Wanita Kelahiran Situbondo ini Bukan Lulusan Akpol, Melainkan Lulusan Sekolah Perwira Prajurit Karier 1996. Ia pernah menjadi Dosen Program Sarjana dan Program Doktoral Ilmu Kepolisian, Dosen FH Universitas Kristen Indonesia, Dosen Pascasarjana Universtias Indonesia Program Ketahanan Nasional
SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Brigjen Pol. Sulastiana, M.Si., CRGP., CHCM., CRPP. , adalah seorang polisi wanita (Polwan) perwira tinggi kelahiran Situbondo, kini resmi menjabat Wakapolda Papua Barat. Menurut sumber di Devisi Humas Polri, yang dihubungi Minggu (21/12), Sulastiana, polwan berpangkat jenderal terbaik di Polri saat ini.
Saat ini, ada 17 polwan berpangkat Jenderal. Pangkat paling tinggi adalah inspektur jenderal (irjen). "Penunjukan ini merupakan bentuk kepercayaan pimpinan bahwa Brigjen Pol. Sulastiana dinilai mampu mengemban tanggung jawab dan amanah jabatan tersebut," tambah pejabat itu.
Brigjen Sulastiana dimutasi bersama 1.085 perwira tinggi (pati) dan perwira menengah (pamen) yang dirotasi pada Desember 2025.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengungkapkan mutasi ini merupakan hal yang wajar dalam organisasi Polri.
Menariknya, dalam mutasi kali ini, tercatat 35 polisi wanita (polwan) mendapatkan promosi.
"Brigjen Pol Dr. Sulastiana, S.IP., M.Si. Auditor Kepolisian Utama Tk II Itwasum Polri diangkat dalam jabatan baru sebagai Wakapolda Papua Barat," tulis surat telegram Kapolri.
Tak hanya itu, enam polwan juga dipercaya menjabat sebagai Kapolres di berbagai daerah, antara lain di Karimun, Majalengka, Batang, Tebing Tinggi, Purbalingga, dan Samosir.
Penugasan terhadap Brigjen Pol. Sulastiana, mencerminkan kepercayaan pimpinan Polri terhadap kapasitas dan kepemimpinan polwan di lapangan.
Brigjen Pol Sulastiana, polwan pertama yang menjabat sebagai Wakil Kepala Polda (Wakapolda) Papua Barat.
Jenderal bintang satu ini sebelumnya sempat menjabat sebagai Irbidjemengarku Itwil II Itwasum Polri terlebih dahulu. Sulastiana bukanlah lulusan Akademi Kepolisian (Akpol), melainkan lulusan sekolah perwira prajurit karier (Sepa PK Polri) 1996.
Ia pernah menjadi Dosen Program Sarjana dan Program Doktoral Ilmu Kepolisian, Dosen FH Universitas Kristen Indonesia, Dosen Pascasarjana Universtias Indonesia Program Ketahanan Nasional.
Ada enam perwira tinggi berpangkat Irjen. Irjen Pol Basaria Panjaitan adalah yang terkenal.
Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua KPK.
Kini sisa empat jenderal yang aktif. Mereka adalah Brigjen Pol Desy Andriani, Brigjen Pol Nurul Azizah, Brigjen Pol. Sulastiana, dan Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti.
Brigjen Pol Sumy, merupakan ahli forensik wanita di Indonesia yang telah berkiprah hingga tingkat internasional.
Saat ini Brigjen Pol. Sumy Hastry Purwanti,menjabat sebagai Tenaga Dokkes Investigasi Kepolisian Utama Tk. II Pusdokkes Polri.
Brigjen Hastry dalam tugasnya membuat layanan forensik klinik (Forklin) secara khusus demi keberpihakan kepada korban kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.
Lima Polwan Berpangkat jenderal
Sementara itu, hingga kini ada lima Polwan Polri yang berpangkat jenderal dan menduduki jabatan strategis di institusi Polri. Yakni Brigjen Pol. Desy Andriani, Brigjen Pol. Rinny Shirley Theresia Wowor, Brigjen Pol. Nurul Azizah, Brigjen Pol. Arrafina Zessa Devy, dan terbaru Brigjen Pol. Sumy Hastry.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan pada rotasi dan mutasi ini ada posisi spesifik untuk jabatan anggota polwan. Dia berharap hal ini bisa menjawab harapan masyarakat yang membutuhkan layanan khusus yang hanya bisa dilakukan oleh polwan.
Kapolri menunjuk 35 polwan untuk menduduki jabatan strategis seperti Direktorat Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pidana Perdagangan Orang (PPA-PPO). Direktorat PPA-PPO yang sebelumnya baru ada di Bareskrim Mabes, kini sudah ada di sejumlah polda.
Pengalaman di Bidang Kehumasan
Bahkan, juga ada polwan yang ditunjuk menjadi wakil kepala kepolisian daerah (wakapolda), yakni Brigjen Sulastiana yang dipercaya menjabat sebagai Wakapolda Papua Barat.
Dikutip dari Wikipedia, Dr. Sulastiana, S.IP., M.Si adalah seorang polisi wanita sekaligus perwira tinggi Polri.
Wanita kelahiran Situbondo, Jawa Timur, pada 10 Oktober 1972 itu saat ini resmi menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Daerah atau Wakapolda Papua Barat.
Ia mendapatkan posisi strategis itu setelah sebelumnya menjabat sebagai auditor Kepolisian Madya Tingkat I Itwasum Polri.
