Tekan Tarif ocean freight, Terminal Teluk Lamong Berlakukan Sistem Digitalisasi

Suasana bongkar muat di Terminal Teluk Lamong . SP/SAMMY MANTOLAS

SURABAYAPAGI, Surabaya - Kelangkaan kontainer yang terjadi pada kuartal III tahun 2021, berimplikasi pada naiknya tarif pengiriman laut atau ocean freight di sejumlah pelabuhan.

Data dari Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) dan Dewan Pemakai Jasa Angkutan Laut Indonesia (Depalindo) menyebut, kenaikan ocean freight meroket hingga 500%. Parahnya lagi kenaikan ini terjadi di seluruh rute pelayaran utama.

Tahun 2020 misalnya untuk penyewaan kontainer 40 feet masih berada di kisaran US$2.500 dan saat ini sudah di kisaran US$16.000 atau setara dengan Rp229.792.000-, (kurs 14.362). Angka yang cukup ini akhirnya berpengaruh pada kinerja ekspor nasional yang terhambat.

Merespon kondisi yang ada, PT Terminal Teluk Lamong (TTL) turut memaksimalkan kontribusi untuk mengefisiensikan proses logistik. Salah satunya dengan melakukan inovasi teknologi yang dapat meningkatkan layanan.

Sekretaris Perusahaan PT Terminal Teluk Lamong, Arief Yarmanto dalam keterangannya kepada Surabaya Pagi menyebut, saat ini pihaknya tengah mengembangkan teknologi di terminal menuju Smart Port 4.0 yang sangat erat kaitannya dengan penerapan Internet of Things (IoT) pada dunia kepelabuhanan.

Penerapan sistem digital berbasis IoT di TTL kini tengah memasuki fase ketiga.

"Tantangan pelabuhan di masa depan adalah bagaimana dapat terus meningkatkan pelayanan dengan dukungan teknologi, sehingga kami berinisiatif untuk mengimplementasikan IoT dan memodifikasi sistem aplikasi pada proses operasional," kata Arief Yarmanto, Kamis (02/12/2021).

Selain mengimplementasikan teknologi baru, pihaknya kini tengah melakukan perbaikan terhadap infrastruktur dan sistem yang ada saat ini. Dengan perbaikan sistem dan infrastruktur, diharapkan mampu meningkatkan layanan operasional di seluruh area terminal.

"Secara operasional, PT Terminal Teluk Lamong didukung dengan sistem informasi berbasis komputer dan online system yakni Terminal Operation System (TOS)," akunya.

Senada dengan itu, Information Communication Technology Senior Manager TTL Hadi M Lukmantyo, menjelaskan, TTL telah memiliki master plan pengembangan teknologi informasi.

Tahun ini misalnya, pihak TTL telah melakukan pengembangan teknologi melalui Enhancement Terminal Operation System (TOS) yang mengelola seluruh proses bongkar muat.

Salah satu teknologi yang diintegrasikan dengan system TOS adalah pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) dan Global Positioning System (GPS) untuk percepatan job assignment ke armada truk dengan mengidentifikasi lokasi dan status muatan truk secara realtime.

Pemanfaatan teknologi IoT ini juga dimanfaatkan untuk memonitor penggunaan alat bongkar muat ditinjau dari aspek operasional. Selain itu, sistem ini juga dapat melakukan pengaturan rasio tiap kegiatan, serta optimalisasi pergerakan Automatic Stacking Cranes (ASC) di blok penumpukan petikemas.

"Adanya enhancement TOS dapat meningkatkan kinerja bongkar muat dan percepatan pelayanan receiving delivery, serta dapat juga memberikan potensi tambahan kapasitas sebanyak 11.867 box per tahun," kata Hadi.

Selain enhancement TOS, pihaknya juga tengah melakukan pemasangan sistem Radio Frequency Identification (RFID) reader pada masing-masing blok yang fungsinya untuk percepatan operasional lift on -  lift off  armada truk di lapangan penumpukan.

Sistem digitalisasi di TTL sendiri telah diujicobakan pada awal November 2021 lalu. Dari hasil evaluasi, sistem tersebut mampu membawa perubahan dalam pelayanan di Terminal Teluk Lamong.sem