Petani Indonesia saat ini Masih Didominasi Golongan Tua Lebih 70 Persen. Beda dengan Petani Milenial yang Pendapatannya sebesar Rp 24 juta
SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, posisi petani jadi perhatian. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman perintahan menindak tegas distributor pupuk subsidi yang mempersulit petani. Salah satunya distributor pupuk subsidi itu meminta kartu tani sebagai syarat mendapat pupuk subsidi.
Padahal, menurut Amran, petani cukup memberikan KTP saja. Pernyataan ini disampaikan saat Dialog bersama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta.
Awalnya, ada laporan dari HKTI Yogyakarta terkait distributor pupuk subsidi di Kabupaten Sleman yang menolak melayani petani tanpa kartu tani. Padahal pemerintah telah menetapkan bahwa penebusan pupuk subsidi cukup menggunakan KTP.
"Cukup pakai KTP aja, tidak usah kartu tani," tegas Amran dalam keterangan tertulis, Rabu (17/12/2025).
Setelah mendapat informasi bahwa distributor yang dimaksud berada di wilayah Sleman, Amran langsung memerintahkan pencabutan izin kepada Dirjen Prasarana dan Sarana Pertaniaan agar praktik yang mempersulit petani tidak boleh lagi terjadi dan harus dihentikan.
"Cepat, segera cabut izinnya Pak Dirjen hari ini. Telepon managernya sekarang. Kalau tidak dicabut izinnya, lebih parah kalau Pak Dirjen yang saya cabut jabatannya," tegas Amran.
Regulasi Penyaluran Pupuk Subsidi
Saat ini pemerintah telah melakukan penyederhanaan regulasi dalam penyaluran pupuk subsidi agar tidak lagi menyusahkan petani. Melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 1 Tahun 2024 dan diperkuat oleh Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025, sistem pupuk bersubsidi yang sebelumnya diatur oleh lebih dari 145 regulasi lintas instansi baik pemerintah pusat maupun daerah, kini disederhanakan menjadi satu kebijakan nasional yang terpadu.
"Dulu ada 145 regulasi, sekarang dari produsen langsung ke petani. Saya minta HKTI kawal ini semua," tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Amran juga menegaskan peran HKTI sebagai mitra pemerintah dalam mengawal kebijakan pertanian di lapangan. Dirinya mengingatkan agar seluruh pihak mematuhi kebijakan dan tidak mempersulit petani.
"Sudah lama aku beritahu, petani jangan dipersulit. Jangan biarkan rakyat berteriak-teriak," ujar Amran.
Menutup dialog, Amran menegaskan komitmen pemerintah untuk terus melindungi petani. "Petani kita, semua anak kita, kita akan perhatikan," pungkas Amran.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut saat ini anak muda, terutama generasi milenial sudah banyak yang menjadi petani. Menurutnya, sebanyak 416.000 milenial telah menjadi petani berbagai komoditas.
Amran mengatakan karena capaian itu, Kementan diberikan Museum Rekor Indonesia (MURI). Karena menurutnya, sebelum ini jumlah anak muda yang menjadi petani sangat sedikit.
"Ini dapat MURI, yaitu milenial ada 416 ribu ikut sekarang. Mereka yang menilai, aku kaget datang tiba-tiba memberikan penghargaan MURI. Ini adalah cambuk untuk melompat lagi, dan ini juga beban," kata dia dalam konferensi pers usai acara Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Kementan, Selasa (16/12/2025).
Ungkap Pendapatan Petani Milenial
Amran mengatakan pendapatan petani milenial menurut testimoni yang didapat sebesar Rp 24 juta hingga Rp 20 juta per bulannya. Ia menyebut, pendapatan itu sudah bersih dalam sebulan.
"Yang kemarin testimoni ya, yang testimoni di Papua itu Rp 20 juta bersih per bulan. Kalimantan Timur Rp 24 juta. Aceh Rp 20 juta," ungkapnya.
Pemerintah menargetkan petani anak muda akan semakin bertambah. Targetnya dapat mencapai 1 juta milenial.
"Target 1 juta milenial ke depan. Ini tertinggi dalam sejarah tingkat dunia," jelas dia.
Program penumbuhan petani milenial kerap terhenti karena para petani pemula sulit memenuhi skala ekonomi lahan minimum.
Petani ditemani keluarganya saat mengolah lahan pertanian yang akan ditanami kembali di Desa Lencoh, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (3/5/2024). Petani di kawasan sentra penghasil sayuran itu menyikapi awal musim kemarau dengan mengganti tanaman di lahan mereka dengan tanaman yang hanya membutuhkan sedikit air.
Masih Didominasi Golongan Tua
Petani Indonesia saat ini masih didominasi golongan tua dengan lebih 70 persen petani telah berusia di atas 43 tahun. Demi regenerasi petani, Kantor Staf Presiden atau KSP berkomitmen mendorong generasi Gen Z menjadi petani. Namun, akademisi menilai generasi muda enggan bertani karena minimal harus punya sawah 1 hektar agar bisa hidup layak.
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menegaskan, program regenerasi petani harus dilakukan secara inklusif dan kolaboratif guna mempercepat prosesnya. ”Dengan semakin tuanya demografi petani saat ini, terdapat kebutuhan mendesak untuk mendorong generasi muda agar tertarik masuk sektor agraris sebagai pilihan karir,” kata Moeldoko dalam keterangan pers tertulis yang dirilis pada Kamis. n ec/jk/rmc
Editor : Moch Ilham