SURABAYA PAGI, Madiun – Dugaan keracunan massal mencoreng pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Madiun. Sedikitnya 42 siswa dari tiga Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Mejayan mengalami gejala mual dan muntah usai menyantap menu nasi goreng yang dibagikan pada program tersebut, Kamis (27/11/2025).
Para siswa langsung mendapatkan perawatan di Puskesmas terdekat. Kasus ini memicu reaksi cepat dari sekolah dan pemerintah setempat, mengingat distribusi menu berasal dari satu penyedia yang memasok puluhan sekolah.
Dalam wawancara, Sendi Wicaksono, Kepala SPPG Cinta Anak Klecorejo selaku penyedia menu MBG, menjelaskan kronologi pengolahan serta pendistribusian makanan tersebut. Menurutnya, proses memasak dilakukan mulai tengah malam. “Nasinya kami masak jam 12 malam, lalu nasi gorengnya jam 3 pagi,” ujarnya.
Menu yang diolah adalah nasi goreng Hong Kong dengan campuran jagung, ditambah lauk pendamping berupa keripik pangsit, telur, Indomie, serta buah. Untuk minuman, siswa menerima susu Cina.
“Total ada 31 sekolah yang menerima pagi ini. Biasanya kami suplai 32 sekolah, tapi karena ada kasus ini satu langsung kami tarik,” jelasnya.
Pengiriman dilakukan sekitar pukul 07.00 pagi. Ia mengklaim telah memeriksa kualitas makanan sebelum dikirim maupun setelah dilakukan pengecekan ulang.
“Saat dikirim masih bagus. Setelah ada laporan dari sekolah, kami cek lagi dan langsung menarik semua sisa makanan,” tegasnya.
Penyedia juga mengonfirmasi bahwa mereka telah menjalankan distribusi MBG hampir dua minggu.
“Total siswa yang kami layani sekitar 2.819 anak,” tuturnya.
Setelah laporan keracunan muncul, pihak penyedia langsung membawa siswa ke Puskesmas dan menarik seluruh menu yang sudah beredar untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah dan Puskesmas masih menangani siswa yang terdampak. Orang tua berharap pemerintah segera melakukan investigasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.
Program MBG sejatinya bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah, namun insiden ini kembali mengingatkan pentingnya standar higienitas, pengawasan ketat, dan evaluasi rutin terhadap penyedia makanan. (man)
Editor : Redaksi