Puncak Kemarau Diperkirakan BMKG Mulai Agustus

surabayapagi.com
Sejak akhir Juni hingga awal Juli 2025, hujan deras dengan curah yang tinggi, membuat sejumlah kawasan di kota besar di Jawa, terendam banjir. Termasuk yang paling parah di wilayah Jabodetabek.

Juli ini Diprediksi Beberapa Daerah di Jawa Timur Diserbu Angin Kencang dan Cuaca Esktrem

 

Baca juga: Meresahkan! Musim Hujan Picu Banjir hingga Ular Masuk Rumah Warga di Pasuruan

 

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Banjir menggenangi DKI Jakarta, awal pekan ini. Banyak warga Jakarta yang heran. Mengingat menurut kalender musiman, mulai Juni musim kemarau.

Tapi hari Selasa (8/7) air perlahan-lahan surut. Kini, tersisa 35 RT yang masih terdampak banjir.

Sebanyak 996 warga mengungsi ke tempat lebih aman di 17 lokasi berbeda di DKI Jakarta. Ini karena rumah mereka terendam banjir akibat luapan sungai dan hujan dengan intensitas tinggi.

Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Mohamad Yohan, mengatakan, pihaknya telah menyiapkan kebutuhan dasar bagi para pengungsi.

BPBD DKI Jakarta telah mengerahkan personel untuk memantau kondisi banjir di setiap wilayah dan berkoordinasi dengan Dinas Sumber Daya Air, Dinas Bina Marga, serta Dinas Gulkarmat untuk melakukan penyedotan genangan.

Data ini disampaikan BPBD DKI Jakarta, Selasa (8/7/2025), pukul pagi. BPBD mencatat banjir masih terjadi di Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara.

"BPBD mencatat saat ini genangan terjadi di 35 RT," tulis BPBD DKI.

 

Musim Kemarau Tahun ini

Bulan Juli biasanya identik dengan musim kemarau dengan cuaca panas terik, langit cerah, dan udara kering. Namun, pada Juli 2025, banyak masyarakat Indonesia justru mengalami kejutan. Hujan masih kerap mengguyur sejumlah wilayah di tanah air.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan ilmiah mengenai fenomena ini.

Menurut BMKG, musim kemarau tahun ini memang datang secara bertahap dan belum merata di seluruh Indonesia. Dalam buku Prediksi Musim Kemarau 2025 di Indonesia terbitan BMKG, disebutkan bahwa awal kemarau berlangsung dari Maret hingga Agustus.

Proses ini dimulai dari wilayah tenggara Indonesia dan secara perlahan meluas ke wilayah barat, utara, hingga ke wilayah timur. Pada Juli 2025, setidaknya 75 Zona Musim (ZOM) baru akan memasuki awal kemarau. Wilayah-wilayah ini meliputi Kalimantan bagian selatan serta Sulawesi bagian utara dan selatan. Sementara itu, puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus, ketika 340 ZOM mengalami curah hujan terendah. Artinya, meski kita telah memasuki musim kemarau secara umum, sebagian besar wilayah Indonesia belum sepenuhnya kering, dan ini menjelaskan mengapa hujan masih turun di beberapa tempat.

Baca juga: Pascabanjir, Akses Jalan dan Layanan Publik di Tulungagung Mulai Pulih Perlahan

 

Curah Hujan di Atas Normal

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan kondisi curah hujan di atas normal akan terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia sampai Oktober 2025. Berdasarkan hasil prediksi curah hujan bulanan ditunjukkan, anomali curah hujan yang terjadi sejak Mei 2025 akan terus berlangsung.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan hujan akan terus turun pada musim kemarau. Kondisi ini turut dipengaruhi oleh melemahnya monsun Australia.

"Melemahnya Monsun Australia yang berasosiasi dengan musim kemarau turut menyebabkan suhu muka laut di selatan Indonesia tetap hangat dan hal ini berkontribusi terhadap terjadinya anomali curah hujan tersebut," jelas Kepala BMKG dalam konferensi pers "Perkembangan Cuaca dan Iklim" pada Senin (7/7/2025), dikutip dari situs resmi BMKG.

Faktor lainnya ada gelombang Kelvin aktif yang melintas di pesisir utara Jawa, dibarengi pelambatan dan belokan angin di Jawa bagian barat dan selatan, memicu penumpukan massa udara.

 

Cuaca Berpotensi Ekstrem

Baca juga: Kapolres Polwan, Cekatan Atasi Banjir di Bekasi

Meski Indonesia telah memasuki musim kemarau, hujan deras bahkan banjir masih terjadi di sejumlah wilayah. Lantas mengapa hal tersebut terjadi?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan kondisi cuaca saat ini masih sangat dinamis dan berpotensi ekstrem, terutama di masa libur sekolah yang identik dengan peningkatan aktivitas wisata dan perjalanan.

 

Picu Cuaca Esktrem

Kedeputian Bidang Meteorologi BMKG menjelaskan, "dinamika atmosfer yang memicu cuaca esktrem saat ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor global dan regional." Akibatnya, pola hujan tidak selalu sesuai dengan musim yang sedang berlangsungBMKG menerangkan dalam unggahan akun media sosial Instagram resmi, @infobmkg, dikutip Senin (7/7/2025).

Oleh karena itu, BMKG turut memperkirakan masih akan terjadi potensi hujan lebat masih tinggi selama 4-10 Juli 2025. Wilayah tersebut meliputi Sulawesi Barat, Maluku, dan Papua Selatan. Sementara itu, angin kencang diperkirakan terjadi di Kepulauan Riau, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta sejumlah wilayah di Sulawesi dan Papua.

Saat ini banjir di Jakarta Barat melanda 7 RT. Lalu Jakarta Selatan, ancam 25 RT, Jakarta Timur hanya serang 1 RT. Dan Jakarta Utara landa 2 RT. Penyebabnya curah hujan tinggi. n ec/jk/rmc

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru