SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Gus Dur diusulkan Gelar Pahlawan Nasional , itu judul berita kita edisi Senin (10/11) kemarin. Usulan terhadap presiden ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur , tidak ada pro kontra, seperti usulan terhadap presiden ke-2.
Menurut Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, demokrasi tumbuh kuat di era pemerintahan Gusdur.
"Gus Dur diusulkan menjadi pahlawan tentu kita bangga, bersyukur, terima kasih karena memang demokrasi tumbuh kuat, dan terakhir gong yang menjadikan reformasi dan demokrasi adalah Gus Dur," kata Cak Imin usai hadiri lomba baca kitab kuning di kantor DPP PKB Jl Raden Saleh Jakarta Pusat, Minggu (9/11/2025).
Meski demikian, Cak Imin tidak mengomentari pro kontra pemberian gelar pahlawan untuk mantan Presiden RI ke-2 Soeharto. Cak Imin sepenuhnya menyerahkan pertimbangan pemberian gelar pahlawan kepada Dewan Gelar.
"Nah siapa-siapa saja tentu kita tunggu saja dewan gelar. Saya sebagai menteri tentu tidak bisa berkomentar siapa saja yang akan kita dukung atau tidak, sepenuhnya saya menyerahkan kepada dewan kehormatan dan gelar, kita tunggu saja," kata Cak Imin. Komentar Cak Imin, cenderung cari aman. Ia sepertinya tidak ingin memperkeruh suasana usulan terhadap ayah Tommy Soeharto.
***
Gelar Pahlawan Nasional untuk seseorang gunanya apa?
Pemberian gelar Pahlawan Nasional merupakan bentuk penghormatan tertinggi negara kepada warga yang berjasa besar bagi bangsa dan negara. Setiap tahun menjelang Hari Pahlawan. Setiap tahun, pemerintah melalui Presiden menganugerahkan gelar ini kepada tokoh-tokoh yang memenuhi kriteria tertentu.
Ini tindaklanjut pengusulan pemberian gelar yang disampaikan Dewan gelar, Tanda Jasa, dan Kehormatan dengan mengeluarkan Keputusan Presiden.
Esteban de Ocampo, seorang sejarawan ternama, menyatakan dalam bukunya tentang Rizal bahwa pahlawan berarti seorang tokoh terkemuka atau tokoh sentral yang mengambil bagian mengagumkan dalam setiap tindakan atau peristiwa luar biasa. Ia seseorang dengan keberanian atau usaha luar biasa saat menghadapi bahaya, atau ketabahan saat menghadapi penderitaan; dan seorang pria yang dihormati setelah kematiannya melalui pemujaan publik karena
layanan luar biasa bagi umat manusia.
Di Filipina, harapan masyarakat terhadap tokoh publik kini berbeda dibandingkan lebih dari seratus tahun yang lalu. Ini mungkin karena kesadaran bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Inilah alasan mengapa saat ini begitu banyak tokoh yang diakui sebagai pahlawan dan banyak yang terpilih menduduki posisi pemerintahan penting dengan kekurangan dan karakter yang dipertanyakan. Maka beruntunglah mereka yang bercita-cita suatu hari nanti disebut pahlawan karena kriteria yang telah ditetapkan menjadi acuan dalam pengambilan keputusan mereka.
Sebagai jurnalis milenial saya berharap kriteria pahlawan nasional tidak hanya akan dibandingkan dengan tokoh-tokoh sejarah, tetapi juga dengan para politisi yang akan kita percayakan kekuasaan untuk memerintah negara kita saat ini.
***
Mengapa saat ini ada pro kontra atas usulan Soeharto, dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Usulan terhadap Gus Dur, adem ayem? Ya Ada bedanya.
Perbedaan utama Gus Dur dan Soeharto terletak pada latar belakang, gaya kepemimpinan, dan ideologi politiknya.
Gus Dur adalah seorang intelektual NU yang menjunjung tinggi demokrasi dan kebebasan. Sementara Soeharto adalah seorang jenderal militer yang memimpin Indonesia dengan gaya otoriter selama 32 tahun .
Selama hidup, Gus Dur kerap memenuhi ‘gizi kehidupan’ dengan humor. Tidak tanggung-tanggung, ia kerap menertawakan dirinya sendiri.
Meskipun pandai menertawakan dirinya sendiri, lelucon Gus Dur juga seringkali tepat menggambarkan kondisi sosial-politik yang ada.
