Psikologi: Lima Tips Dorong Orang Introvert Bisa Berubah Nyaman

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Dalam pergaulan sosial, orang introvert, sering terasa jauh lebih melelahkan. Seseorang dengan kepribadian introvert butuh waktu menyendiri untuk mengisi ulang energi, berbeda dengan orang ekstrovert yang justru merasa 'hidup' saat bersama banyak orang.

Menariknya, menurut para terapis, tidak semua introvert itu pendiam, dan tidak semua ekstrovert selalu supel.

Karena itulah, kadang sulit menebak apakah seseorang, termasuk keluarga atau teman dekat sendiri, cenderung introvert atau ekstrovert.

Kate Roberts, terapis di Self Space Therapy di Washington, seperti dilansir HuffPost, kemarin.

Kate Roberts menjelaskan, "Perbedaan klasik antara ekstrovert dan introvert terletak pada cara mereka mengisi energi. Seorang introvert merasa terisi ulang dengan menghabiskan waktu sendirian, bukan bersama banyak orang."

Orang introvert bisa merasa sangat lelah setelah menghadiri acara sosial, lebih memilih menghabiskan waktu sendirian atau hanya bersama satu teman dekat. Mereka juga tidak suka menjadi pusat perhatian dan butuh waktu lebih lama untuk akrab dengan orang lain.

Sayangnya, masih banyak orang tidak memahami hal ini dan melontarkan komentar yang tanpa disadari bisa melukai perasaan orang introvert, terutama anak-anak.

 Para terapis membagikan beberapa kalimat yang sebaiknya tidak diucapkan kepada orang introvert, agar mereka tak merasa salah menjadi diri sendiri.

 

1. "Bicara lebih banyak dong," atau "Cobalah lebih ramah."

Hampir semua introvert, baik anak-anak maupun orang dewasa, pasti pernah mendengar komentar seperti ini. Menurut Rachel Wolff, terapis sekaligus pemilik Flow Wellness di Philadelphia, dua kalimat ini bisa berdampak buruk.

"Kalimat seperti itu membuat seorang introvert merasa apa yang mereka lakukan salah. Seolah-olah mereka harus mengorbankan rasa nyaman demi menyenangkan orang lain. Entah itu orangtua, teman, atau lingkungan sosial," jelasnya.

 

2. "Kok kamu diam saja? Nggak sopan, lho."

Komentar semacam ini seolah menuduh anak introvert menyakiti orang lain hanya karena mereka mengikuti naluri diri sendiri.Selain itu, kata Roberts, kalimat seperti ini menanamkan kesan bahwa rasa malu atau introversi adalah hal memalukan atau salah.

"Di masyarakat yang mengagungkan ekstroversi, sikap pemalu sering dianggap kelemahan, tanda tidak tertarik, atau bahkan sebuah cacat kepribadian. Padahal, semua itu sama sekali tidak benar," tegasnya.

 

3. Kalimat yang menjadikan 'pemalu' sebagai label

Wolff menyarankan untuk menghindari kalimat yang melabeli seseorang sebagai pemalu atau membuat mereka merasa malu dengan kepribadiannya. Contoh kalimat yang sebaiknya dihindari seperti, 'Kenapa sih kamu pemalu banget?' atau 'Udah deh, jangan malu-malu.'

"Kalimat-kalimat ini menganggap sifat pemalu atau pendiam sebagai sesuatu yang buruk. Padahal menjadi pendiam itu bukan kekurangan, melainkan ciri kepribadian," ujar Wolff.

Roberts pun menambahkan, "Aku berharap rasa malu bisa lebih dilihat dengan cara yang berbeda-dan sebenarnya sangat berharga-untuk merasakan dunia. Banyak anak pemalu atau introvert punya 'kekuatan super' dalam mengamati sekeliling mereka dan memerhatikan hal-hal yang sering terlewat oleh orang lain."

 

4. Komentar yang menganggap introversi akan membuat hidup mereka terhambat

Sudah jadi rahasia umum bahwa masyarakat cenderung mengidolakan ekstrovert-mereka yang populer di sekolah, sering tampil sebagai tokoh utama di film, atau selalu jadi pusat perhatian di pesta. Tapi bukan berarti hanya ekstrovert yang bisa sukses dan bahagia.

Introvert pun menjalani hidup yang sama-sama penuh cinta dan kepuasan, meski budaya populer jarang memperlihatkannya. Karena itu, Wolff menekankan jangan pernah mengatakan hal-hal yang mengisyaratkan introversi akan membuat hidup mereka terbatas.

