Ramalan Terorisme di Tahun 2018, Indonesia?

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
SURABAYAPAGI.com, Singapura - Pada pengujung tahun 2017 lalu, baik pemerintah Irak dan Suriah telah memproklamasikan kemenangan mereka atas organisasi teroris ISIS di kawasan masing-masing. Begitu juga Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang ikut mengumumkan kesuksesan negaranya dalam menumpas kelompok pemberontak Maute di Marawi -- yang terinspirasi oleh Daesh di Irak dan Suriah -- pada kuartal keempat tahun yang sama. Kelompok teroris Abu Sayyaf di Filipina selatan pun juga melemah pada akhir tahun lalu. Mengingat salah satu pemimpinnya, Isnilon Hapilon dikabarkan tewas pada pertengahan Oktober 2017. Maka wajar saja jika segala kabar di atas, membuat sebagian besar orang berspekulasi bahwa 2018 akan menjadi tahun yang bebas teror dan terorisme. Jika Anda sebagai salah satu orang yang berspekulasi seperti itu, maka, perkiraan Anda tak tepat, setidaknya menurut 'ramalan' ilmiah dalam sebuah jurnal akademis terbaru yang dirilis pada Januari 2018. Jurnal yang dipubliksikan oleh S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura itu memprediksi, terorisme akan tetap menjadi ancaman nyata dunia pada 2018. "Ancaman terorisme global (pada 2018) telah ter-desentralisasi (tersebar), tak dapat diprediksi, sulit dideteksi, tangguh dan regeneratif," tulis Rohan Gunaratna, ketua tim penulisan jurnal yang berjudul 'Counter TerroristTrends and Analyses, January 2018', Rabu (3/1/2017). Meski kalah, ISIS, organisasi teroris lain yang terinspirasi dan yang serupa diprediksi tak akan segera hilang dari permukaan Bumi pada tahun 2018 ini. "(Mereka) akan ter-glokalisasi, memanfaatkan ... jihadis-jihadis lokal dengan agenda global," tulis Gunaratna. Glokalisasi (leburan atau portmanteau dari dua kata, globalisasi dan lokalisasi) adalah istilah yang dipopulerkan oleh sosiolog Roland Robertson pada 1980-an untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk penyesuaian lokal terhadap situasi global. Atau sederhananya, 'yang lokal di global'. Gunaratna kemudian membenturkan konsep glokalisasi dalam isu terorisme dunia. Menurutnya, meski ISIS telah melemah, kelompok-kelompok yang lebih kecil hingga individu di belahan dunia namun terkoneksi dalam jaringan yang sama, akan menjadi ancaman teror dunia pada tahun 2018 ini. Sebut saja seperti ISIS di Maghreb (Afrika), ISIS di Filipina, Abu Sayyaf Group di Filipina, Jamaah Anshorut Daulah di Indonesia, ISIS di Mesir dan Sahara, dan lain sebagainya. "Mereka yang berideologi radikal-jihadis di berbagai wilayah akan menggunakan terorisme yang low-end, menyerang target di darat, laut maupun udara, baik sipil, pejabat, juga militer," tulis pria yang menjabat sebagai Kepala International Centre for Political Violence and Terrorism Research itu. "Kekuatan utama kelompok teroris itu menitikberatkan pada hubungan dengan grup yang terafiliasi dan satu jaringan, sel-sel, dan jihadis individual yang berdedikasi tinggi untuk bertempur dan mati demi (memperjuangkan agenda) ISIS," lanjutnya. Seperti dikutip dari 'Counter Terrorist Trends and Analyses, January 2018', Gunaratna mempre Warg bearswadiksi tiga pola yang akan menjadi penggambaran utama atas tren terorisme dunia pada tahun 2018. Pertama, ISIS -- yang semula memusatkan diri sebagai entitas pembentuk ke-khalifahan di Irak dan Suriah -- akan bertransformasi menjadi gerakan terorisme dunia. "ISIS akan membentuk ulang citra mereka dan berusaha untuk mengekspansi secara global, baik dalam ruang fisik dan maya," tulis Gunaratna. Kedua, Daesh dan kelompok teroris lain yang terinspirasi akan ter-desentralisasi dan menyebar ke berbagai penjuru dunia dalam sebuah organisasi kewilayahan yang khas, namun memiliki identitas global yang serupa (ter-glokalisasi). "Mereka akan terpecah ke Libya, Mesir, Yaman, Aljazair, Nigeria, Afghanistan, Pakistan, Rusia di Kaukasus, Filipina. Kondisi akan semakin diperparah ketika mereka melakukan persaingan dengan kelompok teroris lain yang telah lebih dulu ada di kawasan, seperti Al Qaeda dan yang terinspirasi ISIS," papar Hunaratna. Terakhir, kekosongan ISIS di Suriah akan diisi oleh kelompok teroris lain, yakni Al Qaeda di Suriah (AQS) atau lebih dikenal dengan Jabhat Fateh Al Sham (JFS) dan koalisinya, Hay'at Tahrir Al Sham (HTS). Seperti dikutip dari 'Counter Terrorist Trends and Analyses, January 2018', ancaman terorisme masih akan terjadi di Indonesia selepas kekalahan ISIS di Irak dan Suriah. Kelompok teror yang patut diwaspadai di Tanah Air pada tahun 2018 nanti adalah organisasi yang terinspirasi ISIS dan yang terinspirasi Al Qaeda. Setidaknya ada tiga yang masuk dalam radar pantauan jurnal tersebut yakni, Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), dan -- yang telah cukup berusia -- Jamaah Islamiyah (JI). Yang patut diwaspadai dari ketiga organisasi itu adalah kecenderungan mereka untuk selalu bergerak di bawah radar setiap saat, serta potensi melakukan serangan secara sporadis, individualis, dan tersebar di seluruh wilayah kepulauan utama di Tanah Air. "Seperti menyerang pos polisi, menggunakan bom rakitan, penusukan, penembakan, baik di lokasi yang tergolong sepi hingga yang sangat ramai," tulis jurnal tersebut. Terkait saran, jurnal yang dapat diakses secara daring itu juga menulis bahwa partisipasi besar pemerintah, terutama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menjadi poin kunci dalam mengujung-tombaki penanganan isu teror di Tanah Air. "Pemerintah harus terus menguatkan upaya de-radikalisasi, memantau seluruh aktivitas setiap organisasi agama bertendensi radikal-ekstremis yang pro-ISIS, peran BNPT yang besar, dan mengimplementasikan kebijakan antipropaganda radikal yang marak di Indonesia," tulis jurnal tersebut.
Tag :

Berita Terbaru

Awali Pertandingan dengan Hasil  Sempurna, Persela Bungkam Persis Solo 2-0

Awali Pertandingan dengan Hasil Sempurna, Persela Bungkam Persis Solo 2-0

Minggu, 13 Sep 2026 19:41 WIB

Minggu, 13 Sep 2026 19:41 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Persela Lamongan mengawali kompetisi Pegadaian Championship 2026/2027 dengan hasil sempurna. Menjamu Persis Solo di Stadion…

Pemkot Mojokerto Buka Layanan Validasi Data bagi Warga Terdampak Perubahan Desil

Pemkot Mojokerto Buka Layanan Validasi Data bagi Warga Terdampak Perubahan Desil

Minggu, 13 Sep 2026 15:50 WIB

Minggu, 13 Sep 2026 15:50 WIB

SURABAYAPAGI.com, Mojokerto – Perubahan desil ekonomi menjadi keresahan banyak warga yang disampaikan kepada Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan P…

Perkuat Konsolidasi hingga Tingkat Kelurahan, Golkar Surabaya Targetkan 10 Kursi di Pemilu Mendatang

Perkuat Konsolidasi hingga Tingkat Kelurahan, Golkar Surabaya Targetkan 10 Kursi di Pemilu Mendatang

Minggu, 13 Sep 2026 15:41 WIB

Minggu, 13 Sep 2026 15:41 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Kota Surabaya menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) sekaligus pengukuhan pengurus…

Angin Kencang, Operasional Paralayang Gunung Banyak Dihentikan Sementara

Angin Kencang, Operasional Paralayang Gunung Banyak Dihentikan Sementara

Minggu, 13 Sep 2026 15:33 WIB

Minggu, 13 Sep 2026 15:33 WIB

SURABAYAPAGI.com, Batu - Menindaklanjuti fenomena angin kencang yang meningkat secara signifikan di sekitar area lepas landas (take-off) memaksa para pengelola…

Tradisi Unik Bersih Desa, Warga di Ngawi Gelar Saling Lempar ‘Perang Nasi’

Tradisi Unik Bersih Desa, Warga di Ngawi Gelar Saling Lempar ‘Perang Nasi’

Minggu, 13 Sep 2026 15:32 WIB

Minggu, 13 Sep 2026 15:32 WIB

SURABAYAPAGI.com, Ngawi - Tradisi unik di Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, saat rangkaian bersih desa atau sedekah bumi…

Tekan Angka Pengangguran, Pemkab Bangkalan Targetkan Pekerja Lokal Terserap Industrialisasi

Tekan Angka Pengangguran, Pemkab Bangkalan Targetkan Pekerja Lokal Terserap Industrialisasi

Minggu, 13 Sep 2026 14:33 WIB

Minggu, 13 Sep 2026 14:33 WIB

SURABAYAPAGI.com, Bangakalan - Sebagai upaya memberikan peluang kerja dan menekan angka pengangguran, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan menargetkan,…