SURABAYAPAGI.com, Ponorogo - Siapa sangka, limbah kayu hasil pembongkaran rumah hingga sisa mebel di sekitar desa dapat disulap (diolah) menjadi sebuah kerajinan bernilai seni tinggi, bahkan banyak diburu kolektor dari berbagai daerah.
Seniman atau perajin ukiran kayu tersebut diketahui bernama Heri Ismakut (45) di Ponorogo, Jawa Timur. Dalam prosesnya, kayu tersebut diolah menjadi ornamen bernuansa Jawa, seperti blawong atau papan tempat keris dan blencong, yakni lampu minyak yang biasa digunakan dalang saat pentas wayang kulit di masa lalu.
"Pada dasarnya kayu apa saja bisa dipakai, asalkan mudah diukir. Di sini banyak mebel dan limbah kayu yang tidak terpakai. Awalnya iseng membuat blawong, saya beri warna jadul (jaman dulu), ternyata hasilnya bagus dan laku," kata Heri, Jumat (07/03/2025).
Meski dari limbah kayu mebel, dalam proses pembuatan setiap kerajinan tentu membutuhkan ketelitian tinggi dan bisa memakan waktu hingga satu minggu, terutama pada tahap pewarnaan dan ukiran.
Sementara itu, menyoal harga, per unit bervariasi, mulai dari Rp 500 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Pasalnya, kerajinan seni tersebut tidak hanya diminati warga lokal, tetapi juga menembus pasar nasional, termasuk ke Bali dan Jakarta.
Bahkan, banyak kolektor datang langsung ke Ponorogo untuk memesan produknya. "Alhamdulillah banyak yang suka, biasanya digunakan untuk ornamen atau hiasan," katanya. pn-01/dsy
Editor : Desy Ayu