Dalam sebuah wawancara dengan the Asia Society, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di New York, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengungkapkan tujuan baru AS di Suriah adalah mencegah pemerintah Suriah mengambil kembali wilayah perbatasan dari tangan pemberontak dan ISIS, dan bukan melawan kelompok teroris. NEW YORK, John Robbinson.
Zarif menuturkan, di saat negara lain, termasuk Iran berusaha untuk menyelesaikan krisis yang terjadi di Suriah, Amerika Serikat (AS) justru melakukan hal sebaliknya.
"Hari ini, bagi saya bahwa prioritas telah berubah dan bagi pemerintah AS, lebih penting untuk mencegah pemerintah Suriah mengambil alih perbatasan dengan Irak daripada mengalahkan ISIS," ucap Zarif, seperti dilansir Sputnik.
Dia kemudian menggarisbawahi, bahwa Teheran tertarik untuk mengakhiri konflik di Suriah. Pada saat bersamaan, menurut dia, penyelesaian krisis bukanlah tujuan prioritas bagi Washington.
Mengenai keterlibatan Iran di Suriah, diplomat Iran itu mengatakan tujuan utama Teheran adalah bukan untuk mendukung salah satu kelompok tersebut, tapi untuk memerangi kelompok terorisme.
Pemerintah Iran telah berulang kali menuduh AS mendukung kelompok militan di Suriah, termasuk ISIS dat al-Nusra. Pada bulan April, Presiden Iran Hassan Rouhani menuduh Washington membantu teroris setelah serangan rudal AS terhadap sebuah pangkalan udara Suriah, dengan mengatakan teroris sedang merayakan serangan tersebut.
Pada gilirannya, Gedung Putih telah mengkritik kebijakan Iran. Selama kunjungannya ke Arab Saudi pada bulan Mei, Presiden Donald Trump menuduh pemerintah Iran menjadi sebuah kediktatoran dan sponsor terorisme, dengan mengatakan bahwa Teheran telah memicu konflik sektarian dan teror di Timur Tengah. 06
Editor : Redaksi