Gegara Tarif AS dan Restrukturisasi, Stellantis Alami Rugi Rp43,7 Triliun

surabayapagi.com
Maserati MC20 pecahkan rekor kecepatan dunia baru untuk kendaraan otonom. SP/ JKT

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Pabrikan otomotif global Stellantis, baru saja memberi pengumuman mengejutkan pada hari Senin ini bahwa mereka memperkirakan kerugian sebesar 2,3 miliar euro (setara Rp43,7 triliun) pada paruh pertama tahun ini, Rabu (23/07/2025).

Tentu saja angka tersebut mengejutkan. Pasalnya, yang jauh berbanding terbalik dengan laba bersih 5,6 miliar euro pada periode yang sama tahun lalu, menjadi sinyal peringatan keras bagi perusahaan dan sebuah ujian krusial bagi CEO barunya, Antonio Filosa, yang baru menjabat pada bulan Mei.

Baca juga: Motor Adventure KLE500 Makin Tangguh, Cocok untuk Touring di Medan Berat

Penurunan drastis ini sebagian besar disebabkan oleh badai restrukturisasi yang masif dan dampak awal tarif impor Amerika Serikat (AS) yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump. 

Baca juga: Transmisi Otomatis Bermasalah, Toyota Diadang Gugatan Massal di Amerika Serikat

Lebih lanjut, Stellantis memperkirakan bahwa tarif tersebut telah membebani perusahaan sebesar 300 juta euro, akibat penurunan pengiriman dan pemotongan produksi untuk menyesuaikan diri dengan bea perdagangan yang baru.

Dampak tarif AS terlihat jelas pada penurunan signifikan pengiriman di Amerika Utara, yang anjlok 25 persen dari tahun ke tahun pada kuartal kedua. Langkah Stellantis untuk mengurangi impor kendaraan sebagai respons terhadap tarif, yang sebelumnya mencapai lebih dari 40 persen dari 1,2 juta kendaraan yang dijual di AS tahun lalu (sebagian besar dari Meksiko dan Kanada), kini mulai menunjukkan efeknya pada jalur produksi dan tenaga kerja.

Baca juga: Usung 4 Motor, SUV Offroad Listrik Hongqi Tertangkap Kamera Uji Coba di Musim Dingin

Selain tarif, Stellantis juga mencatat beban pra-pajak bersih sebesar 3,3 miliar euro pada paruh pertama. Angka ini mencakup biaya pembatalan program, termasuk pengembangan propulsi hidrogen yang baru-baru ini dihentikan, serta perubahan pada platform manufaktur untuk memenuhi permintaan kendaraan hybrid. Penyesuaian terhadap peraturan emisi di Amerika Serikat, khususnya standar CAFE (Corporate Average Fuel Economy) yang baru diumumkan pada bulan Juni, juga berkontribusi pada kerugian ini. jk-01/dsy

Editor : Desy Ayu

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru