SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Dokter dan ahli gizi Tan Shot Yen , mengkritik menu MBG di beberapa daerah yang menghadirkan burger hingga spageti. Dokter Tan Shot Yen tidak habis pikir atas menu-menu seperti ini.
Tan menyentil olahan burger sebagai sajian makan bergizi gratis. Dia heran anak Indonesia malah dikenalkan dengan olahan gandum.
"Yang dibagi adalah, adalah burger. Di mana tepung terigu tidak pernah tumbuh di bumi Indonesia, nggak ada anak muda yang tahu bahwa gandum tidak tumbuh di bumi Indonesia," kata Tan dalam rapat bersama Komisi IX DPR.
"Dibagi spageti, dibagi bakmi Gacoan, oh my god. Dan maaf, ya, itu isi burgernya itu kastanisasi juga, kalau yang dekat dengan pusat supaya kelihatan bagus dikasih chicken katsu," imbuhnya.
Saat saya masih sekolah dasar, dikenalkan makan bergizi yaitu pola makan yang mencukupi kebutuhan tubuh akan berbagai nutrisi esensial seperti karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, mineral, serat, dan air. Nah, burger tak pernah dikenalkan sebagai makan bergizi Pak Dadan Hindayana Kepala Badan Gizi Nasional .
***
Kini, hampir semua media di Indonesia, menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah. Ini setelah munculnya cerita keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di berbagai daerah.
Program ini sejatinya bertujuan untuk meningkatkan gizi anak sekolah ini justru kini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat.
Hingga Komika sekaligus aktivis, Tretan Muslim, ikut campuri. Dalam sebuah video di kanal YouTube pribadinya, Tretan Universe, menyoroti serius insiden keracunan ribuan siswa.
Ia mengungkapkan bahwa program yang awalnya dikenal sebagai Makan Bergizi Gratis kini seolah berubah makna menjadi 'Makan Beracun Gratis'.
"MBG, yang kayaknya sekarang, artinya makan beracun gratis," sindir Tretan Muslim dalam konten yang tayang Selasa, 23 September 2025.
Komika asal Madura itu kemudian membeberkan salah satu contoh kasus yang terjadi di Kabupaten Banggai Kepulauan, di mana 251 siswa diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari program MBG.
"251 siswa di Kabupaten Banggai Kepulauan diduga keracunan MBG," ujar Tretan Muslim, sambil menunjukkan sebuah berita.
Dari jumlah tersebut, puluhan siswa bahkan harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.
Fenomena ini, menurutnya, membuat citra program tersebut lebih banyak diwarnai oleh berita keracunan daripada manfaat gizinya, sehingga menimbulkan keprihatinan mendalam.
"Sementara ini, lebih banyak berita keracunan ya daripada bergizinya ya," pungkas Tretan Muslim dengan nada prihatin.
***
Akal sehat saya mengerti peran komika dalam menyindir pemerintah. Perannya sebagai alat kritik sosial dan politik yang efektif, bertujuan untuk membentuk opini publik, meningkatkan kesadaran masyarakat. Selain mendorong partisipasi kritis terhadap isu-isu pemerintah melalui satire dan edukasi visual Komik.
Ya ocehan komika dapat digunakan sebagai sarana yang kuat untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang bermasalah, dominasi kekuasaan, atau praktik-praktik tidak etis tanpa menggunakan bahasa yang terlalu formal atau keras.
Dalam pemahaman akal sehat saya, dengan menyajikan kritik secara visual dan terkadang jenaka, komik dapat membantu membentuk opini publik dan memengaruhi pemikiran masyarakat terhadap isu-isu politik yang relevan seperti peristiwa keracunan menu MBG saat ini.
Secara nalar, guyonan Komika, saya serap dapat menjadi alat edukasi yang efektif. Bahkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap masalah sosial dan politik yang ada. Termasuk mendorong kita untuk lebih kritis dalam menerima informasi.
***
Saat ini ada hasil investigasi dinas kesehatan di Bandung, Bogor, dan Tasikmalaya di Jawa Barat serta Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir di Sumatra Selatan menemukan adanya kontaminasi bakteri Salmonella, E.coli, Bacilius cereus, Stapylococcus aereus, Bacillus subtilis, hingga jamur Candida tropicalis.
Sejumlah orang tua yang ditemui BBC News Indonesia mengaku trauma dan melarang anak mereka menyantap makanan dari pemerintah itu.
"Saya pikir kalau dapat makan gratis bisa meringankan [beban], tapi ini bukannya meringankan malah [mau] membunuh. Tidak usah lagi makan gratis, daripada keracunan," tutur Fitri Febrianti, salah satu orang tua di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatra Selatan.
Nah, itu suara rakyat! Ibu itu seperti mewakili ribuan emak emak yang tidak tega anaknya keracunan setelah menyantap suguhan makan bergizi gratis. Apalagi ditenukab penyebabnya diyakini berasal dari kandungan zat beracun yang mengkontaminasi lauk-pauk.
Keracunan siswa diduga terjadi karena banyak SPPG yang belum menerapkan standar baku mutu layanan.
Setelah harapan dari koalisi sipil yang tak direspon positif oleh Kepala Badan Gizi Nasional , saya khawatir akan muncul opsi penyelesaian jalur hukum agar korban keracunan MBG tak lagi berjatuhan.
Sebagian di antara para korban diketahui harus menjalani perawatan di rumah sakit. Tubuh mereka memperlihatkan reaksi beragam. Apalagi dipublikasikan di medsos, ada sebagian siswa yang merasakan gejala mual-muntah dan wajah mereka membengkak.
Ada pula yang mengalami sesak napas hingga sakit kepala.
Penyebabnya diyakini berasal dari kandungan zat beracun yang mengkontaminasi lauk-pauk.
Kabar yang ramai di media, musibah keracunan ini terjadi karena diduga banyak SPPG belum menerapkan standar baku mutu layanan sesuai dengan sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS). Dari 8.583 SPPG yang tersebar di Tanah Air, baru 34 di antaranya yang memiliki SLHS.
Secara akal sehat, kondisi ini tak bisa dianggap enteng. Tanpa pemenuhan sertifikasi layanan, pengelola dapur MBG bisa semena-mena meramu makanan bagi para pelajar. Dan ini terbukti, banyak siswa keracunan menu masakannya. Bisa bisa target pemenuhan gizi bisa menyusut demi alasan efisiensi (bisnis).
Faktor kebersihan dan kesehatan bisa terabaikan. Apakah ini yang dinamai makan bergizi gratis? Wallahualam bissawab. ([email protected])
Editor : Moch Ilham