•   Rabu, 19 Februari 2020
Pilpres 2019

Debat Capres Bocor, Lelucon Politik

( words)
Prabowo Subianto mengunjungi para korban bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Selasa (8/1/2019.


Alqomar, Zaafril
Wartawan Surabaya Pagi

Model baru debat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (Cawapres) pada Pilpres 2019, terus menuai polemik. Pasalnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang membocorkan kisi-kisi pertanyaan sebelum debat, membuat debat capres tidak menarik dan kurang greget. Bahkan, dinilai sebagai lelucon politik.
Demikian diungkapkan Pakar Komunikasi Politik Universitas Airlangga (Unair) Dr Suko Widodo, Pendiri lembaga survei KedaiKOPI Hendri Satrio dan Direktur Eksekutif Politik Voxpol Center Research and Consulting.
Untuk diketahui, dalam debat nanti KPU menggunakan dua metode. Yakni debat dengan pertanyaan terbuka dan tertutup. Untuk pertanyaan terbuka, masing-masing pasangan calon (paslon) akan mendapat bocoran soal dari tim panelis dalam jangka waktu satu minggu sebelum pelaksanaan debat.
Sedangkan untuk pertanyaan tertutup, akan menjadi panggung bagi paslon untuk saling lempar pertanyaan yang lazim diterapkan sebelumnya.
Menanggapi hal itu, Pakar Komunikasi Politik Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Suko Widodo mengatakan jika metode baru ini akan mengurangi ruh dari debat itu sendiri.
“Dengan model pertanyaan terbuka, tampaknya ada kesan kurang “spontan” yang bisa mengurangi greget debat,” katanya saat dihubungi, Selasa (8/1/2019).
Ia menjelaskan, greget dalam debat karena seakan-akan paslon telah mendapat kunci jawaban. Padahal seharusnya, paslon secara spontan harus menjawab dengan gagasan yang terlintas saat debat berlangsung. Sehingga, masyarakat akan mengetahui arah dari masing-masing paslon.
“Debat adalah aktivitas komunikasi yang tujuan akhirnya mencari pengaruh dan dukungan audience. Banyak model debat, tergantung dari pilihan penyelenggara. Debat merupakan sarana untuk “menguji” kualitas peserta. Mulai dari pesan visinya, dan argumentasi yang mendasarinya, serta mempertahankan kualitas gagasannya,” papar dia.
Ia pun menyayangkan langkah yang diambil oleh penyelenggara itu. Seharusnya, menurut Suko, KPU cukup memberikan tema saja tanpa memberikan kisi-kisi pertanyaan.
Tanpa Kejutan
Analis politik, Pangi Syarwi Chaniago melihat alasan yang digunakan KPU meniadakan pemaparan visi misi capres-cawapres terkesan lucu. Keputusan itu diambil berdasarkan rapat koordinasi (Rakor) bersama Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.
"Agak lucu ya. Lelucon politik yang menurut saya agak sedikit memalukan," ungkap Pangi, Selasa (8/1).
Justru dalam analisa dia, KPU tengah melindungi capres petahana agar tidak diserang oleh paslon lawan, Prabowo dan Sandiaga Uno dalam debat nanti. "Mungkin karena dianggap sang penantang itu akan menyerang petahana, maka pola pertanyaan ini mereka akali. Kira-kira begitulah, dengan cara membuat pertanyaan terbuka dengan adanya pertanyaan terbuka, maka pola penyerang debat-debat semestinya akan melemahkan petahana tidak terjadi," papar dia.
Ia prediksi debat capres-cawapres pada Kamis (17/1) nanti berlangsung tanpa kejutan sedikit pun. Masing-masing paslon hanya mempertontonkan hafalan masalah dan cara mengatasinya karena sudah dapat kisi-kisinya.
"Tidak ada pola yang kita harapkan seperti debat di negara maju. Di negara maju itu debatnya pola menyerang biasa. Membantah, menyerang, main kata baru bahwa anda keliru mengelola masalah ini, semestinya jalan berpikir anda ini sesat, jalan berpikir saya ini untuk menyelesaikan. Itu biasa," pungkasnya.[wid]
Tak Berpihak Rakyat
Hal senada diungkapkan Hendri Santrio, peneliti politik kedaiKOPI yang juga pakar komunikasi politik Universitas Paramadina. Ia menilai KPU lebih berpihak kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden dalam menentukan format debat Pilpres 2019.
Karena dalam format debat kali ini, KPU akan memberikan kisi-kisi pertanyaan kepada pasangan calon Capres-cawapres.
"Sayang sekali formatnya terlalu berpihak kepada pasangan calon daripada kepada rakyat. Padahal rakyat itu menunggu gaya otentik, jawaban otentik dari para capres-cawapres," terang Hendri Satrio.
Bahkan dia melihat, citra debat capres-cawapres kali ini tidak lebih baik dari ujian atau ulangan anak Sekolah Dasar (SD). "Citranya jadi tidak lebih baik dari ujian anak SD atau ulangan harian anak SD gitu," cetus dia. "Ulangan harian anak SD aja diberitahu pas mau ulangan. Ini sayang sekali," imbuhnya.
Hendri menambahkan, bila pertanyaan debat mendapat bocoran, maka bukan lagi capres dan cawapres yang menjawabnya. "Bahkan kalau dia tidak tahu pun, kita (rakyat-red) menunggu, si capres atau cawapres menjawab dia tidak tahu," ujarnya. Kalau pun salah jawabannya, lanjutnya, rakyat menjadi tahu dimana letak kesalahan tersebut. n

Berita Populer