Rugi Berkali-Kali, Kini Sukses Budidayakan Cacing ANC

Maryanto saat menata rak berisikan cacing ANC. SP/ TRG

SURABAYAPAGI.com, Trenggalek - Maryanto merupakan peternak cacing yang mulai merasakan keuntungan tetap saat ini. Ia mulai beternak atau budidaya cacing jenis African Night Crawler (ANC) yang kini menjadi sumber cuan tetap untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Cacing ANC merupakan cacing yang berasal dari dataran hangat Benua Afrika. Ukuran cacing ini dua kali lebih besar ketimbang cacing tanah. Kini, cacing yang punya banyak fungsi itu jamak dibudayakan di Indonesia.

Sebelum memulai usahanya, Maryanto terlebih dulu belajar ke para peternak cacing ANC yang sebelumnya telah sukses. “Saya sampai ke Banyuwangi, Malang, bahkan ke Jawa Tengah. Saat itu mencari referensi dari internet masih cukup susah,” sambungnya.

Dengan modal ilmu yang cukup, ia kembali lagi berbudidaya cacing. Kali ini lebih berhati-hati. Ia belajar bukan hanya soal cara mengembangbiakkan cacing, tapi juga cara menciptakan pasar. “Alhamdulillah mulai 2016, sudah survive sampai sekarang ini,” sambungnya.

Bertahun-tahun menekuni budidaya cacing jenis African Night Crawler (ANC). Kini ia bisa meraih pendapatan bersih sekitar Rp 4 juta per bulan, atau lebih dari 2 kali Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten Trenggalek.

“Ini tahun kesebelas saya budidaya cacing,” kata Maryanto, sembari memanen cacing-cacing yang ia budidayakan, Selasa (27/4/2021).

Ia nekat menggelontorkan uang tabungan Rp 10 juta untuk modal budidaya. Sayangnya, ilmu pembudidayaan yang ia miliki saat itu masih minim. Alhasil modal awal ludes, tak ada hasil. Itu terjadi ketika awal ia memulai budidaya cacing sekitar 2010. Dari pengalaman itu ia kembali memulai usaha dengan lebih hati-hati.

Untuk membudidayakan cacing ANC, Maryanto menggunakan media yang ia ciptakan sendiri dari hasil pengalamannya bertemu para peternak ulung. Sementara untuk pasar, ia kini menjadi salah satu rujukan para peternak burung, ikan, dan petambak udang vaname.

Dalam sebulan, Maryanto bisa panen hingga hampir 100 kilogram. Harga jualnya Rp 45 ribu per kilogram. Dari pengalamannya jatuh bangun, ia pun tak pelit membagi ilmu kepada para peternak cacing baru di Kabupaten Trenggalek.

Maryanto kini memiliki rekan kerja pembudidaya sebanyak enam orang. “Jadi mereka ambil bibit dari sini. Belajar di sini. Nanti kalau mereka panen, jualnya juga di sini,” pungkasnya. Dsy9