SURABAYAPAGI.com, Tulungagung - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Keswan DPKH) Tulungagung Mencatatkan populasi ternak babi di wilayahnya mencapai 11 ribu ekor yang dikelola atau dihasilkan dari 23 peternakan tersebar di lima kecamatan.
Namun, meski menempati peringkat pertama dari sisi jumlah populasi, produksi daging babi di Tulungagung hanya mencapai 252,67 ton per tahun dan berada di posisi ketiga di Jatim.
Baca juga: Pasca Diprotes Warga, Pemkab Tulungagung Siapkan Rp6 Miliar untuk Perbaikan Ruas Jalan
"Secara populasi, Tulungagung tertinggi. Namun untuk produksi daging, kami berada di urutan ketiga," ujar Kabid Keswan DPKH Tulungagung drh Tutus Sumaryani, Minggu (10/08/2025).
Lebih lanjut, menurut dia, sentra peternakan babi berada di Kecamatan Ngunut, Pagerwojo, Sumbergempol, Rejotangan, dan Kalidawir. Populasi terbanyak ada di Kecamatan Ngunut. Dan mayoritas daging babi dari Tulungagung dipasok ke wilayah lain di Pulau Jawa, seperti Surabaya, Bandung, dan Solo.
Baca juga: Selama Ramadhan, Pemkab Tulungagung Imbau Gelar Tadarus Tanpa Pengeras Suara Luar
"Untuk distribusi luar Jawa relatif sulit, karena daerah lain juga memiliki populasi babi yang cukup tinggi," ujarnya pula.
Beruntungnya, seluruh peternakan babi di Tulungagung telah memiliki izin operasional. Sebagian besar merupakan usaha komersial yang menerapkan standar tinggi dalam perawatan dan biosekuriti.
Baca juga: Sebelum Lebaran 2026, Pemkab Tulungagung Targetkan Perbaikan Jalan Rusak Rampung
Hal itu dikarenakan, ternak babi rentan terkena penyakit African Swine Fever (ASF) dan Hog Cholera. Karena itu, peternak menerapkan sistem kandang tertutup dan prosedur sterilisasi ketat bagi pekerja maupun tamu.
"Orang luar biasanya tidak diizinkan sembarangan masuk. Kalau pun masuk, harus melalui proses sterilisasi terlebih dahulu," kata Tutus lagi. tl-03/dsy
Editor : Desy Ayu