SURABAYAPAGI.com, Tulungagung - Menindaklanjuti bencana tanah longsor di jalur Tulungagung-Trenggalek via Pagerwojo, hingga kini masih terus diupayakan pembersihan material longsor tersebut. Namun, hingga kini penanganan tersebut masih lambat.
Selama 17,5 jam timbunan material longsor belum tertangani, sehingga akses jalan pun juga ikut lumpuh. Pasalnya, timbunan material longsor sepanjang 100 meter dengan ketebalan antara 50 sentimeter hingga 2 meter menutup total akses utama Pagerwojo-Bendungan, Trenggalek.
Baca juga: Usai Diterjang Longsor, Pengelola Wisata Pastikan Telaga Sarangan Sudah Aman Dikunjungi
Camat Pagerwojo Setiono mengatakan, lambannya penanganan material longsor tersebut diakibatkan oleh banyaknya timbunan material sehingga tidak mungkin dilakukan pembersihan dengan peralatan manual. Proses pembersihan harus menggunakan alat berat.
"Kendalanya di alat berat, kami belum bisa memastikan jam berapa akan tiba. Tapi sesuai instruksi Bapak Bupati hari ini akan didatangkan ke lokasi," kata Setiono, Minggu (02/11/2025).
Baca juga: Dilanda Hujan Ekstrem, BPBD Pasuruan Siaga Longsor di 8 Titik Jalur Wisata Bromo
Sementara itu, Pemerintah Daerah (Pemda) bersama instansi terkait akan berupa semaksimal mungkin untuk membersihkan material tanah bercampur bebatuan tersebut. Harapannya hari ini akses antarkabupaten ini bisa kembali dibuka.
Sementara itu, salah seorang warga Warsidin mengaku sebelum terjadi longsor susulan, warga bernama sejumlah instansi telah melakukan upaya pembersihan, sehingga jalur berhasil dibuka. Namun beberapa saat setelahnya terjadi longsor susulan yang lebih besar. "Kemarin itu sudah dibuka, sore longsor lagi," kata Warsidin.
Baca juga: Rawan Bencana Longsor, BPBD Jatim Pasang Sistem Peringatan Dini di Wonosalam Jombang
Akibat tanah longsor ini aktivitas perekonomian warga menjadi terganggu. Akses transportasi pengangkutan susu dari peternakan warga tidak bisa dilakukan dengan cepat. Sehingga, pihaknya berharap jalur utama tersebut bisa segera dibersihkan dan difungsikan kembali untuk akses warga.
"Karena jalur alternatifnya sempit, jadi mobil besar nggak bisa masuk. Terpaksa untuk pengangkutan susu dilansir dengan kendaraan yang lebih kecil," ujarnya. tl-01/dsy
Editor : Desy Ayu