Wisata Bencana

surabayapagi.com
Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Presiden Prabowo Subianto, kini membuka wacana baru, wisata bencana. Masya Allah!. Wisata bencana dalam pikiran akal sehat saya tak pernah saya catat dan ingat. Wisata bencana terdiri dua kata. Disini ada anomali. Saya akui Presiden Prabowo Subianto, cukup jeli memotret fenomena yang terjadi dalam bencana alam di Sumatera.

Ya Anomali. Wisata Bencana adalah sesuatu yang berbeda, menyimpang, atau tidak biasa dari pola kebiasaan yang normal . Sorotan Presiden kita ini juga saya serap sebagai kritik kepada siapa saja yang melakukan pencitraan saat ada bencana alam dengan banyak korban.

Baca juga: Atlet Berprestasi, Bonus dan Jaminan Hari Tuanya

 

***

 

Presiden yang sudah lebih tiga kali meninjau area bencana di Sumatera meminta agar penanganan bencana di Indonesia tidak berubah menjadi ajang pencitraan pejabat dan tokoh publik. Ia meminta seluruh unsur pemerintah dan aparat yang datang ke lokasi bencana benar-benar membawa solusi konkret, bukan sekadar hadir untuk dokumentasi.

Prabowo menilai masih ada kecenderungan sebagian pejabat mendatangi wilayah terdampak bencana tanpa tujuan yang jelas selain menunjukkan kehadiran.

 Menurutnya, pola semacam itu justru melukai perasaan masyarakat yang sedang berada dalam situasi sulit.

"Juga saya mohon jangan pejabat-pejabat tokoh-tokoh datang ke daerah bencana hanya untuk foto-foto dan untuk dianggap hadir ya, kita tidak mau ada budaya wisata bencana," ingat Prabowo saat membuka Rapat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12)

Presiden Prabowo Subianto meminta para pejabat dan tokoh tidak datang ke lokasi bencana jika hanya untuk sekedar foto-foto dan dilihat kehadirannya. Kepala Negara menilai, saat ini ada kecenderungan budaya wisata bencana yang dilakukan sejumlah pihak.

"Saya mohon, jangan pejabat-pejabat, tokoh-tokoh datang ke daerah bencana hanya untuk foto-foto, hanya untul dianggap hadir mohon sebaliknya, kita tidak mau ada budaya wisata bencana. Jangan," harap Prabowo saat memimpin sidang kabinet paripurna.

Baca juga: Difitnah, Prabowo Mulai Kutip Ayat al-Qur'an

Dia menegaskan, pejabat yang datang ke lokasi bencana harus memiliki tujuan untuk membantu mengatasi masalah. Prabowo meminta agar para pejabat negara tidak menjadikan warga terdampak bencana sebagai alat mendulang manfaat pribadi.

"Saya kira kalau unsur pimpinan datang yang punya tugas dan portofolio ke situ. Mohon ini saya lihat ada kecenderungan wisata bencana ini tidak bagus. Rakyat di situ jangan dijadikan objek," jelasnya.

"Kita datang ke situ benar-benar untuk mencari masalah, melihat kesulitan dan bertindak. Kita lihat disini kurang air bersih apa tindakannya, di situ kurang BBM masih terisolasi, bagaimana tindakannya," sambung Prabowo. Arahan Presiden ini sangat benar.

 

***

Baca juga: Prabowo Tertegun Hitung Medali Emas Martina, Atlit Triatlon

 

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), bencana adalah sesuatu yang menimbulkan kesusahan, kerugian, penderitaan, kecelakaan, atau bahaya. Juga bisa diartikan sebagai gangguan atau godaan. Secara umum, bencana adalah rangkaian peristiwa yang mengganggu kehidupan masyarakat dan menimbulkan korban jiwa, kerusakan lingkungan, serta kerugian harta benda, yang bisa disebabkan oleh faktor alam, non-alam, atau manusia.

Pantaskan orang, siapa saja, pejabat, tokoh dan artis menjadikan area bencana sebagai tempat wisata dan tempat pencitraan. Apa keuntungannya?. Apa nama anak manusia yang menjadikan bencana di Sumatera sebagai obyek wisata? Apa mereka masih punya hati ?

Literasi saya, namanya obyek wisata terdiri dari tiga jenis utama: Alam (pantai, gunung, danau), Budaya (candi, museum, tarian tradisional, festival), dan Buatan/Rekreasi (taman hiburan, pusat perbelanjaan, tempat olahraga). Semuanya merupakan sumber daya atau daya tarik yang menarik pengunjung untuk berlibur dan mendapatkan pengalaman unik.

Ada bencana alam Lumpur Lapindo di Sidoarjo yang telah berkembang menjadi objek wisata unik yang dikenal sebagai Wisata Lumpur Lapindo atau bahkan dikembangkan menjadi Geopark Lumpur Lapindo. Masya Allah. (radityakhadaffi@gmail.com)

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru