Serang RS Gaza-Bunuh Jurnalis, Dibalas Iran

surabayapagi.com
Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Beberapa bulan lalu, menurut catatan jurnalistik saya, Israel sering mengebom rumah sakit di Gaza dan Iran. Dan kini Israel menerima balasannya.

Seperti operasi militernya di Gaza, Israel mengulangi pola yang sama di Iran, yaitu, menargetkan rumah sakit dan media massa, termasuk para jurnalis.

Baca juga: Pilkada Melalui DPRD, Ada Cagub Setuju, Murah!

Senin, 16 Juni 2025 lalu, Israel melancarkan serangan udara yang menargetkan kantor pusat penyiaran negara Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), yang terletak di Distrik Tiga Teheran, demikian Al Jazeera melaporkan.

Serangan itu terjadi selama siaran langsung, tiba-tiba menghentikan transmisi dengan ledakan yang memenuhi studio dengan debu dan puing-puing, memaksa pembawa acara Sahar Emami untuk melarikan diri dari lokasi syuting saat layar diselimuti asap. Setelah ledakan itu, siaran beralih ke program yang direkam sebelumnya tetapi dilanjutkan langsung segera setelah itu dari studio yang berbeda. Hebatnya, Emami kembali mengudara di tengah asap dan api yang terlihat di luar.

Kini, gantian. Rumah sakit Soroka Israel dihantam rudal Iran. Akibatnya atap Rumah Sakit Soroka ambruk.

Rudal Iran itu dilaporkan telah menyerang Rumah Sakit Soroka di kota Be'er Sheva di Israel selatan.

Praktis, dilaporkan oleh beberapa media internasional, rudal-rudal terus diluncurkan Iran dan menghantam pusat kota Tel Aviv serta daerah lainnya di Israel. Tak terkecuali pusat kesehatan atau rumah sakit di negara tersebut.

Rudal-rudal Iran dikabarkan telah menyasar rumah sakit di Israel, yakni Pusat Medis Soroka di Beersheba.

Terlihat dari video yang beredar, serangan rumah sakit itu membuat nakes dan pasien berlarian untuk mendapatkan perlindungan,

Dikutip dari The Times of Israel, Sara Bushri, seorang relawan di rumah sakit tersebut  menjelaskan bahwa puing-puing akibat rudal tersebut jatuh ke tempat tidur pasien.

Dikutip dari Times of Israel, rumah sakit di Israel bagian tengah mengatakan ada enam orang yang dirawat dalam kondisi serius setelah serangan rudal pagi ini. Dua dari mereka berada di Sheba Medical Center di Ramat Gan, dan empat lainnya berada di Wolfson Medical Center di Holon.

Rumah sakit yang juga mendapat serangan dari rudal Iran adalah rumah sakit utama di Israel selatan. Pejabat kesehatan melaporkan rumah sakit tersebut mendapat serangan langsung pada Kamis (19/6/2025) dan mengalami kerusakan parah.

Serangan juga diluncurkan ke wilayah Tel Aviv, di Israel Tengah. Salah satu rumah sakit di Tel Aviv menerima 16 orang yang terluka, tiga di antaranya mengalami luka serius.

Pusat Medis Soroka di Beer Sheba juga mengalami kerusakan yang parah dan menyebabkan beberapa orang terluka. Bahkan, juru bicara rumah sakit meminta agar tidak ada lagi pasien yang datang ke rumah sakit tersebut untuk berobat.

Berdasarkan laporan pejabat Israel, para pasien yang berada di rumah sakit yang terkena serangan telah dievakuasi. Peristiwa ini seperti tidak dirasakan Israel, sebagai serangan balas dendam dari negara muslim.

 

***

 

Menurut Al Jazeera, operasi militer Israel di Gaza, telah berulang kali menargetkan rumah sakit dan fasilitas perawatan kesehatan, yang mengakibatkan kerusakan parah, hilangnya nyawa, dan terganggunya layanan medis penting.

