SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Ingat lagu "Rojali"? Ini lagu yang populerkan grup musik Sabyan Gambus. Lagu ini sering dikaitkan dengan tema cinta dan romansa. Ljrik mudah diingat dengan melodi yang ceria.
Lagu ini sempat populer dan sering diputar di berbagai acara, baik acara formal maupun informal.
Tapi kini, Rojali terkait plesetan yang menggambar pelemahan daya beli masyarakat.
Saya pantau dalam beberapa waktu terakhir, istilah “Rojali” sering berseliweran di media sosial, terutama TikTok, Instagram, dan Twitter. Meski terdengar lucu, istilah ini menggambarkan fenomena sosial yang cukup meresahkan, terutama bagi para pelaku usaha kuliner.
Dalam bahasa gaul, istilah Rojali merupakan singkatan dari “Rombongan Jarang Beli”.
Mereka datang ke tempat makan atau minum di mal-mal dalam jumlah besar, tapi hanya satu atau dua orang yang membeli. Sementara sisanya hanya duduk, ngobrol, atau menikmati fasilitas seperti WiFi dan AC tanpa melakukan transaksi.
Ya, Rojali singkatan dari rombongan jarang beli.
Misalnya, dari lima orang yang datang ke cafe, hanya satu yang pesan es teh. Sementara sisanya membawa makanan dari luar atau hanya duduk-duduk sambil main ponsel.
Konon istilah ini mulai populer sekitar pertengahan 2024. Saat itu, sejumlah pemilik usaha membagikan keluhannya di media sosial tentang pelanggan yang hanya numpang duduk tanpa membeli. Dari sanalah istilah “Rombongan Jarang Beli” alias Rojali muncul dan viral.
Bahkan beberapa video di TikTok , memperlihatkan suasana kafe yang dipenuhi pengunjung, tapi pemiliknya justru kesulitan menutup biaya operasional . Ya! karena minimnya transaksi. Sejak saat itu, istilah Rojali menjadi semacam sindiran populer yang menyebar luas di kalangan pelaku UMKM.
Mereka pengunjung mal yang hanya cuci mata tanpa belanja apa pun.
Banyak pengusaha akhirnya memasang pengumuman minimum pembelian, membatasi penggunaan WiFi. Namun tidak sedikit juga yang memilih bersikap pasif, khawatir kehilangan pengunjung tetap atau dinilai tidak ramah.
Artinya, fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) adalah gambaran dari perubahan pola konsumsi masyarakat yang memilih suasana dan fasilitas tanpa harus mengeluarkan uang. Meski tidak dilarang, kebiasaan ini bisa berdampak besar bagi pelaku usaha kecil, khususnya di sektor kuliner dan ritel.
Kini ada juga yang namanya rohana, atau rombongan hanya nanya.
Kalangan rohana juga menjadi salah satu faktor turunnya omzet pusat perbelanjaan di Indonesia.
Padahal dulu, Rohana, pemain dalam film Indonesia, berjudul "Soenting Melajoe". Film ini mengangkat kisah perjuangan Rohana Kudus dalam bidang pendidikan dan jurnalisme.
***
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonsus Widjaja, mengungkapkan fenomena 'rojali' membuat seret pertumbuhan omzet mal.
Istilah tersebut merujuk pada tren meningkatnya kunjungan masyarakat ke mal, tetapi tidak diikuti dengan pembelian yang signifikan.
"Sekarang memang terjadi fenomena rojali, lebih karena faktor daya beli, khususnya yang di kelas menengah bawah. Kan daya belinya berkurang, uang yang dipegang semakin sedikit, tetapi mereka tetap datang ke pusat perbelanjaan," kata Alphonsus di Pusat Grosir Cililitan, Jakarta Timur, Rabu (23/7).
Menurutnya, jumlah pengunjung pusat perbelanjaan meningkat 10 persen dibandingkan tahun lalu. Dia menyebut jumlah itu jauh dari target 20-30 persen.
Peningkatan jumlah kunjungan yang tak terlalu tinggi itu dibarengi minimnya jumlah belanja. Alphonsus mengatakan masyarakat yang datang ke mal lebih sering hanya melihat-lihat ataupun belanja sedikit.
Alphonsus Widjaja, mengakui salah satu fungsi dari pusat perbelanjaan adalah hadirnya konsumen untuk melakukan interaksi antara penjual dengan pembeli.
"Saya kira di pusat perbelanjaan itu 'kan sifatnya adalah offline. Kalau offline itu 'kan pasti terjadi interaksi, tawar-menawar, tanya harga dan sebagainya. Saya kira itu umum, hal-hal yang wajar lah, dan juga fenomena rojali ini juga karena salah satunya faktor daripada fungsi pusat belanja," terang Alphonsus, saat peresmian 100 merek UMKM di salah satu pusat perbelanjaan, Jakarta, Rabu (23/7/2025).
Alphonsus bilang, fungsi pusat belanja bukan sekadar untuk belanja. Namun, ada faktor lain yang melengkapi fungsi pusat perbelanjaan, misalnya sebagai tempat hiburan dan edukasi.
"Jadi, inilah yang menyebabkan kenapa selalu ada fenomena ini dari waktu ke waktu. Karena fungsi pusat belanja bukan hanya sekedar belanja. Cuma memang di waktu-waktu tertentu, intensitasnya naik. Seperti sekarang naik, tapi saya kira itu karena lebih dari karena daya beli," tukas Alphonsus.
Di sisi lain, meskipun Alphonsus bilang wajar saja bila rohana dan rojali menggandrungi mal, tetapi rupanya omzet pusat perbelanjaan terpantau mengalami penurunan. Hal ini nampak dari pola belanja konsumen yang cenderung membeli produk-produk murah.
"Pasti (omzet turun), karena sekarang masyarakat kelas menengah-bawah cenderung beli barang produk yang harga satuannya unit price-nya murah. Itu terjadi penurunan. Karena 'kan belinya cenderung produk-produk yang harganya satuannya murah," pungkas Alphonsus.
Saya ikuti fenomena rojali, tidak sekadar menjadi tren bahasa di dunia maya, tetapi mencerminkan fenomena sosial dan ekonomi yang semakin nyata di tengah masyarakat urban.
Di balik istilah yang terkesan lucu dan ringan ini, terdapat refleksi akan perubahan pola konsumsi masyarakat yang terjadi akibat tekanan ekonomi dan melemahnya daya beli.
Menurut saya, fenomena Rojali tidak bisa dilepaskan dari persoalan ketimpangan ekonomi. Banyak masyarakat urban mengaku hanya sekadar refreshing di pusat perbelanjaan karena tidak mampu membeli barang-barang yang semakin mahal.
Rojali menjadi bukti masyarakat Indonesia semakin selektif dalam mengelola pengeluaran. Banyak orang lebih memilih sekadar mencari pengalaman sosial, kenyamanan tempat, hingga konten media sosial, tanpa harus membeli produk atau layanan yang ada. Oh rojali. ([email protected])
Editor : Moch Ilham