SURABAYAPAGI.com, Bondowoso - Guna meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan tikus, termasuk hantavirus yang belakangan ramai diperbincangkan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bondowoso menghimbau masyarakat untuk memahami cara penularan dan langkah pencegahannya. Pasalnya, hantavirus dan leptospirosis memiliki sumber penularan yang sama, yakni tikus. Penularan dapat berasal dari air kencing, kotoran, maupun air liur tikus yang terinfeksi.
"Memang betul leptospirosis dan infeksi hantavirus ini sumber utamanya dari tikus, baik dari kencing, kotoran maupun air liurnya. Tetapi syaratnya tikus tersebut memang membawa bakteri atau virus penyebab penyakit," jelas Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso, dr. M. Jasin, Selasa (18/08/2026).
Menurutnya, perbedaan utama kedua penyakit itu terletak pada agen penyebabnya. Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira, sedangkan hantavirus disebabkan oleh virus hantavirus. Penyakit tersebut bukan penyakit baru. Berdasarkan berbagai referensi, penyakit tersebut sudah dikenal sejak tahun 1950-an dan pernah ditemukan di Indonesia pada era 1980-an.
"Kalau leptospirosis mengandung bakteri Leptospira. Kalau hantavirus mengandung virus hantavirus. Yang berbahaya adalah ketika tikus tersebut membawa bakteri atau virus tersebut," ujarnya.
Sehingga, untuk mencegah penularan, Jasin mengimbau masyarakat Bondowoso, khususnya petani, agar menggunakan alat pelindung diri saat beraktivitas di sawah. Terlebih saat musim panen ketika tikus dari area persawahan sering berpindah ke permukiman warga. "Pencegahan terbaik saat ke sawah adalah memakai sepatu boot. Untuk leptospirosis, penularan bisa terjadi melalui luka di tubuh yang terkena air kencing atau kotoran tikus," katanya.
Selain itu, hantavirus maupun leptospirosis juga berpotensi menyerang ginjal. Karena itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala-gejala tersebut, terutama setelah kontak dengan lingkungan yang berisiko terpapar tikus. bd-01/dsy
Editor : Redaksi