Maklum, Gus Dur suka melontarkan kritik dengan humor. Gus Dur yang menertawakan dirinya sendiri justru mampu menyadarkan pejabat-pejabat negara untuk juga menertawakan dirinya sendiri.
Salah satu humor Gus Dur yang menertawakan diri sendiri seperti pernah diceritakan Gus Dur sendiri berikut ini:
“Pak Harto dulu presiden new order. Pak Habibie, presiden in order, boleh juga out of order," kata Gus Dur.
“Lalu saya sendiri?”
“Saya presiden no order,” ucap Gus Dur.
(Disarikan dari buku “Saya Nggak Mau Jadi Presiden Kok!” (Hamid Basyaib & Fajar W Hemawan, 2014)
Itu beda Gus Dur yang terkenal suka membayol dengan ucapan dan cerita-ceritanya, sementara itu Soeharto dikenal sebagai sosok presiden kedua Republik Indonesia yang punya image atau citra serius.
Dilansir tvOnenews.com dari NU Online lewat rujukan "buku Ngakak Bareng Gus Dur" karya Muhammad Wahab Hasbullah, dikisahkan, Gus Dur saat itu mendapat undangan dari Soeharto untuk menghadiri buka puasa bersama.
Gus Dur menerima dan menghhadiri undangan itu, bahkan beliau menikmati buka puasa bersama Soeharto. Kiai Asrowi kebetulan mendampinginya pergi ke Jalan Cendana Jakarta.
Mereka pun langsung bergegas shalat Maghrib berjamaah setelah menikmati momentum buka puasa bersama. Kemudian, keduanya saling berdialog sembari minum secangkir kopi, teh, dan makanan.
Soeharto tidak ingin membuang momentum kebersamaannya dengan Gus Dur tiba-tiba bertanya, "Gus Dur sampai malam di sini?."
Namun, Gus Dur tidak memiliki banyak waktu karena memiliki agenda yang begitu padat, sehingga harus mengunjungi acara lain setelah menghadiri buka puasa bersama.
"Oh, iya ya ya silaken. Tapi kiainya kan di tinggal disini, ya?," tanya Soeharto kepada Gus Dur.
Pada momen inilah, bapak pluralisme itu mulai menunjukkan sisi humornya. Ia tiba-tiba menyinggung cara shalat Tarawih yang akan dilakukan oleh Soeharto.
Sebab, Gus Dur tampaknya tidak bisa mengerjakan Tarawih bersama Soeharto, namun akan diwakilkan oleh Kiai Asrowi untuk menjadi imam shalat sunnah tersebut.
"Shalat Tarawihnya nanti itu ngikutin NU lama atau NU baru?," tanya Gus Dur sambil humor kepada Soeharto.
Soeharto sempat merasa kebingungan karena menganggap NU hanya satu dan tidak ada perbedaannya. Ia pun langsung menanyakan maksud yang disampaikan oleh Gus Dur.
"Lho, NU lama dengan NU baru, apa bedanya?," tanya Soeharto.
"Kalau NU lama, Tarawih dan Witirnya itu 23 rakaat," jelas Gus Dur.
Bagi Soeharto, tidak menjadi masalah apabila mengerjakan shalat Tarawih akan dipimpin sang kiai berjumlah 23 rakaat.
"Kalau NU baru seperti apa?," tanya Soeharto lagi kepada Gus Dur.
Tak disangka, Gus Dur mengatakan kalau cara Tarawih dari NU baru akan diskon dari segi jumlah rakaatnya, tanpa perlu mengerjakan 23 rakaat.
"Diskon 60 persen! Hahaha. Jadi shalat Tarawih dan Witirnya cuma tinggal 11 rakaat," ledek Gus Dur sambil diiringi gelak tawa Soeharto dan orang di sekitarnya.
Soeharto yang awalnya memilih 23 rakaat karena fisiknya merasa kuat, ia tiba-tiba mengatakan, "Ya sudah, saya ikut NU baru saja, pinggang saya sakit."
Ini kisah Gus Dur dan Soeharto yang sama sama merupakan mantan Presiden RI. Keduanya bahkan saling berselisih pendapat satu sama lain jika berurusan tentang politik.
Catatan jurnalistik saya menyimpan file perbedaan pendapat Gus Dur dan Soeharto sangat berseberangan. Namun, hal tersebut tidak melunturkan hubungan keduanya untuk saling harmonis. Selamat ya Gur Dur, telah dianugerahi Pahlawan Nasional. Juga kepada Jenderal (besar) Soeharto. ([email protected])
Editor : Moch Ilham