SurabayaPagi, Surabaya – Kebutuhan industri terhadap energi yang lebih efisien dan rendah emisi mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan elektrifikasi di berbagai sektor usaha.
Dalam satu dekade, SUN mengembangkan kapasitas energi surya lebih dari 450 megawatt (MW) melalui lebih dari 400 proyek di lebih dari 40 sektor industri.
Baca juga: APL Resmikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di Fasilitas Jawa Timur
Pengembangan tersebut mencakup sektor pertambangan, semen, FMCG, logistik, kertas, kemasan, elektronik, komponen otomotif hingga farmasi. Portofolio proyek SUN juga telah tersebar di Indonesia, Australia, Vietnam, dan Thailand.
Bagi sektor industri, penggunaan energi surya tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi, tetapi semakin dikaitkan dengan upaya menekan biaya operasional dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi.
Berdasarkan estimasi produksi energi bersih pada 2026, proyek-proyek SUN diperkirakan dapat mengurangi emisi sekitar 244.549 ton CO₂ per tahun. Angka tersebut setara dengan dampak penyerapan karbon dari sekitar 4,06 juta pohon.
Director of Power SUN Jefferson Kuesar mengatakan perkembangan industri energi bersih menunjukkan bahwa agenda transisi energi mulai beririsan dengan kebutuhan perusahaan untuk menjaga efisiensi dan daya saing.
“Sepuluh tahun pertama SUN menunjukkan bahwa transisi energi dapat berjalan seiring dengan kebutuhan industri terhadap efisiensi, keandalan, dan daya saing,” ujar Jefferson.
Perubahan pola konsumsi energi industri membuat pengembangan energi terbarukan tidak lagi hanya dipandang sebagai agenda lingkungan.
Efisiensi biaya dan kepastian pasokan menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi energi perusahaan.
SUN kemudian memperluas pengembangan dari PLTS menuju sistem elektrifikasi terintegrasi yang mencakup penyimpanan dan manajemen energi, kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya, serta sistem digital untuk mengelola energi dan armada.
Sektor dengan kebutuhan energi dan mobilitas tinggi seperti pertambangan, perkebunan, logistik, manufaktur, kawasan industri, dan FMCG menjadi salah satu sasaran penerapan elektrifikasi tersebut.
Pada sektor transportasi industri, misalnya, penghematan biaya dapat berasal dari penggunaan kendaraan listrik sekaligus optimalisasi sistem pengisian dan sumber energinya.
Salah satu studi kasus pada distributor FMCG di Jabodetabek menunjukkan penggunaan truk listrik untuk rute sekitar 50 kilometer dengan jam operasional 08.00–17.00 berpotensi menghemat biaya energi hingga 83,6 persen per perjalanan.
Dalam skenario yang sama, total biaya kepemilikan dan operasional berpotensi turun sekitar 15 persen. Perhitungan tersebut bergantung pada ketersediaan listrik jaringan dan pola operasional perusahaan.
Director of Mobility SUN Karina Darmawan mengatakan elektrifikasi armada perlu dilihat sebagai bagian dari sistem operasional secara keseluruhan.
Baca juga: SUN Energy Jadi Mitra Strategis Industri Jatim Menuju Net Zero Emission 2060
“Elektrifikasi armada perlu dirancang sebagai bagian dari sistem operasional, bukan hanya melalui penggantian kendaraan. Infrastruktur pengisian daya, pembiayaan, pemeliharaan, dan sumber energi perlu dipersiapkan secara bersamaan,” katanya.
Di sisi lain, peluang pengembangan energi surya di Indonesia masih terbuka lebar. Potensi energi surya nasional diperkirakan mencapai sekitar 3.200 gigawatt peak (GWp).
Potensi tersebut membuka ruang pengembangan PLTS, baik untuk kebutuhan komersial dan industri maupun proyek pembangkit berskala besar.
SUN saat ini memiliki pipeline proyek energi surya lebih dari 40 MWp di sejumlah wilayah Indonesia yang masih berada dalam tahap pengembangan.
Perusahaan juga mulai memperluas peran sebagai Independent Power Producer (IPP) untuk mengembangkan aset energi bersih dalam jangka panjang.
Pengembangan proyek skala besar tersebut berpotensi meningkatkan keterlibatan swasta dalam penambahan kapasitas energi terbarukan.
Di sisi lain, realisasinya tetap bergantung pada kesiapan proyek, skema pembiayaan, regulasi, infrastruktur kelistrikan, serta kepastian permintaan energi.
Baca juga: Green Future Summit 2024, SUN Energy Dorong Transformasi Hijau di Sektor Industri Indonesia
Target pengembangan energi surya hingga 100 GWp di Indonesia juga membuka peluang bagi industri pendukung, mulai dari pembiayaan proyek, manufaktur komponen, konstruksi, instalasi, pengoperasian hingga pemeliharaan pembangkit.
Memasuki dekade kedua, pengembangan energi bersih semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sektor-sektor dengan konsumsi energi dan aktivitas operasional tinggi.
Integrasi PLTS, penyimpanan energi, sistem manajemen energi, kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya, dan teknologi digital berpotensi membentuk ekosistem energi baru di sektor industri.
Bagi dunia usaha, pergeseran tersebut memberikan peluang untuk menekan biaya energi dan operasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Namun, percepatan elektrifikasi juga membutuhkan dukungan ekosistem yang lebih luas.
Pengembangan proyek membutuhkan keterlibatan pemerintah, regulator, PLN, lembaga pembiayaan, asosiasi industri, pengelola kawasan, penyedia teknologi, pemasok, dan kontraktor.
Dengan potensi energi surya nasional yang besar serta meningkatnya kebutuhan industri terhadap efisiensi energi, pengembangan PLTS dan elektrifikasi berpotensi menjadi salah satu bagian penting dari transformasi struktur energi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Editor : Redaksi