SURABAYAPAGI.COM : Luke Thomas Mahony, Dirut PT DSI, merupakan warga negara Australia yang sebelumnya menjabat sebagai SEVP Business Performance & Optimization Danantara Indonesia sejak September 2025.
Data yang digali hingga Minggu (24/5) Luke Thomas Mahony, warga negara asing (WNA) asal Australia, ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI). Ini BUMN baru untuk sektor ekspor Indonesia di bawah Danantara. Penunjukan WNA di posisi puncak BUMN ini menjadi sorotan publik, terutama terkait alasan dan dasar hukumnya.
PT DSI adalah BUMN baru yang dibentuk untuk mengelola ekspor SDA strategis Indonesia melalui satu pintu.
Pengalaman Luke di perdagangan komoditas global, khususnya sektor mineral dan ekspor jadi alasan Danantara menunjukka pimpin PT DSI.
PT DSI merupakan perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) khusus mengelola ekspor sumber daya alam (SDA) strategis Indonesia. Satu di antaranya adalah mengurusi ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) melalui satu pintu.
Pembentukan PT DSI jadi sorotan karena posisi direktur utamanya adalah warga negara asing (WNA). Menteri Investasi/Kepala BKPM yang juga menjabat sebagai CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani telah menunjuk Luke Thomas Mahony sebagai Dirut PT DSI.
Nama Luke telah tercantum dalam Surat Keputusan Pengesahan Nomor AHU-0039765.AH.01.01 Tahun 2026 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum pada 19 Mei 2026.
Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, meminta pemerintah memberikan batas waktu yang jelas terkait kepemimpinan WNA di posisi Dirut PT DSI. Mufti mengaku terkejut karena posisi yang sangat vital bagi devisa dan industri nasional tersebut justru diserahkan kepada pihak asing.
"Kami jujur cukup terkejut ketika mendengar bahwa PT Daya Anagata Sumber Daya Indonesia (DSI), yang nantinya memegang peran sangat strategis dalam tata kelola ekspor sumber daya alam Indonesia, justru akan dipimpin oleh warga negara asing," kata Mufti kepada wartawan, Jumat (22/5/2026).
Mufti menjelaskan, kehadiran profesional asing mungkin menjadi pilihan pahit yang diambil pemerintah demi memastikan sistem yang bersih dan profesional, setelah berkaca pada kegagalan sistem di masa lalu yang memicu kerugian negara dalam jumlah besar.
Ia menegaskan, ketergantungan pada tenaga asing dalam mengelola kekayaan alam tidak boleh berlangsung lama.
Mufti meminta posisi tersebut segera dikembalikan kepada anak bangsa setelah fondasi tata kelola ekspor Indonesia sudah kuat.
"Kami meminta pemerintah memberikan batas waktu yang jelas. Jangan menggantung tanpa kepastian. Masyarakat perlu tahu, sampai kapan posisi strategis ini dipimpin oleh warga negara asing?" ungkapnya.
Ia memberikan estimasi waktu transisi sekitar enam bulan hingga satu tahun untuk pembenahan sistem.
Alasan Bos Danantara
Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, menjelaskan alasan penunjukan Luke Thomas Mahony sebagai Dirut DSI, didasarkan pada pengalaman Luke di perdagangan komoditas global, khususnya sektor mineral dan ekspor.
Sebelum menjabat di PT DSI, Luke Thomas tercatat pernah memegang posisi Direktur sekaligus Chief Strategy and Technical Officer PT Vale Indonesia Tbk, dengan fokus pada strategi bisnis dan operasi pertambangan.
Ia juga bukan orang baru di sektor pertambangan. Sebelum bergabung dengan Danantara, Luke Thomas Mahony memiliki pengalaman lebih dari 21 tahun di industri tambang
Di antaranya, Luke Thomas Mahony pernah menjabat sebagai Chief Technical Officer selama Desember 2022-Februari 2024, dan berlanjut sebagai Direktur sepanjang Februari-Agustus 2024. Tak hanya di Vale, dia juga memiliki pengalaman di BHP Billiton, perusahaan tambang multinasional asal Australia. Selama Juli 2010-Juli 2014 berkarir di perusahaan ini, Luke Thomas pernah menempati posisi Principal Business Analyst hingga Manager Production Prestrip. Dari sisi pendidikan, Luke Thomas memang memiliki latar belakang akademik di bidang pertambangan dan keuangan. Ia lulus dengan gelar sarjana Mining Engineering dari University of New South Wales, Australia pada 2022. Kemudian dia juga memiliki tiga gelar master dari University of New South Wales, yakni Master Keuangan pada 2004, Master Teknik Pertambangan pada 2006, dan Master Geomekanika pada 2009.
PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI): Merupakan perantara ekspor komoditas nasional (seperti CPO, batu bara, dan logam). Saat ini entitas tersebut masih berstatus sebagai perusahaan swasta nasional dan dalam proses transformasi untuk segera resmi menjadi BUMN.
PT DSI merupakan BUMN karena ada 1 persen sahamnya milik Badan Pengaturan (BP) BUMN.
"Jadi dia akan berstatus resmi BUMN dan dia akan menjadi pihak yang di tengah antara proses ekspor ke luar negeri untuk beberapa komoditas," ujar Rohan.
PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), yang merupakan anak usaha pengelola investasi Danantara. n erc, ec, rmc
Editor : Redaksi