, dan pak Dirjen (Alat dan Mesin Pertanian) jangan dibatasi ya. Tapi tolong yang tidak ada air jangan dulu minta pompa, jangan aji mumpung," tegas Amran.

Meski begitu Amran sadar betul jika ketiga program ini tidak bisa berjalan tanpa ada kerja sama dari lembaga pemerintahan lain, khususnya Pemerintah Daerah baik di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.

Karenanya ia meminta dengan sangat agar setiap pemda dapat memantau dan turun langsung dalam mengamankan komoditas pangan di wilayahnya masing-masing.

Baca Juga: Antisipasi Kekeringan Panjang, Pompanisasi Dimasifkan

 

Peristiwa Gagal Panen

Dikutip dari website Greenpeace, 27 September 2022, di Indonesia, berbagai peristiwa gagal panen akibat cuaca ekstrim semakin sering ditemukan. Salah satu kasus yang sangat mengkhawatirkan ketika embun beku di Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya, Papua hingga mengakibatkan rusaknya lahan pertanian masyarakat dan terjadinya gagal panen. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sekitar 500 lebih kepala keluarga mengalami kelaparan, bahkan beberapa telah meregang nyawa.

Kenaikan suhu global, mengakibatkan kondisi cuaca yang tidak menentu. Para petani bawang merah di Brebes, harus rela kehilangan kesempatan panen hampir 50 persen dari yang seharusnya mereka panen akibat hujan ekstrim. Begitu juga dengan petani cabe, hampir di semua wilayah Jawa dan Sumatera yang menderita kerugian akibat hujan ekstrim.

Gagal panen akibat cuaca ekstrim semakin sering terjadi di Indonesia. Masyarakat harus menanggung biaya lebih untuk memperoleh pasokan karbohidrat, protein, dan serat. Sementara, lonjakan harga pangan, tidak pernah benar-benar mendatangkan kesejahteraan bagi petani. Petani, justru ikut menderita kerugian karena hasil panen yang tidak maksimal. Sementara, mereka harus tetap menanggung biaya produksi yang semakin tinggi.

 

Panen Padi saat Banjir

Baca Juga: Optimasi Pompanisasi Wujudkan Swasembada Pangan Indonesia

Petani memanen padi di sawah yang banjir di Desa Kasihan, Sukolilo, Pati, Jawa Tengah. Di tahun 2019, lebih dari 200 hektar sawah di area ini banjir setelah hujan deras selama tiga hari.

Situasi yang menimpa warga Lanny Jaya, dan beberapa daerah di Indonesia lainnya adalah potret krisis pangan. Secara global pada 2021 terdapat 828 juta orang terkena dampak kelaparan, atau 46 juta orang lebih banyak dari tahun sebelumnya dan 150 juta lebih dibanding 2019 (FAO, 2022).

Angka orang terdampak kelaparan tersebut menurut FAO nyaris tidak berubah sejak 2015, bahkan porsi nya mengalami lonjakan pada 2020 dan terus meningkat pada 2021, menjadi 9,8 persen dari populasi dunia. Sementara 11,7 persen dari populasi global (924 juta) mengalami kerawanan pangan pada tingkat parah, selama dua tahun terakhir terjadi peningkatan sebesar 207 juta. Ia menambahkan bahwa penyebab krisis pangan di antaranya adalah lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi kawasan industri, perumahan, jalan tol, dan infrastruktur lainnya. Lahan pertanian semakin menyusut menyebabkan produksi pertanian juga ikut turun.

 

Beras Sebagai Pangan Utama

Indonesia memiliki sejarah panjang pemusatan jenis pangan dan proyek industrialisasi pangan ini. Semasa Orde Baru, pemerintah telah mendorong proyek-proyek menjadikan beras sebagai pangan utama. Proyek ini terus berlangsung hingga saat ini, lewat proyek pengembangan lahan-lahan pertanian sawah. n erc/jk/cr3/rmc

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU