567 Orang Terdampak, Kasus Dugaan Keracunan MBG Sidoarjo Meluas ke 19 Lembaga Pendidikan

Reporter : Arlana Chandra Wijaya

SurabayaPagi, Sidoarjo – Kasus dugaan keracunan setelah konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terus meluas. Hingga Rabu (2/9/2026) siang, jumlah korban yang mendapatkan penanganan medis mencapai 566 orang.

Korban tidak hanya berasal dari Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam, Putat, Kecamatan Tanggulangin, tetapi juga berasal dari siswa di 19 lembaga pendidikan yang menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin.

Baca juga: Viral Ratusan Santri Keracunan, Bupati Subandi: 31 SPPG Belum Kantongi Izin

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengatakan jumlah tersebut merupakan hasil pemutakhiran data setelah 35 orang yang sebelumnya masih berada di posko lapangan akhirnya harus dievakuasi ke sejumlah rumah sakit

“Total jumlah 531 kalau enggak salah. Tapi barusan ada tambahan 35 (yang dirujuk ke rumah sakit), jadi total 566,” kata Lakhsmie, Rabu (2/9/2026).

Dari total tersebut, 88 orang masih menjalani rawat inap di sejumlah fasilitas kesehatan. Sementara sekitar 478 korban lainnya telah mendapatkan penanganan rawat jalan atau diperbolehkan kembali setelah kondisi kesehatan mereka dinilai membaik.

Lakhsmie mengatakan pasien yang masih menjalani perawatan secara umum berada dalam kondisi stabil. Tidak ada pasien yang hingga kini membutuhkan perawatan khusus.

“Secara umum yang opname stabil. Secara umum stabil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan sampai ke perawatan khusus enggak ada,” ujarnya.

Menurut dia, sebagian pasien hanya membutuhkan penanganan akibat kehilangan cairan atau dehidrasi. Setelah mendapatkan rehidrasi dan obat sesuai kondisi medis, pasien dapat dipulangkan apabila kondisinya membaik.

Namun, Dinkes tetap meminta korban yang sudah pulang melakukan kontrol apabila kembali mengalami keluhan.

“Ya, tentunya kalau misalnya memang dirasa perlu masih ada keluhan, ya kontrol. Kalau tidak, dengan obat yang sudah diberikan cukup, ya cukup, selesai,” kata Lakhsmie.

RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo menjadi salah satu rumah sakit yang menangani jumlah pasien cukup besar dalam kasus tersebut.

Humas RSUD R.T. Notopuro, Rizqi Maulana, mengatakan ratusan pasien dari Ponpes Manba’ul Hikam telah dibawa ke rumah sakit tersebut sejak kasus mulai muncul pada Selasa (1/9/2026).

Berdasarkan pembaruan data sekitar pukul 09.00 WIB, sebagian besar pasien telah diperbolehkan pulang. Hanya beberapa pasien yang masih menjalani perawatan, sementara pasien tambahan yang datang setelahnya masih harus menjalani observasi.

“Data terakhir jam 09.00 WIB tadi, dari total 340 pasien yang dirawat, 335 sudah dipulangkan dan sekarang tersisa lima pasien masih dalam perawatan,” ujar Rizqi.

Ia menjelaskan mayoritas pasien mengalami keluhan yang mengarah pada dehidrasi sehingga penanganan medis difokuskan pada pemulihan cairan tubuh.

“Ini untuk diagnosanya, kalau bahasa awamnya itu mungkin dehidrasi sehingga penanganan yang kita lakukan setelah observasi selanjutnya kita pulihkan agar kita rehidrasi,” jelasnya.

Pasien yang ditangani berasal dari berbagai jenjang usia. Keluhan yang dilaporkan antara lain mual, sakit perut, diare, serta tubuh lemas.

Namun, setelah data pukul 09.00 WIB tersebut, kembali terdapat pasien susulan. Pada pembaruan data dengan cut-off pukul 10.30 WIB, enam santri kembali datang ke RSUD R.T. Notopuro setelah sebelumnya sempat dipulangkan.

“Jadi dari total 345 pasien yang dirawat di sini, tadi pagi sebagian besar sudah dipulangkan dan masih ada lima orang yang dirawat. Tapi ini cut-off data 10.30 WIB ada tambahan enam santri ponpes. Enam ini yang kita belum bisa mengkategorikan apakah dirawat atau belum karena masih observasi,” kata Rizqi.

Tambahan pasien tersebut menunjukkan proses penanganan masih dinamis. Rumah sakit tetap menyiagakan tenaga medis untuk mengantisipasi munculnya keluhan susulan.

Baca juga: Gejala Berlanjut, Enam Santri Ponpes Manba’ul Hikam Kembali Dilarikan ke RSUD Notopuro

Kasus yang semula mencuat di Ponpes Manba’ul Hikam kemudian diketahui tidak berdiri sendiri.

Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyebut terdapat 19 lembaga pendidikan yang melaporkan keluhan kesehatan setelah menerima makanan dari SPPG Kalitengah.

Kesamaan sumber makanan tersebut menjadi salah satu dasar dilakukannya penelusuran terhadap SPPG yang memasok makanan ke lembaga-lembaga pendidikan tersebut.

“Selain dari pondok pesantren beliau, Mambaul Hikam, ada juga dari sekolah-sekolah lain yang mengalami keluhan. Kesamaannya adalah konsumsi dari SPPG yang sama, SPPG Tanggulangin Kalitengah,” kata Emil.

Dengan temuan tersebut, penyelidikan tidak hanya diarahkan pada kondisi para korban, tetapi juga pada rantai penyediaan makanan, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi kepada penerima manfaat.

Sebagai langkah awal penanganan, Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah.

Penghentian tersebut dilakukan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi untuk mengetahui penyebab pasti kejadian. BGN menegaskan penghentian sementara bukan berarti penyebab dugaan keracunan telah dipastikan.

Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, mengatakan sampel makanan telah diambil oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dan kepolisian untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.

“Untuk saat ini, SPPG kita berhenti operasional. Selanjutnya, hasil lab dan lain-lain kita tunggu,” ujar Teguh.

Dalam inspeksi terhadap SPPG Kalitengah pada Rabu siang, BGN juga menemukan sejumlah catatan terkait sarana dan prasarana serta Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi bagian dari evaluasi sebelum menentukan langkah lanjutan terhadap SPPG tersebut.

Baca juga: Ratusan Santri Dilarikan ke Rumah Sakit Usai Konsumsi MBG, Kasus Sidoarjo Tembus 500 Pasien

Makanan yang dikonsumsi para korban pada Selasa (1/9/2026) terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis dan baby corn, serta buah apel.

Menu tersebut diproduksi dan didistribusikan melalui SPPG Kalitengah, Tanggulangin.

Sampel makanan telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan tersebut penting untuk memastikan apakah terdapat kontaminasi atau faktor lain yang berkaitan dengan munculnya keluhan kesehatan para penerima MBG.

Karena hasil laboratorium belum keluar, penyebab pasti kejadian hingga kini belum dapat disimpulkan. Istilah dugaan keracunan masih digunakan untuk menggambarkan kasus tersebut.

Pemeriksaan juga perlu mencakup seluruh rantai produksi dan distribusi makanan, termasuk kualitas bahan baku, proses pemasakan, suhu penyimpanan, waktu pengiriman, kondisi kemasan, hingga waktu makanan dikonsumsi.

Di tengah meningkatnya jumlah korban, pemerintah memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam kasus tersebut.

Emil Dardak menegaskan seluruh pasien yang mendapatkan penanganan medis dalam kondisi tertangani. Sebagian pasien yang kondisinya membaik telah diperbolehkan pulang, sementara rumah sakit tetap disiagakan untuk mengantisipasi keluhan lanjutan.

Kasus ini kini menjadi perhatian serius karena jumlah korban telah mencapai ratusan orang dan laporan keluhan muncul dari 19 lembaga pendidikan yang menerima makanan dari sumber SPPG yang sama.

Pemerintah bersama aparat penegak hukum dan instansi kesehatan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan sumber dan penyebab kejadian.

Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk evaluasi terhadap standar keamanan pangan dan kelayakan operasional SPPG Kalitengah.

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru