SURABAYAPAGI.com, Magetan - Para petani sayur di Magetan, Jawa Timur sumringah melihat hasil budidayanya banyak dipasok untuk memenuhi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah. Tentu saja berkah ketiban cuan tersebut membuat harga sejumlah komoditas pertanian naik signifikan, bahkan mencapai hampir dua kali lipat.
Meski demikian Program MBG memberi efek ekonomi yang luar biasa bagi masyarakat, terutama para petani sayur. Bahkan, saat ini ini Kopdes Merah Putih Pacalan telah menjadi salah satu pemasok tetap program MBG, dengan dua titik dapur besar tujuan pengiriman.
Baca juga: Selama Ramadhan, SPPG Kota Malang Ganti MBG dengan Makanan Kering
“Dampaknya luar biasa. Dengan adanya MBG, kebutuhan sayur meningkat dan harga panen petani bisa naik hampir 80 persen. Kami sudah memasok dua dapur, di Ngawi dan Surabaya. Pengirimannya seminggu dua kali, karena kalau setiap hari kami justru rugi di biaya transport,” ungkap Ketua Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih Pacalan, Puriyanto, Minggu (23/11/2025).
Lebih lanjut, Program MBG juga membuat permintaan terhadap beberapa jenis sayuran melonjak drastis. Dua komoditas yang mengalami kenaikan harga paling tajam adalah wortel dan buncis. Kedua sayur tersebut menjadi bahan utama menu harian dapur MBG.
“Wortel itu setiap hari dibutuhkan, jadi harganya langsung meroket,” kata Puriyanto.
Baca juga: Diduga Keracunan MBG, 24 Siswa SD Tulungagung Alami Pusing dan Mual
Diketahui, untuk harga wortel yang sebelumnya hanya Rp8.000 kini menembus Rp15.000 per kilogram. Sementara buncis yang semula Rp6.000 kini berada di kisaran Rp14.000–Rp15.000 per kilogram.
Sementara untuk komoditas lain seperti timun dan sawi putih juga ikut terdongkrak harganya, meski tidak setinggi wortel dan buncis. Adapun kubis menjadi salah satu jenis sayur yang tidak ikut merasakan lonjakan permintaan karena tidak banyak digunakan dalam menu MBG.
Baca juga: BGN Bangun Enam SPPG di Aset Pemkab Madiun, Perluas Layanan MBG
Pihaknya berharap program MBG dapat terus berlanjut dan memberi ruang yang lebih besar bagi petani lokal untuk terlibat dalam pasokan kebutuhan bahan pangan. Sekaligus dapat memberikan dorongan besar bagi sektor pertanian desa. Dengan harga yang meningkat dan permintaan yang konsisten, petani Pacalan kini menikmati hasil kerja yang lebih sepadan.
“Harapannya ke depan MBG tetap berlanjut dan semakin melibatkan petani,” pungkasnya. mg-01/dsy
Editor : Desy Ayu