SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Transaksi keuangan digital akan mengalami pertumbuhan pesat di tahun 2025. Nasabah akan semakin jarang berkunjung ke kantor bank. Bahkan, ATM pun mulai ditinggalkan. Bank-bank mesti mengantisipasi kebutuhan nasabah.
Warning tersebut disampaikan oleh Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, dalam “UOB Media Editors Circle” di Jakarta, Kamis .
Bahkan menurut TMRW Head UOB Indonesia, Glenn Natamihardja, memang tren itu tak terbendung lagi. Pertumbuhan transaksi keuangan digital yang sangat pesat Sebab, perilaku masyarakat juga mengalami perubahan ke arah digital.
Di sektor perbankan, kata Glenn, pertumbuhan pengguna layanan digital terus menunjukkan tren positif. UOB Indonesia mencatat lonjakan pengguna mobile banking sebesar 23 persen pada tahun 2024 dibanding tahun sebelumnya.
“Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa transformasi digital di sektor keuangan tidak hanya berlangsung cepat, tetapi juga semakin dibutuhkan oleh nasabah,” katanya.
Menurut dia, lonjakan tersebut didorong oleh berbagai fitur digital yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Kalau kita lihat, semua data transaksi, pertumbuhannya dua digit, baik itu transaksi QR, transfer, hingga pembayaran tagihan,” ujarnya.
Tren Transaksi Keuangan Digital
Menurut Nailul, transaksi keuangan digital mengalami pertumbuhan siginifikan pada transaksi pembayaran dan penyaluran pinjaman daring (pindar). Masing-masing tumbuh dua digit.
Nilai transaksi pembayaran digital pada tahun 2025 diproyeksikan akan tumbuh sebesar 16,73 persen. Di tahun 2024, nilai transaksi pembayaran digital sebesar Rp2.491,68 triliun.
“Di tahun 2025 kita proyeksikan meningkat menjadi Rp2.908,59 triliun,” ungkap Nailul.
Peningkatan ini, kata Nailul, didorong oleh perubahan perilaku nasabah. Mereka mulai malas untuk transaksi keuangan secara fisik dengan berkunjung ke kantor cabang bank, dan bahkan ATM.
Mereka lebih sering menggunakan online banking atau aplikasi mobile,” ujar Nailul.
Menurut Nailul, peningkatan lebih tinggi lagi akan terjadi pada penyaluran pindar. Tahun 2024, penyaluran pindar mencapai Rp302,70 triliun.
“Di tahun 2025 kita proyeksikan akan mengalami pertumbuhan sekitar 20 persen menjadi Rp365,70 triliun,” ujarnya.
Hal ini, kata Nailul, mencerminkan meningkatnya kebutuhan pendanaan, baik untuk individu maupun pelaku usaha, melalui platform digital.
Yang perlu dicermati, kata Nailul, justru akan terjadi perlambatan pada transaksi e-commerce atau perdagangan digital.
“Nilai perdagangan daring diperkirakan tumbuh tipis 0,5 persen dari Rp 468,64 triliun pada 2024 menjadi Rp 471,01 triliun pada tahun 2025,” ungkapnya.
Menurutnya, pertumbuhan landai ini menunjukkan bahwa pasar e-commerce mulai stabil, dengan laju pertumbuhan yang melambat. n ec/jk/rmc
Editor : Moch Ilham