Diragukan Kapasitasnya, Budi Gunadi Menyesal Jadi Menkes

Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin menyesal dengan jabatan baru yang ia emban saat ini. Menurut Budi, dirinya lebih menikmati hidup ketika menjadi seorang Chief Executive Officer (CEO) sebuah perusahaan dibandingkan menjadi seorang menteri.

Hal tersebut diungkapkan mantan Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negera (BUMN) itu ketika menjadi pembicara dalam acara 11th Kompas 100 CEO Forum pada Kamis (21/01/2021) lalu.

“Terus terang begitu jadi menteri saya merasakan hidup sebagai CEO adalah jauh lebih baik dibandingkan hidup menjadi menteri kesehatan,” kata  Budi Gunadi.

Mantan Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) ini tak menjelaskan secara rinci alasan dirinya mengungkapkan hal tersebut. Budi hanya menjelaskan, selama menjadi menteri kesehatan dia merasakan waktu berjalan lebih lambat.

“Tiga minggu rasanya sebagai menteri kesehatan rasanya seperti 30 tahun menjadi CEO,” kata mantan Direktur Utama Bank Mandiri itu.

 Budi Gunadi Sadikin memang tidak memiliki latar belakang dunia kedokteran atau kesehatan. Namun demikian, dia bukan pemain baru dalam jajaran birokrasi pemerintahan.

Latar belakang Budi ini dipermasalahkan oleh Ketua DPP PKS Gamal Albinsaid. Menurutnya, Jokowi mengambil risiko. Gamal awalnya memaparkan negara yang memiliki menteri kesehatan bukan berlatar kesehatan seperti yang terjadi di Singapura hingga Amerika Serikat (AS). Diketahui, Gamal juga merupakan dokter.

Menurut Gamal, latar belakang pengetahuan merupakan hal penting. Dia meminta pemerintah menjelaskan alasan memilih Budi menjadi Menkes.

"Karena background pengetahuan itu menjadi penting, tetapi perspektif berikutnya saya memahami secara logika karena di beberapa negara maju mereka mulai memisahkan. Tetapi konteksnya pemerintah harus menjelaskan kenapa memilih beliau dan kenapa bukan memilih seorang tenaga kesehatan, yang itu memang memahami problem," katanya di Jakarta, kemarin.

Gamal mengatakan Budi perlu melakukan adaptasi di Kemenkes lantaran bukan berasal tenaga kesehatan. Gamal menambahkan, tugas berat Budi adalah melakukan reformasi sistem pelayanan kesehatan saat pendemi Corona.

"Karena ketika memilih orang yang bukan tenaga kesehatan dia perlu waktu adaptasi, lalu bagaimana bisa masuk ke dalam budaya sistem yang ada, kita sekarang punya tuntutan yang besar bagaimana beliau mampu mereformasi itu sistem pelayanan publik kita untuk menghadapi masalah pandemi," jelasnya.

Senada, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistirajuga meragukan kapasitas Budi. "Karena orang yang profesional di bidang ekonomi justru ditempatkan di pos kesehatan," ujar Bhima Yudhistira. Pasalnya, menurut Bhima,  Kementerian Kesehatan seharusnya dipimpin oleh figur yang memiliki pengetahuan dan pengalaman di sektor kesehatan.

"Apa tidak ada orang yang lebih kompeten, lebih menguasai bidang kesehatan masyarakat dari jajaran birokrat karir atau akademisi, sehingga kebijakan-kebijakannya pun bisa lebih terukur berbasis data," tuturnya.

Keraguan terhadap Budi juga ditegaskan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo Hariyadi Sukamdani. “Mungkin yang cukup menimbulkan pertanyaan adalah penunjukan Budi Gunadi Sadikin sebagai Menteri Kesehatan karena background-nya bukan kesehatan,” kata Hariyadi.

Oleh karena itu, Hariyadi berharap Budi Gunadi Sadikin dapat segera beradaptasi dan meyakinkan publik mengenai kemampuannya. Kepastian ini diperlukan mengingat keberhasilan penanganan sektor kesehatan selama pandemi menjadi kunci bagi pemulihan ekonomi ke depannya.

"Sektor kesehatan adalah garda terdepan yang kalau ada masalah efeknya bisa besar. Saya harap kerjanya bisa lebih baik karena ini situasi yang berbeda,” lanjutnya.

 

Lulusan Fisika Nuklir

Mengutip laman resmi Kementerian BUMN, profil Budi Gunadi Sadikin merupakan wajah lama di Kementerian BUMN. Ia beberapa wara-wiri menjabat berbagai posisi strategis di berbagai perusahaan pelat merah.

Berkuliah di bidang Fisika Nuklir di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lulus pada 1988, dirinya justru memilih berkarier di bidang keuangan.

Namanya mulai dikenal publik setelah didaulat menjadi Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang saat itu menjadi bank dengan aset terbesar di Indonesia. Kariernya sebagai bankir terbilang sangat senior.

Perjalanan karier Budi Sadikin di sektor keuangan cukup berliku, dari asuransi hingga perbankan. Sempat menjadi Staf Teknologi Informasi di IBM Asia Pasifik, Tokyo, Jepang, pada 1988–1994, dia pernah menjadi General Manager Electronic Banking dan Chief GM Jakarta.

Tercatat ia pertama kali menjadi bankir saat bergabung dengan Bank Bali, Ia dipercaya memegang beberapa jabatan. Termasuk Chief General Manager Regional Jakarta.

Selepas dari Bank Bali, ia pernah menjabat sebagai Director of Consumer and Commercial Banking (Senior Vice President) untuk ABN AMRO Bank Indonesia & Malaysia.

Keluar dari ABN AMRO Bank, Budi melanjutkan karier perbankannya dengan bergabung di PT Bank Danamon Tbk. sebagai Head of Consumer Banking (Executive Vice President). Ia juga sempat menjadi Direktur Adira Quantum Multi Finance.

Budi lalu berlabuh ke Bank Mandiri dengan posisi jabatan Direktur Micro dan Retail Banking. Kariernya terus melesat hingga kemudian ditunjuk pemegang saham menjadi Direktur Utama Bank Mandiri pada tahun 2013.

Sempat menjadi Staf Ahli Menteri BUMN Rini Soemarno di periode 2016-207, dia kemudian diangkat menjadi Direktur Utama PT Inalum (Persero) seiring terbentuknya holding BUMN tambang. jk/ar