SURABAYAPAGI.com, NTT - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki menilai tren industri fesyen saat ini sedang mengarah ke kain-kain yang memiliki nilai tinggi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Menurut Teten, salah satunya adalah karya tenun Karaja Sumba, Nusa Tenggara Timur, yang dinilai layak menjadi produk high end yang bernilai ekonomi tinggi karena memiliki nilai sejarah.
Baca juga: Jaga Eksistensi Budaya, Pemkot Kediri Tingkatkan Kapasitas Pelaku Seni dan Budaya Melalui Bimtek
“Kita tahu tenun Sumba ini merupakan budaya yang luar biasa dan punya potensi ekonomi untuk dikembangkan. Selama ini, tenun ini sudah dikenal dunia. Kita harus terus kembangkan tenun ini sehingga mampu menjadi produk high end,” kata MenKopUKM Teten Masduki, Selasa (19/12/2023).
Bahkan, lebih lanjut, ia mencontohkan merek fesyen kenamaan Dior yang pernah memakai kain tenun Geringsing Bali. Sehingga, sama halnya kedepan dengan Tenun Karaja Sumba yang kedepan akan menjadi produk yang sangat baik dan bernilai tinggi, karena menggunakan pewarna alami dan dapat menjadi produk green economy.
“Ini jadi potensi, kita sudah bicara dan bekerja sama dengan Sekolah Prancis bahkan New York, agar karya desainer kita bisa masuk pasar dunia. Ada momen yang bisa kita manfaatkan, saya optimistis bahwa batik dan tenun bisa masuk ke sana,” ujarnya.
Baca juga: Lewat KEN 2026, Kemenekraf Catat Festival Jaranan Trenggalek Resmi Diakui Nasional
Oleh karena itu, ia menekankan tenun Karaja Sumba harus dijual mahal dengan dua pendekatan, yaitu menjualnya ke pasar ekspor atau menarik para pembeli untuk datang ke Sumba.
“Jadi Sumba mengunjungi dunia atau dunia mengunjungi Sumba. Sudah ada hotel yang bagus, tinggal kita kembangkan lagi resort untuk penduduk agar bisa menikmati keuntungan ekonomi. Jadi kain Sumba bisa menjadi oleh-oleh premium dari Sumba. Ini harus dihargai tinggi,” jelasnya.
Baca juga: Mojotirto Festival 2026: Ritual Sakral Pelestarian Air dan Penguatan Identitas Budaya Kota Mojokerto
Diketahui saat ini Tenun Karaja menjadi tenun yang hampir punah karena transformasi manusia yang serba ingin instan. Maka dari itu, MenKopUKM berpikir untuk kembali memberdayakan pembuatan tenun Karaja.
Disatu sisi, pelestarian budaya menenun yang telah berjalan 3 tahun tersebut kini telah mengayomi lebih dari 100 penenun dengan 40 persen usianya 19-40 tahun, sedangkan sisanya berusia 50-70 tahun. Omset sejak 2019 pun tercatat telah mencapai Rp 300 juta. ntt-01/dsy
Editor : Desy Ayu