Analisis Politik

Elite Manuver, Pemilih Pemula Bisa Abstain

surabayapagi.com
Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Elite politik ternyata mulai keluarkan taringnya. Apa? Kebelet raih kekuasaan. Buktinya, elite sebut jelang pendaftaran capres dan cawapres, sudah bikin manuver-manuver. Pemerintah pantau ada potensi keributan antarkontestan. Padahal pendaftaran capres dan cawapres tinggal 45 hari. Kini ada rencana pendaftaran capres dan cawapres dimajukan menjadi 10-16 Oktober 2023.

Taruhannya ke calon pemilih. Saatnya pemilih berpikir ulang. Pantaskah ia mesti menggunakan suaranya? Mengingat memilih itu hak. Bukan kewajiban.

Baca juga: Jokowi Ajak PSI Mati-matian, Diduga Pertahankan Dinastinya

Soal hak pilih, era saya masih remaja, ada yang menggunakan dan tidak. Bagi WNI yang punya hak suara tapi tak coblos disebut, golput. Nah, golongan apatis ini yang diincar KPU. Diincar agak tidak golput.

Istilah ini selalu muncul mendekati hari-hari pemilihan umum. Padahal, saat ini baru mau pendaftaran. Apakah manuver politik dari sejumlah elite akan menurunkan tingkat kecuekan dan apatis calon pemilih. Sejauh ini untuk calon pemilih yang mayoritas pemuda belum ada penelitian yang dipublish.

Saya yang saat masih kuliah jarang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) was-was calon pemilih pemula tidak mau cawe-cawe dengan kondisi politik. Mereka bisa mengambil keputusan spontan tidak memilih ke TPS untuk mencoblos. Mereka memilih untuk tidak memilih. Gawat!

Saya dulu mencatat bahwa golput adalah gerakan perlawanan. Melawan Pemilu yang dinilai tidak demokratis. Sekarang beda! Gerakan melawan elite yang haus kekuasaan.

 

***

 

Tahun lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2024 sebanyak 204.807.222 pemilih.

Sedangkan jumlah pemilih dari generasi milenial sebanyak 66.822.389 orang atau 33,60 persen.

Dalam bahasa gaul, generasi milenial adalah sebutan untuk orang-orang yang lahir tahun 1980 sampai 1994. Jika ditotalkan, pemilih dari generasi Z dan milenial ini berjumlah 113.622.550 orang.

Sebagai pemilih pemula, mereka berarti untuk pertama kalinya mengikuti pencoblosan.

Baca juga: Pimpinan BUMN Akal-akalan, Perlu Diungkap Modusnya

Untuk diketahui Pemilu 2024 terdiri dari Pemilu Legislatif untuk memilih anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Secara bersamaan dilaksanakan pula Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Indonesia untuk periode 2024-2029.

Dan jumlah Partai Politik yang ditetapkan sebelumnya berjumlah 17 Partai Politik yang lolos verifikasi administrasi dan faktual sebagai peserta Pemilu 2024. Kini ada pembaruan data Partai Politik Peserta Pemilu 2024 dari yang sebelumnya berjumlah 17 Partai Nasional dan 6 Partai Lokal Aceh, bertambah menjadi 18 Partai.

Tantangan KPU, mampukah semua calon pemilih mau menggunakan hak pilih Presiden dan Wakil Presiden, Anggota DPR RI, Anggota DPRD Provinsi dan Anggota DPRD Kabupaten/Kota.

Anggota DPD.? Wow, banyak formulir yang mesti dicoblos. Ini bisa jadi faktor pemilih "bingung".

Sebagai jurnalis, saya paham Pemilihan Umum bertujuan untuk memiiih wakil rakyat di lembaga permusyawaratan/perwakilan rakyat. Selain membentuk pemerintahan baru. Pemerintah yang melanjutkan perjuangan mengisi kemerdekaan, dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. ini formalitasnya. Aspek materiilnya pasti memilih penguasa baru. Ibaratnya, manuver politik itu karung bergelimpangan. Disana diisi kucing. Ada kucing jinak. Tak sedikit berisi kucing dari hutan. Ada sifat liarnya. Nah, pemilih pemula mesti diedukasi agar tidak memilih karung berisi kucing liar.

Kucing liar adalah kucing yang hampir tidak pernah melakukan kontak dengan manusia. Mereka cenderung hidup menyendiri di jalanan, dan akan lari ketika berpapasan dengan manusia. Nah, apakah elite kayak kucing liar yang mesti di pilih. No, no, no. Itu istilah teman saya dari Australia. Saya gunakan pemilih pemula bisa abstain ini eufisme dari golput.

Baca juga: Berharap Eks Menag Dihukum Berat

Sebagai jurnalis saya tergerak memberi pencerahan kepada pemilih pemula. Mengapa elite politik lebih haus akan kekuasaan daripada kebenaran ?

Secara moral, haus kekuasaan membuat elite semakin dahaga dan tersesat. Mengingat, dalam bahasa filsafat, saat orang haus kekuasaan, dahaganya terpenuhi ambisi yang berlebihan.

Ada semacam kodrat, kekuasaan dan kedudukan memang selalu menarik manusia. Menarik untuk diperebutkannya. Kayak sekarang, elite berlomba - lomba untuk mendapatkannya walaupun dengan membongkar baliho, melompat parpol lain sampai pukuli kader. Ada semacam pengorbanan darah dan biaya yang tak terkira.

Akal sehat saya berteriak hai elite apa yang kau gapai mengejar kekuasaan dan kedudukan? Apalah Anda sadar uber kekuasaan tanpa moral hanya bisa dapatkan kenamaan yang belum tentu bernilai .

Dalam banyak kasus, kekuasaan dan kedudukan politik seringkali justru membuat elite tersesat! Seperti Juliari P. Batubara dan Johnny G Plate? Saya tak paham, elite semacam itu berbekal kepintaran semu dan kebodohan nyata!

Saya mengamati elite partai yang berulang-ulang nyaleg sepanjang hidupnya bagian dari kehausan akan kekuasaan?. Nyata! Cara yang dilakukan maju sebagai caleg, capres dan cawapres adalah cermin orang orang yang haus kekuasaan. Saya ikuti, kekuasaan memang bisa memaksa kita membutakan hati nurani dan menutup mata hati. Subhanallah. (radityakhadaffi@gmail.com)

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru