SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Di era elektrifikasi saat ini banyak dimanfaatkan pabrikan otomotif China yang saat ini membludak di pasaran dunia. Melihat fenomena tersebut, Mitsubishi Motors Jepang dikabarkan akan bergabung dengan aliansi antara Honda Motor dan Nissan Motor, Selasa (30/07/2024).
Pasalnya, pada 2023 diketahui Honda dan Nissan masing-masing hanya berhasil menjual 19.000 dan 140.000 unit BEV (Battery Electric Vehicle) secara global, tertinggal jauh dari Tesla dan BYD di angka 1,8 juta dan 1,57 juta unit.
Dorongan kerjasama ketiga perusahaan ini muncul, setelah Nisan kehilangan pangsa pasar di dua negara terbesarnya, yaitu Amerika Serikat dan China yang bersama-sama menyumbang setengah dari penjualan globalnya dalam setahun, hingga Maret (fiskal).
Terbarunya dilaporkan oleh Nikkei Asia belum lama ini Mitsubishi gabung aliansi Honda dan Nissan, merespon pesatnya perkembangan otomotif China. Oleh karena itu perlu ada langkah penyesuaian diambil pabrikan Jepang agar bisa tetap bersaing di pasar otomotif global dengan penjualan gabungan lebih dari 8 juta unit kendaraan.
Sedangkan melansir dari Reuters, Mitsubishi Motors yang 34 persen sahamnya dimiliki oleh Nissan, akan kerja sama dengan Honda dan juga Nissan untuk menyelesaikan rincian kemitraan strategisnya. Ketiga perusahaan ini bermaksud untuk menstandarisasi perangkat lunak di kendaraan yang dapat mengendalikan mobil.
Sementara itu, diketahui saat ini Honda sudah memperkenalkan dua model hybrid dan pada gelaran GIIAS 2024 memboyong e:N1, SUV listrik pertama yang dipamerkan untuk masyarakat Indonesia. Mobil itu dikonfirmasi meluncur 2025.
Sedangkan Nissan sudah lebih dulu menjual mobil listrik yakni Leaf. Namun memiliki lebih banyak lini hybrid, terbarunya adalah MPV (Multi Purpose Vehicle) Serena e-Power dan pakai teknologi sama seperti Kicks. Lalu, Mitsubishi masih fokus tawarkan mobil bensin. Lini kendaraan listriknya justru mengisi segmen komersial yaitu L100 EV. jk-04/dsy
Editor : Desy Ayu