Berdasarkan data yang dihimpun Surabaya Pagi, Sulastiana telah mengantongi pengalaman di bidang kehumasan, kerja sama luar negeri, kerja sama nasional, pemberdayaan masyarakat serta SDM Polri, penanganan kriminal, pendidikan dan pengawasan.
Wanita ini juga sudah "makan asam garam" dalam dunia pendidikan. Tercatat di tahun 1995 dia telah mengantongi gelar sarjana ilmu politik bidang hubungan internasional.
Selanjutnya dia menyabet gelar magister ilmu administrasi dan pengembangan SDM pada 2001, sarjana hukum pada 2007 dan terakhir doktor kriminologi pada 2013 dengan predikat cum laude.
Untuk pendidikan non-formal, dia juga mengenyam bangku pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional pada 2018.
Sulastiana juga aktif di dunia pendidikan dengan bertindak sebagai dosen di beberapa universitas.
Hingga saat ini, dia tercatat sebagai dosen di tiga universitas yakni Universitas Indonesia sebagai dosen Pasca Sarjana program Ketahanan Nasional, dosen Program Sarjana dan Program Kedokteran Ilmu Kepolisian serta dosen Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Islam As Safi'iyah.
"Saya kira ini adalah rotasi biasa, namun demikian di sini mungkin yang rekan-rekan lihat bahwa kami mengisi posisi-posisi jabatan Direktorat PPA dan PPO yang kami isi secara spesifik dari teman-teman dari anggota polwan ya. Dan ini mudah-mudahan juga bisa menjawab terkait dengan harapan dari masyarakat yang memang harus diberikan layanan khusus," kata Kapolri.
"Dan ini hanya bisa dilakukan oleh polwan. Dan ada juga posisi Wakapolda yang kami isi dengan polwan juga. Ke depan kita akan terus lakukan perbaikan," i
kata Jenderal Sigit di Balai Kartini, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (20/12/2025).
Perhatikan Masalah Gender
Kapolri mengatakan mutasi dan rotasi dilakukan untuk kebutuhan penguatan organisasi Polri. Dia mengatakan mutasi dan rotasi juga turut memperhatikan masukan dari Komisi Percepatan Reformasi Polri.
"Saya kira ini adalah hal yang biasa, dan tentunya masukan-masukan selama kami diskusi dengan Tim Reformasi, bagaimana kita juga harus memperhatikan masalah gender, masalah hal-hal yang memang selama ini menjadi perhatian publik, kemudian ruang-ruang yang harus kita berikan kepada anggota-anggota, merit sistem dan sebagainya, tentunya itu juga menjadi perhatian dari tim yang ada," ujar Kapolri.
Melansir data Women in Law Enforcement in the ASEAN Region 2020, jumlah Polwan di Indonesia hanya sekitar 6�ri keseluruhan anggota polisi. Data tersebut merupakan laporan studi Organisasi Polisi Kriminalitas Internasional (Interpol), Badan PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women), dan Kantor PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC).
Jika merujuk data Polri terbaru secara lebih rinci, jumlah SDM Polri tahun 2021 menunjukkan jumlah polwan di Indonesia sebanyak 24.772 orang dari jumlah total anggota polisi 416.414 orang. Dari segi kepangkatan, 3 polwan berpangkat perwira tinggi, 1.477 perwira menengah, 3.412 perwira pertama, dan 19.830 bintara.
Kesetaraan Gender di Polri
Koordinator dan pengurus pusat LBH Apik Indonesia, Asnifriyanti Damanik mengatakan strategisnya posisi polwan yang tidak dibarengi dengan jumlah yang memadai menunjukkan bahwa tantangan Polri soal kesetaraan gender di tubuh institusinya masih perlu mendapat perhatian serius.
Dikutip dari akun https://humas.polri.go.id25 Sept 2025, Perwira Tinggi Baintelkam Polri, Irjen Pol Arradina Zessa Devy, menegaskan komitmen Polri untuk memperkuat pengarusutamaan gender (PUG) melalui peta jalan yang terintegrasi dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Saat ini, terdapat 28.302 personel polwan atau 6,4 persen dari total anggota Polri yang berjumlah 443.971 personel. Angka tersebut masih jauh dari target keterwakilan 30 persen. “Polwan adalah representasi nyata hadirnya negara bagi perempuan dan anak.
Dibandingkan dengan perempuan polisi dari negara-negara lain, perempuan polisi dari Indonesia atau yang dikenal sebagai polisi wanita, masih jauh tertinggal baik persentasi maupun peran kepemimpinan. Padahal, perempuan memiliki potensi dan keunggulan khusus ketimbang laki-laki polisi.
Diakui, di tengah pusaran krisis kepercayaan publik yang melanda Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), peran polisi wanita (polwan) sangat dibutuhkan untuk membangun kepercayaan (trust) dan kedekatan Polri dengan masyarakat. Hal ini sejalan dengan karakter kepemimpinan masa depan yang membutuhkan empati, komunikasi yang baik, sensitivitas sosial, kemampuan adaptasi digital, serta kemampuan membangun kepercayaan publik.
Kehadiran polwan tak bisa ditawar lagi, menyusul tantangan keamanan yang semakin kompleks, dipenuhi kejahatan siber, disinformasi dan polarisasi digital. n jk/erc/ltb/rmc
Editor : Moch Ilham