Dikejar BNN-Bareskrim Sejak Tahun 2015, Fredy Pratama Belum Tertangkap dan Lebih Lihai

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Dalam rilis Rabu (10/7), Bareskrim Polri, secara tidak langsung mengakui kelihaiannya bandar narkoba internasional Fredy Pratama.

Meski belum ditangkap,  Fredy, dideteksi  Bareskrim Polri, masih menyelundupkan narkoba ke wilayah Indonesia. Luar biasa!

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Mukti Juharsa mengaku pihaknya mendeteksi perubahan pola penyebaran narkoba yang dilakukan Fredy.

Ia menyebut perubahan modus tersebut dilakukan Fredy usai mayoritas anak buah dan jaringannya yang ada di Indonesia berhasil ditangkap.

"Pola mereka (jaringan Fredy) sudah mulai berubah, tapi kita sudah mengetahui perubahan pola mereka," ujarnya kepada wartawan, Rabu (10/7).

Berdasarkan pengamatan advokat yang juga manager program Yayasan Aksi Keadilan Indonesia, Kris Penabulu, Kepolisian Indonesia dinilai lamban menindak gembong narkotika jaringan Fredy Pratama lantaran baru menerbitkan red notice setelah 9 tahun menjadi buron yaitu tahun 2025.

Sejak tahun itu nama Fredy Pratama kerap disebut dalam pemeriksaan kasus-kasus penyalahgunaan narkoba dan dianggap memiliki keterkaitan dengan peredaran gelap narkotika.

 

Brigadir Mukti Juharsa, Menampik

Tapi Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Polisi Mukti Juharsa, menampik sangkaan itu. Kata dia, Polri baru menyidik kasus Fredy Pratama pada Mei 2023.

Sebelum itu, Bareskrim Polri menyebut Fredy Pratama merupakan warga negara Indonesia dari Kalimantan Selatan, yang diincar Badan Narkotika Nasional (BNN). Freddy dideteksi

mengedarkan narkoba dari Thailand ke Indonesia.

Berdasarkan catatan data perlintasan keimigrasian, pria dengan julukan Cassanova ini meninggalkan Indonesia sejak 2014.

Mulanya Fredy disebut masih mengelola aset keuangannya untuk dikirim ke luar negeri menggunakan rekening keluarga serta orang terdekatnya pada 2016

Karena istri adalah orang Thailand dan mertuanya diduga kartel narkotika di daerah Thailand," ungkap Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Polisi Mukti Juharsa.

 

Sandi 'Operasi Escobar'

Fredy, sambungnya, disebut mengambil produk mereka dari kawasan Segitiga Emas -kawasan di Asia Tenggara yang menjadi pusat perekonomian narkoba dan sumber penting narkotika dunia.

Mengutip situs US Department of Justice, Segitiga Emas mencakup sebagian Myanmar, China, Laos, Thailand.

Dari kawasan itulah jaringan Fredy diduga mengemas narkoba untuk dibawa ke Malaysia dan Indonesia.

Bareskrim uber sindikat narkoba Fredy Pratama dimulai sejak Mei 2023 yang diberi nama 'Sandi Operasi Escobar'.

Tapi jauh sebelumnya, kata Kabareskrim Polri Komjen Wahyu Widada, polisi telah telah menelusuri jejaknya dari pengungkapan kasus tindak pidana narkoba dari tahun 2020-2023.

Dalam rentang tahun itu setidaknya ada 408 laporan dengan total barang bukti yang disita mencapai 10,2 ton sabu.

Lewat operasi itu pula, Polri berhasil mengungkap jaringan narkoba internasional Fredy dengan menangkap setidaknya 39 orang.

 

Libatkan Selebgram asal Palembang

Salah satu tersangka dari penangkapan itu adalah seorang selebgram asal Palembang Adelia Putri Salma yang juga dikenal sebagai 'ratu narkoba' bersama suaminya Khadafi yang sedang mendekam di penjara.

Selain selebgram, jaringan Fredy juga menyasar anggota polisi yakni Kasat Narkoba Polres Lamung Selatan, AKP Andri Gustami

 

Perubahan Pola Penyelundupan Fredy

Mukti tidak menjelaskan lebih jauh ihwal perubahan pola yang dilakukan Fredy itu. Ia hanya menyebut hal itu berkaitan dengan proses penyelundupan sabu milik Fredy ke Indonesia.

"Kemasan masih sama cuma cara dia masuk ke Indonesia itu yang berbeda. Ini sudah kita kantongi semua. Nanti kita dengan Bea Cukai akan melakukan operasi gabungan lagi," katanya.

Bareskrim turut menyita total sebanyak 10,2 ton sabu yang terafiliasi jaringan Fredy Pratama di Indonesia selama periode 2020-2023.

Berdasarkan barang bukti yang ada, sosok Fredy Pratama disebut masuk sebagai salah satu sindikat penyalur narkotika terbesar di Indonesia.

Dari hasil analisa Direktorat Tindak Pidana Narkoba didapati bahwa mayoritas narkoba di Indonesia terafiliasi dengan jaringan Fredy.

Setiap bulannya, sindikat Fredy disebut mampu menyelundupkan narkoba jenis sabu dan ekstasi masuk ke Indonesia dengan jumlah mulai dari 100 kg sampai 500 kg dengan modus operandi menyamarkan sabu ke dalam kemasan teh. n jk/erc/rmc

Berita Terbaru

2 Korporasi Malaysia dan Singapura Tersangka Karhutla

2 Korporasi Malaysia dan Singapura Tersangka Karhutla

Jumat, 30 Okt 2026 03:20 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 03:20 WIB

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - 20 korporasi sebagai tersangka dalam kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dari daftar tersebut, empat di antaranya merupakan…

Sepuluh Staf Terima Uang di Luar Gaji

Sepuluh Staf Terima Uang di Luar Gaji

Jumat, 30 Okt 2026 03:18 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 03:18 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya — Pengakuan sepuluh staf bidang pertambangan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur yang menerima uang di luar gaji d…

ESDM JATIM DIDUGA TERIMA PUNGLI RP 687,5 JUTA

ESDM JATIM DIDUGA TERIMA PUNGLI RP 687,5 JUTA

Jumat, 30 Okt 2026 03:15 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 03:15 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur mendalami dugaan aliran dana pungutan liar (pungli) sebesar Rp 687,5 juta kepada mantan…

Jokowi Minggu Depan Siap Jadi Saksi Roy Suryo

Jokowi Minggu Depan Siap Jadi Saksi Roy Suryo

Jumat, 30 Okt 2026 03:13 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 03:13 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Saya sangat menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Kalau memang diundang, ya saya Insya Allah akan hadir,” kata Jokowi k…

Hashim Ingatkan Risiko Pelemahan Rupiah Jika Isu MSCI Tak Diselesaikan

Hashim Ingatkan Risiko Pelemahan Rupiah Jika Isu MSCI Tak Diselesaikan

Jumat, 30 Okt 2026 03:11 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 03:11 WIB

SURABAYAPAGI.com - Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia Hashim S. Djojohadikusumo mengingatkan potensi pelemahan nilai tukar rupiah akibat derasnya aliran…

Beras Oplos Berulang, Amran Wanti-Wanti Risiko Pidana

Beras Oplos Berulang, Amran Wanti-Wanti Risiko Pidana

Jumat, 30 Okt 2026 03:09 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 03:09 WIB

SURABAYAPAGI.com - Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman akan menyebar surat edaran (SE) mengenai potensi sanksi pidana…