SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Pabrikan asal Jepang, Toyota baru-baru ini kembali berhadapan dengan persoalan hukum di Amerika Serikat (AS) yang digugat melalui tiga class action baru yang menyoroti transmisi otomatis delapan percepatan UA80. Dalam gugatan tersebut, transmisi ini dituding rentan mengalami kerusakan dini.
Alhasil, memicu kekhawatiran soal ketahanan jangka panjang sekaligus nilai jual kembali kendaraan. Setelah dua gugatan serupa sebelumnya mencuat, perkara terbaru kini diajukan ke Pengadilan Distrik AS untuk Distrik New Jersey, Kamis (19/02/2026).
Baca juga: Motor Adventure KLE500 Makin Tangguh, Cocok untuk Touring di Medan Berat
Langkah ini menandakan bahwa masalah tersebut tidak lagi terbatas pada satu wilayah. Sedangkan untuk gugatan tersebut mencakup sejumlah model, mulai dari Toyota Highlander tahun 2017 hingga kendaraan yang masih dipasarkan saat ini seperti Lexus TX 350, sehingga jangkauan dampaknya dinilai cukup luas.
Dalam dokumen gugatan disebutkan adanya dua cacat utama pada transmisi tersebut. Kedua cacat itu bahkan disebut "pada dasarnya berbahaya”, karena berpotensi membuat kendaraan berperilaku tidak terduga. Sedangkan keluhan yang disampaikan antara lain kegagalan perpindahan gigi, selip mendadak, kebocoran cairan, perpindahan gigi yang kasar, munculnya bau terbakar, suara aneh, hingga hilangnya tenaga saat berkendara.
Baca juga: Usung 4 Motor, SUV Offroad Listrik Hongqi Tertangkap Kamera Uji Coba di Musim Dingin
Gugatan lain menyoroti dampak cacat tersebut terhadap umur pakai kendaraan dan daya tariknya di pasar. Masalah transmisi diklaim muncul jauh sebelum masa kepemilikan normal berakhir, sehingga merugikan konsumen.
Alih-alih memperbaiki, Toyota disebut menerapkan pembaruan perangkat lunak yang justru mempercepat keausan demi mengejar efisiensi bahan bakar. Selain itu, Toyota dituding terus meyakinkan pelanggan bahwa kendaraan mereka berfungsi normal.
Baca juga: Dibanderol Rp105 Juta, MPV Nissan Gravite Sasar Segmen Keluarga dengan Harga Terjangkau
Sementara itu, dealer mendiagnosis kerusakan transmisi total, namun karena garansi telah berakhir, Pallaya ditawari biaya penggantian lebih dari 7.400 dolar AS untuk unit yang menurutnya memiliki cacat serupa. Pallaya menilai masalah tersebut bersumber dari kesalahan desain mendasar dan menyebut Toyota gagal memberikan solusi yang berarti. jk-03/dsy
Editor : Redaksi