SURABAYAPAGI.com, Surabaya – SUN Energy terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis industri dalam percepatan penerapan Standar Industri Hijau (SIH) di Jawa Timur.
Melalui layanan keberlanjutan terintegrasi, perusahaan ini berupaya mendorong transformasi industri menuju operasional rendah emisi di provinsi yang dikenal sebagai pusat manufaktur terbesar kedua di Indonesia.
Dengan kontribusi sektor industri pengolahan mencapai 31,16 persen terhadap perekonomian Jawa Timur pada Triwulan III-2025, kebutuhan energi yang besar membuat transisi menuju energi bersih menjadi langkah penting untuk menjaga daya saing industri di masa depan.
Hingga 2025, SUN Energy telah mengimplementasikan lebih dari 40 proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Jawa Timur dengan kapasitas terpasang lebih dari 40 MW. Energi bersih yang dihasilkan mencapai sekitar 36 juta kWh per tahun dan mampu menekan lebih dari 28 ribu ton emisi CO₂, setara dengan penanaman ratusan ribu pohon.
Pertumbuhan permintaan solusi energi bersih ini terutama datang dari sektor industri kertas, FMCG, komponen otomotif, plastik dan packaging, serta pengolahan kayu.
Transformasi industri di Jawa Timur juga mendapat dorongan kuat dari Pemerintah Provinsi melalui pembentukan Forum Industri Hijau sejak 2023.
Forum ini menjadi wadah kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk mempercepat efisiensi energi, meningkatkan kepatuhan terhadap SIH, serta mempersiapkan industri menghadapi berbagai regulasi global seperti CBAM Uni Eropa, tuntutan sustainability compliance, hingga kebijakan dekarbonisasi nasional menuju Net Zero 2060.
Kepala Bidang Pemberdayaan Industri Disperindag Jatim, Drs. Arif Khamzah M.Si, menegaskan bahwa SIH kini bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi menjadi faktor penentu daya saing dan keberlangsungan industri terutama yang berorientasi ekspor.
Menjawab kebutuhan itu, SUN Energy memperluas perannya dari sekadar penyedia energi surya menjadi penyedia Sustainability-as-a-Service. Chief Sales Officer SUN Energy, Oky Gunawan, menjelaskan bahwa industri membutuhkan transformasi cepat di tengah persaingan global yang kian ketat.
"SUN Energy kini menawarkan ekosistem keberlanjutan lengkap meliputi PLTS, sistem penyimpanan energi (ESS), pengelolaan air berkelanjutan, serta elektrifikasi kendaraan operasional. Seluruh layanan ini dirancang untuk membantu industri memenuhi SIH dengan lebih efisien, menekan biaya energi, sekaligus mengurangi emisi karbon secara terukur," kaya Oky Gunawan, Kamis (11/12/2025).
Sejumlah perusahaan di Jawa Timur telah merasakan dampak nyata dari kolaborasi dengan SUN Energy. PT Avia Avian Tbk dan PT Pakarti Riken Indonesia merupakan dua di antaranya yang berhasil meningkatkan efisiensi operasional melalui pemanfaatan PLTS.
Utility Manager PT Pakarti Riken Indonesia, Roni Herwanto, menandaskan, pemanfaatan energi surya bukan hanya menekan biaya dan emisi, tetapi juga memperkuat kesiapan perusahaan dalam menghadapi regulasi hijau global yang semakin ketat.
"Terutama di industri otomotif yang membutuhkan stabilitas dan efisiensi energi tinggi," ungkal Roni.
Dengan ekosistem energi bersih yang terintegrasi, SUN Energy mengajak lebih banyak pelaku industri di Jawa Timur untuk mengambil langkah proaktif dalam mempercepat penerapan Standar Industri Hijau.
Perusahaan menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi sektor industri menuju operasional rendah karbon dan mendukung pencapaian target Net Zero Emission 2060. Melalui solusi keberlanjutan yang menyeluruh, SUN Energy berupaya menjadi katalis penting dalam transformasi industri yang lebih bertanggung jawab, efisien, dan kompetitif di era globalisasi.guf/rif
Editor : Redaksi