“Nabi Muhammad SAW tidak pernah berkata kasar, tidak pernah berbuat keji, dan tidak pernah berteriak-teriak di pasar. Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi memaafkan dan melupakan.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Ini menunjukkan kerendahan hati Nabi pun tercermin dalam tutur kata beliau, tidak hanya perilaku saja.
Nabi Muhammad adalah sebuah contoh untuk semua umat Islam, baik dari kalangan rakyat biasa, terlebih lagi kalangan pemimpin atau pejabat. Salah satu hal yang dapat diteladani dari Nabi adalah sifat rendah hati.
Dalam kapasitas sebagai pemimpin agama (Rasul dan Nabi) sekaligus pemimpin negara, Nabi tetap memiliki sifat rendah hati ketika berinteraksi dengan orang lain atau rakyatnya. Hal ini yang jarang kita jumpai dari profil pemimpin dan pejabat kita saat ini. Mereka menjaga jarak dengan rakyatnya.
Nabi Muhammad justru tidak ingin dimuliakan karena status sebagai Nabi dan Rasul. Nabi tidak menginginkan penghormatan yang dilakukan para sahabat akan berlebihan dan tidak wajar sebagaimana yang dilakukan umat terdahulu kepada Nabi mereka. Hal ini ditegaskan Nabi Muhammad dalam hadits yang dikutip Al-Bukhari dalam kitab Shahihul Bukhari, juz 4, halaman 167 . Hadis ini meriwayatkan sebagai berikut:
Artinya, “Janganlah kalian berlebihan menghormatiku seperti orang-orang Nasrani telah berlebihan memuliakan ‘Isa ibn Maryam. Aku hanyalah hamba Allah, maka katakanlah “Abdullah wa Rasuluhu” atau hamba Allah dan Rasul-Nya.”
Jadi, rendah hati, atau tawadhu, adalah ajaran penting dalam Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sikap ini menunjukkan sikap hormat dan tidak sombong terhadap orang lain, serta mengakui kebesaran Allah SWT. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk selalu rendah hati, baik dalam perkataan maupun perbuatan, dan menjauhi sifat sombong.
Contoh Sikap Rendah Hati Rasulullah SAW:
Rasulullah SAW tidak pernah berkata kasar, bahkan dalam keadaan marah. Beliau selalu berbicara dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang.
Bahkan, Rasulullah SAW memperlakukan semua orang dengan baik, tanpa memandang status sosial, suku, atau latar belakang.
Rasulullah SAW tidak pernah merendahkan orang lain, bahkan ketika ia dihina atau dicaci maki.
Rasulullah SAW selalu memaafkan kesalahan orang lain dan tidak menyimpan dendam.
Rasulullah SAW selalu menerima perbedaan pendapat dengan lapang dada dan tidak memaksakan kehendaknya.
Kerendahan hati Nabi tercermin dalam beberapa perilaku kehidupan sehari-hari dalam berinteraksi kepada orang lain. Di antaranya adalah Nabi selalu memulai mengucapkan salam kepada orang yang di temui dalam perjalanan. ([email protected])
Oleh:
Hj Lordna Putri
Editor : Moch Ilham