Israel biasanya membenarkan serangan ini dengan menuduh bahwa kelompok Palestina bersenjata, seperti Hamas atau Jihad Islam Palestina, menggunakan rumah sakit sebagai pusat komando, tempat penyimpanan senjata, atau untuk tujuan militer lainnya. Nah! Tuduhan zionis seenak udelnya.

Misalnya: Dalam kasus Rumah Sakit Arab al-Ahli, militer Israel mengklaim telah menargetkan "pusat komando dan kendali" yang digunakan oleh Hamas atau Jihad Islam di dalam area rumah sakit, meskipun tidak ada bukti independen yang diberikan untuk mendukung klaim ini.

Selama serangan terhadap Rumah Sakit Nasser, Israel menegaskan bahwa operasinya ditujukan untuk mengganggu dugaan aktivitas militer Hamas dan mengklaim upaya telah dilakukan untuk meminimalkan bahaya bagi pasien dan staf medis.

Organisasi internasional dan tenaga medis sering kali membantah adanya aktivitas militer yang signifikan di dalam rumah sakit tersebut. Investigasi independen sering kali menemukan sedikit atau tidak ada bukti yang mendukung klaim Israel, dan penghancuran fasilitas medis. Serangan ini telah dikutuk sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional, yang memberikan perlindungan khusus kepada rumah sakit kecuali dalam keadaan yang sangat terbatas.

Belum jelas motif Israel menargetkan rumah sakit di Iran.

 

***

Baca juga: Atlet Berprestasi, Bonus dan Jaminan Hari Tuanya

 

Menurut Relief Web, Gaza telah menjadi zona konflik paling mematikan bagi jurnalis dalam beberapa tahun terakhir. Lebih dari 200 jurnalis telah terbunuh, dengan lebih banyak lagi yang terluka atau ditangkap sejak Oktober 2023.

Pasukan Israel telah menargetkan jurnalis di berbagai tempat termasuk saat melaporkan dari lapangan, di dalam tenda pers yang ditandai dengan jelas, dan bahkan di rumah mereka.

Militer Israel terkadang menuduh bahwa jurnalis yang menjadi target berafiliasi dengan kelompok bersenjata atau terlibat dalam kegiatan permusuhan, tetapi klaim ini sering kali dibuat tanpa bukti publik.

Dalam perang melawan Iran, Israel juga memasukkan media massa sebagai musuh yang harus dilenyapkan. Serangan tersebut terjadi tak lama setelah militer Israel mengeluarkan ancaman untuk Distrik Tiga Teheran, tempat markas besar IRIB berada. Menteri Pertahanan Israel Katz, seperti dikutip Al Jazeera, mengatakan, "Corong propaganda dan penghasutan Iran sedang dalam perjalanan untuk menghilang."

Israel memiliki sejarah kelam dalam menyerang organisasi media dan jurnalis. Pada Oktober 2024, Israel menargetkan studio al-Manar TV yang berafiliasi dengan Hizbullah di Beirut selatan selama gelombang serangan di Lebanon.

Jauh sebelum serangan 7 Oktober 2023, Israel pun telah menargetkan para jurnalis. Pada Mei 2021, sebuah roket menargetkan dan menghancurkan gedung al-Jalaa berlantai 11 di Kota Gaza, yang menjadi kantor pusat Al Jazeera dan The Associated Press.

Shireen Abu Akleh, jurnalis Al Jazeera Amerika keturunan Palestina, dibunuh oleh pasukan Israel pada Mei 2022 di Jenin di Tepi Barat yang diduduki. Dia adalah seorang koresponden televisi veteran yang menjadi terkenal di seluruh dunia Arab karena liputannya yang berani tentang konflik Israel-Palestina.

Kelompok hak asasi manusia internasional dan pendukung kebebasan pers telah mendokumentasikan pola sistematis penargetan jurnalis dan infrastruktur media di Gaza. Para ahli dan organisasi berpendapat, seperti dikutip Relief Web, bahwa tindakan ini memiliki beberapa tujuan, antara lain menekan pelaporan independen.

