Botmeter, Sistem Pendeteksi Akun di Media Sosial

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
SURABAYA PAGI - Salah satunya tim di kampus Indiana University dan Northeastern University di Amerika Serikat (AS), yang mengembangkan sistem bernama Botmeter. Di media sosial, tak semuanya orisinil. Akun pun bisa dipalsukan. Caranya adalah dengan membuat akun robot atau lebih sering disebut akun bot. Untuk menanggulangi hal tersebut, berbagai penyedia layanan ketiga terus berupaya menghilangkan akun bot. Hal itu terkait akun bot yang masih menjadi isu di media sosial, terutama di Twitter, yang umumnya menyebarkan cerita tertentu, bahkan berkonten politik. Botmeter mengenali lebih dari seribu faktir, mulai dari cuitan termasuk metadata bagaimana dan dari mana unggahan hingga komposisi pengikut. "Kami menggunakan banyak sinyal untuk menghitung skor," kata Onur Varel, peneliti dari Northeastern University yang terlibat proyek itu seperti dikutip The Verge, (4/3). Berdasarkan teori yang digunakan sistem itu, bila angka Botmeter di bawah 40 persen, kemungkinan akunnya adalah akun sungguhan, bukan robot. Varel tidak mengklaim sistem tersebut betul-betul akurat untuk membuat kesimpulan sebuah akun adalah bot karena sistem masih dikembangkan. Tim peneliti secara aktif mengumpulkan data untuk dimasukan ke sistem bernama Bot Repository. Varel mengakui akun bot kini makin kompleks dan sulit dikenali jika dibandingkan dengan 2011, saat ia pertama kali mempelajari akun robot. Akun bot seringkali identik dengan akun media sosial selebritas. Selebritas terkenal biasanya memiliki jutaan pengikut yang ingin tahu kabar idolanya. Namun ternyata tidak semua selebritas memperoleh follower dengan cara alami. Terbaru, laporan dari The New York Times mengungkap bahwa sejumlah selebritas kerap membeli follower palsu. Mengutip laman Gizmodo, (28/1), berdasarkan penelusuran The New York Times, 15 persen dari follower di Twitter kemungkinan adalah akun bot. Media besar tersebut menulis sejumlah nama selebritas yang diduga membeli follower palsu. Misalnya saja aktor John Leguizamo, Michael Dell miliarder CEO Dell, seorang petinggi Twitter Martha Lane Fox, hingga musisi DJ Snake. Masih menurut laporan yang sama, kemungkinan akun-akun bot ini ada untuk tujuan monetisasi. Selebritas dengan banyak pengikut atau sering disebut sebagai influencer dan menggunakan akun media sosialnya untuk mendapatkan tawaran kerja sama iklan dari merek-merek ternama. Oleh karenanya, semakin banyak follower yang dimiliki, makin banyak pula bayaran yang didapatkan oleh influencer tersebut dari sponsor. Pendiri Moz sebuah perusahaan SEO, Rand Fishkin, mengatakan dengan banyaknya jumlah follower atau jumlah retweet, orang-orang akan menganggap selebritas atau influencer tersebut sebagai orang penting atau cuitannya dibaca oleh banyak orang. "Alhasil, orang-orang mungkin cenderung mem-follow selebritas tersebut atau membagikan apa yang diunggahnya," katanya. Twitter memang menginvetigasi adanya akun-akun palsu alias spam. Kendati begitu, Twitter tidak selalu memblokir pengguna yang sengaja membeli follower palsu. Dalam keterangannya, juru bicara Twitter mengatakan, Twitter sedikit kerepotan untuk mendeteksi siapa yang bertanggung jawab atas lahirnya akun-akun palsu ini. "Kami serius mengambil langkah penghentian akun-akun bot. Kami juga ingin menghentikan tindakan spam di Twitter," kata juru bicara yang tak disebutkan namanya Salah satu pihak yang berjualan akun-akun bot adalah Devumi. Kendati palsu, akun-akun bot tersebut memang tampak seperti pengikut sungguhan. Hal ini karena Devumi menggunakan akun-akun yang sudah tidak aktif untuk membuat akun palsu. Sayangnya, Twitter belum bertindak proaktif me-review apakah akun-akun tersebut menggunakan data-data milik orang lain.yn
Tag :

Berita Terbaru

1 Abad Gontor, 10.000 Alumni Bersiap Pulang ke Ponorogo, Prabowo hingga SBY Dijadwalkan Hadir

1 Abad Gontor, 10.000 Alumni Bersiap Pulang ke Ponorogo, Prabowo hingga SBY Dijadwalkan Hadir

Senin, 14 Sep 2026 19:21 WIB

Senin, 14 Sep 2026 19:21 WIB

SURABAYAPAGI com, Ponorogo — Lebih dari 10.000 alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) bersiap kembali ke Ponorogo, Jawa Timur, untuk mengikuti Reuni A…

Gus Qowim Ajak Guru di Kota Kediri Mendidik dengan Hati, Menuntun dengan Akhlak

Gus Qowim Ajak Guru di Kota Kediri Mendidik dengan Hati, Menuntun dengan Akhlak

Senin, 14 Sep 2026 17:19 WIB

Senin, 14 Sep 2026 17:19 WIB

SURABAYAPAGI.com, Kediri - Pendidikan tidak hanya tentang seberapa banyak ilmu yang diberikan kepada anak, tetapi juga bagaimana ilmu tersebut ditanamkan…

Jurnalis Mojokerto Gelar Doa Bersama untuk 5 Wartawan Hilang Saat Liput Anak Krakatau

Jurnalis Mojokerto Gelar Doa Bersama untuk 5 Wartawan Hilang Saat Liput Anak Krakatau

Senin, 14 Sep 2026 16:46 WIB

Senin, 14 Sep 2026 16:46 WIB

SURABAYAPAGI.com, Mojokerto – Keprihatinan mendalam atas belum ditemukannya lima wartawan dan tiga kru ekspedisi Anak Krakatau menggugah solidaritas insan pers …

Lawan Persiba di Surajaya, Kans Persela Amankan 3 Poin Cukup Terbuka

Lawan Persiba di Surajaya, Kans Persela Amankan 3 Poin Cukup Terbuka

Senin, 14 Sep 2026 16:45 WIB

Senin, 14 Sep 2026 16:45 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Skuad Persela Lamongan terus mematangkan persiapan, dan menjaga asa dalam lanjutan laga Penggadaian Championship 2026/2027, saat…

Unit Reskrim Polsek Kepanjenkidul Polres Blitar Berhasil Bekuk pelaku Curanmor

Unit Reskrim Polsek Kepanjenkidul Polres Blitar Berhasil Bekuk pelaku Curanmor

Senin, 14 Sep 2026 15:25 WIB

Senin, 14 Sep 2026 15:25 WIB

SURABAYAPAGI com, Blitar - Polsek Kepanjenkidul Wilayah Hukum Polres Blitar Kota, berhasil ungkap dan tangkap pelaku pencurian motor jenis Honda ADV warna…

Lamongan Night Carnival Tanpa Sound Horeg,  Mampu Menghibur  Masyarakat

Lamongan Night Carnival Tanpa Sound Horeg,  Mampu Menghibur  Masyarakat

Senin, 14 Sep 2026 15:23 WIB

Senin, 14 Sep 2026 15:23 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Lamongan Night Carnival (LNC) tahun kedua tanpa sound horeg kembali menyedot animo masyarakat. Bahkan ribuan warga merasa terhibur…