SURABAYAPAGI.COM, Lamongan – Waktu hitung mundur (timer) lampu lalu lintas yang hanya 10 detik diduga menjadi pemicu kemacetan parah di perempatan Pasar Sidoharjo, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan, Kamis (26/2/2026).
Pantauan di lokasi, antrean kendaraan roda dua maupun roda empat mengular hingga ratusan meter, terutama dari arah selatan dan barat pasar.
Dari arah selatan mobil mengular sampai SPBU Kalikapas, sedangkan dari arah barat antrian mobil sampai depan Pasar Sidomulyo.
Kondisi tersebut diperparah dengan aktivitas warga yang keluar masuk area pasar pada jam-jam sibuk pagi dan siang hari.
Sejumlah pengendara mengeluhkan durasi lampu hijau yang dinilai terlalu singkat. “Lampu hijaunya cuma sebentar, baru jalan sudah merah lagi. Akhirnya yang lolos cuma beberapa kendaraan saja,” ujar Rudi, salah satu pengendara motor yang melintas.
Menurutnya, waktu 10 detik sangat tidak ideal untuk perempatan dengan volume kendaraan tinggi seperti Pasar Sidoharjo. Apalagi, kawasan tersebut merupakan jalur utama distribusi dan akses masyarakat menuju pusat kota.
Selain faktor timer, kepadatan juga dipicu kendaraan yang parkir sembarangan di bahu jalan serta angkutan barang yang berhenti terlalu lama untuk menaikkan dan menurunkan barang.
Beberapa warga berharap Dinas Perhubungan Kabupaten Lamongan segera melakukan evaluasi terhadap pengaturan lampu lalu lintas tersebut.
“Minimal ditambah durasinya atau diatur ulang sesuai kepadatan kendaraan. Kalau tidak, kemacetan akan terus terjadi setiap hari,” kata Siti, pedagang setempat.
Dianto Hari Wibowo, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Lamongan saat dikonfirmasi pada Kamis (26/2/2026) menyampaikan terima kasih atas informasi terkait ketidaknyamanan pengendara saat berada di perempatan Pasar Sidoharjo, karena timer waktu mundur Traffic Light terlalu cepat.
Pihaknya akan segera melakukan koordinasi dengan Dinas Propinsi Jawa Timur, untuk kembali mengatur waktu yang pas untuk menghindari kemacetan.
"Terima kasih info awalnya mas. Nanti kami minta rekan-rekan untuk koordinasikan lagi dengan Propinsi terkait waktu yang pas untuk hindari kemacetan," ujarnya.
Meskipun kata Dianto, ia menyebutkan memang plus minus ketika dibuat tiga fase lebih cepat lolos Traffic Light (TL), tapi potensi kecelakaan lebih tinggi. Sedangkan dibuat empat fase memang ada penumpukan lebih lama ditambah juga ada aktifitas perbaikan jalan di sekitar perempatan tersebut. jir
Editor : Moch Ilham