 

5. Kalimat yang mempertanyakan mengapa mereka begitu

Kalimat seperti, "Kenapa sih kamu pemalu banget?", "Kenapa nggak mau ngomong sama mereka?", atau "Kenapa nggak ikut main aja bareng yang lain?" sering terdengar sepele, tapi sebenarnya sangat berbahaya.

Menurut KaiLi McGrath, pekerja sosial di Thriveworks, Michigan, pertanyaan-pertanyaan semacam ini langsung menciptakan kesan ada yang salah dengan perilaku alami si anak atau seseorang.

Lebih dari itu, McGrath mengatakan," Kata-kata seperti itu bisa membuat anak merasa malu dan bersalah hanya karena menjadi diri sendiri."

Satu hal yang harus digarisbawahi adalah Introversi bukanlah kekurangan. Itu hanyalah cara berbeda seseorang berinteraksi dengan dunia. Banyak introvert justru punya kepekaan, empati, dan pengamatan mendalam yang sangat berharga.

Jadi, lain kali saat ingin memberi saran pada teman, anak, atau saudara yang introvert, pastikan kata-kata kita tidak membuat mereka merasa harus berubah menjadi orang lain. Karena dunia ini butuh segala macam kepribadian, termasuk mereka yang lebih senang diam, mengamati, dan merasa nyaman di dunia batinnya sendiri. n art/do/rmc

Berita Terbaru

Berakhir di Balik Jeruji — Tersangka Dugaan Pungli ESDM Jatim Oni Setiawan Meninggal Usai Alami Serangan Jantung

Berakhir di Balik Jeruji — Tersangka Dugaan Pungli ESDM Jatim Oni Setiawan Meninggal Usai Alami Serangan Jantung

Sabtu, 19 Sep 2026 12:16 WIB

Sabtu, 19 Sep 2026 12:16 WIB

SURABAYA0AGI.com, Surabaya — Kabar duka datang dari penanganan perkara dugaan tindak pidana korupsi berupa pungutan liar (pungli) di lingkungan Dinas Energi d…

Benahi Profesi dari Dalam — Ketua Umum AAI Tjandra Sridjaya Dorong Advokat Perkuat Kompetensi dan Kebersamaan

Benahi Profesi dari Dalam — Ketua Umum AAI Tjandra Sridjaya Dorong Advokat Perkuat Kompetensi dan Kebersamaan

Sabtu, 19 Sep 2026 12:15 WIB

Sabtu, 19 Sep 2026 12:15 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya — Pembenahan profesi advokat tidak cukup hanya dengan memperkuat organisasi. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), k…

Kick Off Hari Santri di Lamongan, Diawali Jelajah Santri Sako Pramuka Pandu Ma’arif

Kick Off Hari Santri di Lamongan, Diawali Jelajah Santri Sako Pramuka Pandu Ma’arif

Sabtu, 19 Sep 2026 10:57 WIB

Sabtu, 19 Sep 2026 10:57 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan – Kick off peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kabupaten Lamongan, diawali dengan kegiatan Jelajah Santri Sako Pramuka P…

Puluhan Ribu Alumni Gontor Padati Pondok Jelang Peringatan 100 Tahun

Puluhan Ribu Alumni Gontor Padati Pondok Jelang Peringatan 100 Tahun

Sabtu, 19 Sep 2026 10:44 WIB

Sabtu, 19 Sep 2026 10:44 WIB

SURABAYA PAGI, Ponorogo- Puluhan ribu alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) dari berbagai penjuru dunia memadati kawasan pondok untuk mengikuti…

Minat Investasi Emas Menguat, HSBC Indonesia Hadirkan Reksa Dana Saham Syariah

Minat Investasi Emas Menguat, HSBC Indonesia Hadirkan Reksa Dana Saham Syariah

Sabtu, 19 Sep 2026 09:29 WIB

Sabtu, 19 Sep 2026 09:29 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Meningkatnya perhatian investor terhadap emas sebagai bagian dari diversifikasi portofolio mendorong PT Bank HSBC Indonesia (HSBC I…

Gugatan Sengketa Lahan Tidak Diterima, Kiagus : Silahkan Ambil Lahan, Ganti Investasi Kami

Gugatan Sengketa Lahan Tidak Diterima, Kiagus : Silahkan Ambil Lahan, Ganti Investasi Kami

Jumat, 18 Sep 2026 21:41 WIB

Jumat, 18 Sep 2026 21:41 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun — Direktur PT Jatim Parkir Center (JPC), Kiagus Firdaus, membuka peluang penyelesaian sengketa lahan melalui negosiasi setelah Pen…