SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengarahkan Yayasan BUMN untuk bertransformasi merespons isu masa depan berupa layanan kesehatan serta lingkungan hijau yang berkelanjutan di Indonesia.
Pernyataan itu dikemukakan Menteri BUMN Erick Thohir dalam agenda Relaunching Yayasan BUMN bertempat di Gedung Sarinah, Jakarta Pusat, Jumat (5/7) sore.
"Sejalan transformasi Kementerian BUMN, kami dorong Yayasan BUMN untuk bertransformasi melihat isu-isu masa depan, mengenai isu hijau, atau isu kesehatan yang dialami ibu dan anak," kata Erick Thohir dalam pidato sambutannya.
Topik seputar kesehatan yang diangkat dalam kegiatan itu, salah satunya berkaitan dengan peningkatan status gizi perempuan Indonesia.
Seperti diketahui, malnutrisi pada ibu merupakan faktor risiko terjadinya stunting. Memperbaiki status nutrisi pada ibu, dapat mengurangi angka stunting sampai dengan 20 persen berdasarkan rekomendasi WHO (Organisasi Kesehatan Dunia).
Data Bank Dunia mengestimasikan prevalensi balita stunting di seluruh dunia sebesar 22,3 persen atau sebanyak 148,1 juta jiwa pada 2022. Lebih dari setengah balita stunting di dunia berasal dari Asia (76,6 juta) dan sekitar 30 persen (63,1 juta) berasal dari Afrika.
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, rata-rata nasional mencatat prevalensi stunting sebesar 21,5 persen dan telah terjadi penurunan prevalensi stunting di Indonesia selama 10 tahun terakhir (2013-2023).
Tantangan lain isu kesehatan di Indonesia, kata dia, menyangkut kesehatan mental dalam rangka mewujudkan Indonesia Emas 2045. Yayasan BUMN ditantang untuk menghadirkan solusi atas kasus depresi sebagai penyebab utama disabilitas pada remaja.
Data SKI 2024 mengungkap depresi dapat menjadi penyebab bunuh diri dan bunuh diri merupakan penyebab keempat kematian pada remaja di dunia. Kebanyakan dari gangguan psikologis tersebut tidak disadari dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Yayasan BUMN mengincar peluang inovasi di bidang agroteknologi untuk sistem pangan yang berkelanjutan, aman, dan inklusif. Agritech pun memiliki potensi untuk menambahkan 350 miliar dolar AS pada produksi pangan global (McKinsey).
Editor : Moch Ilham