SURABAYAPAGI.com, Nganjuk - Baru-baru ini memasuki musim kemarau, sejumlah petani bawang merah di Desa Sumengko, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, memilih mengeringkan hasil panen untuk dijadikan bibit dibandingkan menjualnya sebagai bawang konsumsi. Mengingat, saat ini harga bibit bawang merah dinilai lebih menguntungkan dengan nilai jual mencapai sekitar Rp60 ribu per kilogram.
Sehingga keputusan menjualnya kembali sebagai bibit merupakan hal yang tepat. Selain memiliki nilai jual yang lebih tinggi, permintaan bibit bawang merah relatif stabil sehingga memberikan peluang keuntungan yang lebih besar bagi petani dibandingkan menjual hasil panen sebagai komoditas konsumsi.
Baca juga: Bikin Geger! Penemuan Ular Sanca 4,5 Meter Bekeliaran di Pemukiman Warga Nganjuk
Sementara itu, terkait dengan proses pengeringan dilakukan untuk menjaga kualitas umbi agar dapat digunakan sebagai bibit pada musim tanam berikutnya maupun dipasarkan kepada petani di berbagai daerah. Sehingga, keputusan mengalihkan sebagian hasil panen menjadi bibit didorong oleh pertimbangan ekonomi.
Baca juga: Tradisi Turun-temurun Prosesi Manten Tebu Jadi Penanda Musim Giling PG Lestari Nganjuk
Padahal, Nganjuk selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi bawang merah di Jawa Timur yang memasok kebutuhan berbagai wilayah. Tak heran jika kualitas bibit yang dihasilkan petani setempat juga menjadi salah satu faktor yang mendorong tingginya minat pasar.
Baca juga: Disporabudpar Nganjuk Upayakan Wayang Timplong Masuk WBTB Nasional
Oleh karenanya, dengan memanfaatkan hasil panen sebagai bibit, petani berharap dapat meningkatkan pendapatan sekaligus menjaga keberlanjutan usaha budidaya bawang merah. Strategi tersebut menjadi alternatif yang banyak dipilih ketika harga bibit berada pada level yang lebih menarik dibandingkan harga bawang merah konsumsi di pasaran. ng-01/dsy
Editor : Redaksi