Dengan menargetkan jurnalis dan membatasi akses media internasional, Israel membatasi dokumentasi independen atas peristiwa di lapangan, sehingga menyulitkan dunia untuk memverifikasi atau menantang narasi resmi.

Penghancuran kantor media dan pembunuhan jurnalis dipandang sebagai upaya yang disengaja untuk membungkam suara-suara yang dapat mengungkap potensi kejahatan perang atau pelanggaran hak asasi manusia.

Serangan yang sedang berlangsung terjadi di tengah apa yang digambarkan oleh para pengamat sebagai "kurangnya akuntabilitas internasional," yang, menurut mereka, membuat pasukan Israel semakin berani untuk melanjutkan tindakan tersebut tanpa takut akan konsekuensi hukum.

Berdasarkan Konvensi Jenewa, rumah sakit dan jurnalis diberikan perlindungan khusus selama konflik bersenjata. Serangan terhadap rumah sakit hanya diizinkan jika digunakan untuk tujuan militer, dan itupun hanya setelah peringatan dan proporsionalitas dipertimbangkan.

Baca juga: MBG, Siapa yang Berani Kritik

Jurnalis juga dilindungi sebagai warga sipil kecuali mereka secara langsung berpartisipasi dalam permusuhan. Banyak pengamat internasional dan pakar hukum berpendapat bahwa skala dan pola serangan terhadap rumah sakit dan jurnalis di Gaza merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan dapat dianggap sebagai kejahatan perang. Kini, Israel mengulanginya di Iran tanpa tersentuh hukum.

 

***

 

Website Anadolu Agency, pekan ini menyiarkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei berjanji akan membalas dendam serangan-serangan Israel setelah Iran terkena serangan yang menargetkan fasilitas nuklir dan kemampuan rudal jarak jauhnya pada Jumat.

“Rezim Zionis telah melakukan kejahatan di negara kita tercinta hari ini dini hari dengan tangannya yang kejam dan berlumuran darah,” kata Khamenei di X, sambil mengatakan bahwa Israel telah menunjukkan sifat jahatnya lebih dari sebelumnya dengan menargetkan wilayah permukiman.

Menanggapi serangan tersebut, Khamenei mengatakan "rezim harus mengantisipasi hukuman berat.”

“Berkat karunia Tuhan, kekuatan Angkatan Bersenjata Republik Islam yang perkasa tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja,” kata dia.

Khamenei, menunjuk beberapa komandan militer senior Iran dan ilmuwan nuklir veteran dibunuh dalam serangan udara Israel skala besar yang menargetkan Teheran dan kota-kota lain di seluruh Iran pada dini hari Jumat lalu.

Sekelompok pakar PBB mengatakan bahwa Israel "harus menghadapi konsekuensi" dari kampanyenya untuk melemahkan kerangka hukum bagi perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata sementara agresi militer terus berlanjut tanpa henti.

"Seperti yang telah berulang kali kami ingatkan kepada Israel, hukum humaniter internasional terdiri dari serangkaian aturan universal dan mengikat untuk melindungi objek dan orang sipil yang tidak, atau tidak lagi, berpartisipasi secara langsung dalam permusuhan dan membatasi cara dan metode peperangan yang diizinkan," kata para ahli dalam sebuah pernyataan. Nah! Ada balasan buat Israel. Sejak pekan lalu telah ada kibaran bendera merah di atas Masjid Jamkaran, Qom.

Kibaran bendera merah di kota suci Qom (sekitar 140 km dari Teheran) kini menjadi sorotan.

Dalam tradisi Syiah, bendera merah adalah simbol darah yang belum terbalas, pertanda kuat akan adanya aksi balasan atau balas dendam. Masya Allah. (radityakhadaffi@gmail.com)

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru