SURABAYAPAGI.com, Malang - Dalam rangka menjelang musim kemarau, saat ini Pemerintah Kota (Pemkot) Malang memilih fokus melakukan mitigasi terkait longsor hingga kebakaran dengan berkoordinasi lintas sektor terus diperkuat sebagai langkah antisipatif, arahan dari pemerintah provinsi terkait.
Berdasarkan kajian hidrologi dan hidrometeorologi dari provinsi, tingkat kerawanan bencana di Kota Malang tergolong ringan. Meski demikian, kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama. Dari hasil pemetaan, potensi bencana yang paling diwaspadai adalah tanah longsor. Selain itu, pihaknya juga menyoroti potensi kebakaran yang kerap meningkat saat musim kemarau.
Baca juga: Sumber Pakan Alami Berkurang, Ratusan Kera Lereng Wilis Turun ke Pemukiman Desa
“Walaupun masuk kategori ringan, kita tetap antisipasi. Prediksi bisa saja berubah, jadi persiapan harus tetap maksimal,” ujar Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, Senin (20/04/2026).
Baca juga: Cegah ‘Overload’ TPA Supit Urang, Pemkot Malang Optimalisasi Pengolahan Hulu
Ia menilai, faktor kelalaian masyarakat masih menjadi penyebab utama kejadian tersebut. “Misalnya kompor elpiji yang ditinggal atau korsleting listrik. Ini perlu kesadaran masyarakat, termasuk pemahaman soal penggunaan listrik yang aman,” katanya.
Untuk wilayah padat penduduk yang rawan kebakaran, Pemkot Malang telah menyiapkan langkah mitigasi. Salah satunya dengan memperkuat kesiapsiagaan relawan hingga tingkat kecamatan dan kelurahan. “Relawan dan tim di wilayah akan kita apelkan kembali agar kesiapan menghadapi bencana bisa lebih dini,” jelasnya.
Baca juga: Tahun 2026, Pemkot Malang Upayakan 109 PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu
Sementara itu, terkait penyusunan peta rawan bencana hingga tingkat RT, Wahyu memastikan progresnya terus berjalan. Bahkan, dalam beberapa kejadian sebelumnya, kesiapan masyarakat dinilai sudah mulai terlihat. “Tidak hanya relawan, masyarakat juga sudah mulai paham langkah apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana,” pungkasnya. ml-03/dsy
Editor : Redaksi