SURABAYAPAGI.com, Ngawi - Melihat kondisi terkini lantai dua Pasar Besar Ngawi (PBN) yang kian lesu hingga banyak yang gulung tikar kini menjadi perhatian serius pemerintah daerah setempat. Selain sepi pembeli, lantai dua kian lengang karena banyak kios beralih fungsi menjadi gudang. Sebuah kondisi yang ironis di tengah gencarnya penarikan retribusi oleh Pemkab Ngawi demi menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Tenaga Kerja (DPPTK) Kabupaten Ngawi harus memutar otak guna menghidupkan kembali urat nadi perekonomian di area tersebut. Pasalnya, dari total 1.196 unit los dan kios yang tersedia di PBN tercatat ada 266 kios yang saat ini berhenti beroperasi. Sementara itu 930 kios lainnya terpantau masih aktif bertahan dan mayoritas lapak yang memilih tutup berada di lantai dua yang didominasi oleh pedagang pakaian dan produk fashion.
Demi mengatasi persoalan tersebut, DPPTK Ngawi tengah menggandeng pelaku usaha teknologi serta ekosistem digital. Kehadiran pusat gawaii dan konter smartphone ini diproyeksikan mampu memecah kesunyian pasar sekaligus memperpanjang jam operasional pedagang hingga malam hari. Langkah kolaborasi dengan merek ritel besar dan pelaku UMKM dinilai menjadi opsi paling realistis saat ini.
"Kami akan mencoba menggandeng beberapa provider, ritel seperti Maju Hardware serta pelaku UKM untuk memberi mereka kesempatan berkembang disana sehingga toko-toko tersebut bisa beroperasi hingga malam hari dan bisa meramaikan area pedagang pakaian juga," ujar Kepala DPPTK Ngawi, Kusumawati Nilam Sulandrianingrum, Senin (13/07/2026).
Lebih lanjut, untuk menyadari pemulihan Pasar Besar Ngawi tersebut, pihaknya juga tidak bisa langsung mendapatkan proses instan, DPPTK Ngawi meminta masyarakat dan pedagang bersabar selagi pemerintah daerah mematangkan koordinasi serta langkah nyata guna menghidupkan kembali urat nadi perekonomian di sana. ng-01/dsy
Editor : Redaksi