SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Sejak pekan lalu, media sosial dihebohkan dengan seruan penarikan uang tabungan dari Himbara atau Bank BUMN. Hal ini berkaitan dengan peluncuran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Seruan tarik uang tabungan dari bank-bank pelat merah, marak di media sosial. Seruan ini menyusul pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anaganta Nusantara (BPI Danantara).
Danantara mengelola investasi dari dividen 65 BUMN. Tiga dari puluhan BUMN itu adalah bank perusahaan pelat merah raksasa, yaitu Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Nasional Indonesia (BNI).
Tanggapan Istana
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi mempertanyakan keabsahan gerakan tersebut. Sebab menurutnya sampai saat ini belum ada masyarakat yang benar-benar menarik dananya dari bank-bank Himbara karena gerakan tersebut.
"Sudah terjadi belum? Ada nggak? Ya ada orang-orang kaya gitu, gini saja, sekarang ada nggak faktanya? Kalau ada sudah jadi berita," katanya saat ditemui wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (24/2/2025).
Alih-alih mengalami penolakan, menurut Hasan peluncuran Danantara hari ini malah mendapatkan dukungan besar dari dunia ekonomi dan politik secara utuh. Hal ini ditandai dari hadirnya seluruh elemen terkait seperti perwakilan lembaga negara, para pelaku usaha, hingga perwakilan dari negara asing.
"Mantan-mantan presiden hadir, tokoh-tokoh bangsa hadir, seluruh kekuatan politik hadir, lembaga-lembaga negara tadi hadir, perwakilan-perwakilan asing tadi hadir, para pelaku-pelaku ekonomi hadir. Ini lembaga ketika diluncurkan mendapatkan dukungan dari komponen stakeholder," ucapnya.
Dikhawatirkan Seperti Kasus 1MDB
BP Danantara diketahui akan mengelola penghematan anggaran untuk APBN 2025 yang dilakukan Kementerian/Lembaga serta dividen BUMN. Diperkirakan badan ini total akan mengelola aset senilai US$ 900 miliar atau sekitar Rp 14.715 triliun (kurs Rp 16.350).
Pemberitaan mengenai peluncuran BP Danantara ini menimbulkan beragam respons dari masyarakat, salah satunya kekhawatiran bahwa badan tersebut akan berakhir seperti kasus 1MDB yang pernah mengguncang Malaysia.
Sebagian cuitan warganet dengan keras menyerukan agar segera menarik tabungan dari bank BUMN ke bank swasta. Ada pula yang menentang seruan ini, karena tarik uang massal dari bank bisa berdampak buruk bagi perekonomian nasional.
Pejabat di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeklaim "sampai saat ini tidak ada penarikan-penarikan seperti itu".
Akun @terseponah berada di tengah keriuhan ajakan menarik uang dari bank BUMN di platform X—dulu bernama Twitter.
"Bukannya enggak mengerti sama konsep Danantara, cuma meminimalisir worst case saja. Toh, enggak ada yang tahu Danantara ke depannya bakal berhasil apa enggak kerjaannya…" (Kalimat telah disesuaikan).
Dalam kotak pesan, akun ini mengeklaim sedang membuka rekening baru di bank swasta.
"Mungkin setelah selesai, semua saldo (bank BUMN) saya akan langsung pindah," kata @terseponah.
"Saya cari aman dulu sepertinya untuk saat ini. Meskipun kayaknya ini enggak bahaya-bahaya amat untuk saya yang pakai bank hanya untuk sekadar transaksi ringan," tambahnya. n ec/jk/rmc
Editor : Moch Ilham