Dokter: Jangan Percayai 100% Pesan Maia Estianty

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Ilustrasi karikatur
Ilustrasi karikatur

i

 

Obat-obatan Covid Konsumsi Maia Estianty, Kini Mulai “Ditiru” Publik

 

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Meski dalam satu minggu terakhir di awal Januari 2021, pasien Covid-19 di Indonesia semakin meningkat. Bahkan Rabu (6/1/2021), ada penambahan kasus 8.854 kasus yang terjankit Covid-19. Namun, masyarakat di Indonesia dan khususnya di Surabaya, penasaran apa yang dilakukan oleh Maia Estianty, penyanyi/produser yang juga mantan suami Ahmad Dhani. Pasalnya, istri Irwan Mussry ini baru saja terpapar Covid-19. Namun, dalam satu hari positif Covid-19, Maia mendadak dinyatakan sembuh. Bahkan, dalam tiga hari, hasil tes usap Maia, sudah berubah dari positif menjadi negatif.

Maia pun terheran-heran, dan langsung membuat testimoni di kanal YouTube Maia Aleldul TV, yang dikutip Surabaya Pagi, Selasa (6/1/2021) kemarin. Bahkan, testimoni Maia itu juga mengungkapkan obat-obatan yang membuat Maia bisa sembuh dalam kurun waktu 1x24 jam. Selama dinyatakan positif Covid-19, Maia Estianty mengaku tak mengalami gejala apapun. Ia tidak sama sekali merasakan demam, pilek, batuk, maupun gejala ringan yang lain.

"Pada saat aku menerima vonis itu, aku sampaikan hal ini kepada suamiku. Mas Irwan sih dia kaget, tapi malam itu juga dia mengirim susternya ke rumahku di Pejaten," cerita artis kelahiran Kota Surabaya ini.

Maia Estianty pun langsung menerima sejumlah perawatan mulai dari pemberian obat hingga suntik vitamin. Tak sampai di situ, Irwan Mussry langsung mendaftarkan sang istri untuk menerima suntik setiap hari. "Nah dia juga programkan aku setiap hari harus suntik sampai empat hari sampai sembuh," ungkap Maia Estianty.

Obat-obatan yang dikonsumsi Maia Estianty pun kini menjadi sangat dicari masyarakat dan ingin “meniru” agar bisa sembuh cepat dari penyakit Covid-19. Obat-obatan yang dikonsumsi Maia, yang dibeberkan diantaranya Azythromycin 500 mg, Tamiflu, Isiprinol, Curcuma, Vitamin C 1.000 mg, Vitamin D 5.000 IU, Vitamin E 300 IU, Zinc 50 mg, Magnesium dan Camostat Mesilate.

Sudah satu pekan ini banyak warga kota mengirim jenis obat-obatan itu ke teman, saudara dan keluarga. Ironisnya, ada yang beli di apotik tanpa konsultasi dokter.

 

Kritik untuk Maia

Terkait viralnya testimoni Maia Estianti itu pun membuat dokter spesialis Paru yang dihubungi Surabaya Pagi, Selasa (5/1/2021) mengkritik dan mewanti-wanti kepada Maia Estianty agar memberikan informasi yang benar. Apalagi terkait obat-obatan medis yang bersinggungan soal Covid-19.

"Kalau multivitamin sih memang sudah biasa dikonsumsi. Tapi tidak semudah itu sembuh dari virus covid-19," kata dr. Arief Bachtiar, Sp.P, dokter spesialis Paru RSUD dr Soetomo, kepada Surabaya Pagi, Selasa (6/1/2021).

Pada dasarnya, hasil swab test akan tampak di hari ketiga setelah terpapar covid-19. Hasil swab pun memiliki jangka waktu untuk 'expired'.

Apalagi obat-obatan yang dikonsumsi Maia Estianti, tambah dr. Arief, merupakan vitamin bagi orang yang terpapar Covid-19 tanpa gejala atau memiliki penyakit komorbid. "Itu kalau multivitamin hanya untuk orang tanpa gejala, plus dengan gejala ringan. Kalau sudah lebih, apalagi sudah berat dan ada komorbid. Beda lagi,” jelas Arief Bachtiar.

 

Jangan Percaya 100 Persen

Ia pun memberi peringatan keras bagi masyarakat yang sekaligus pengikut Maia Estianti, untuk tidak langsung mempercayai 100 persen apa yang diberikan Maia Estianty. Bila terpapar Covid-19, dengan tanda-tanda gejala yang sudah dijelaskan Satgas Covid-19, lebih baik untuk segera mendatangi Rumah Sakit atau Puskesmas.

"Tetap periksa ke dokter kalau memang ngerasa ada tanda-tanda covid-19. Kalau memang diperlukan ke Rumah Sakit ya jangan takut. Masyarakat sekarang kan kebanyakan takut periksa ke Rumah Sakit," pungkasnya.

Senada juga diungkapkan Ketua Perhimpuan Dokter Paru Indonesia, Dr. dr. Agus Dwi Santoso SpP(K) FAPSR FISR. Obat-obatan yang diberikan untuk penanganan pasien yang terpapar Covid-19 juga diberikan berdasarkan tingkat kasus yang dialami.

 

Tergantung Tingkat Severity

"Kita menangani pasien itu berdasarkan severity (tingkat keparahan atau beratnya kasus) yang dialami oleh pasien. Karena masing-masing severity itulah nantinya, pasien bisa diberikan pilihan obat. Mana yang pasien tanpa gejala, mana pasien yang punya gejala berat,” kata dr Agus, Selasa (5/1/2021).

Kemudian, tingkat keparahan atau beratnya kasus pasien dikategorikan menjadi tanpa gejala, ringan, sedang, berat sampai kondisi kritis Covid-19.

Dituturkan Agus, pasien tanpa gejala penanganannya cukup dengan vitamin, atau juga obat-obat yang memiliki imunomodulator, baik tradisional maupun obat modern fitofarmaka yang tentunya sudah mendapatkan izin edar dari BPOM. Seperti yang dialami oleh Maia Estianty, dengan mempublikasikan obat-obatan yang diminum dan bisa sembuh dalam waktu cepat.

"Jadi obat itu bisa diberikan sebagai supportif atau pendukung bagi pasien-pasien tanpa gejala. Kembali lagi, cepat lambatnya, pasien sembuh berdasarkan kondisi tubuh masing-masing," tuturnya.

 

Multivitamin untuk OTG

Selain itu, tambah Agus, bagi pasien yang positif tanpa gejala, juga harus disertai isolasi mandiri di rumah, tak perlu ke rumah sakit selama 14 hari. Kemudian, konsumsi Vitamin C dosis tinggi 3 kali 1 tablet selama 14 hari.

“Vitamin C perlu. Sedangkan, obat-obatan supportif baik tradisional (fitofarmaka) maupun modern dapat dipertimbangkan untuk diberikan, namun tetap memperhatikan perkembangan kondisi pasien,” tambahnya.

Selain itu, Agus Dwi Santoso menjelaskan, untuk pasien dengan gejala, tetap disarankan untuk penanganan oleh tenaga medis yang berpengalaman seperti di Rumah Sakit atau Puskesmas.

Meskipun belum ada obat jitu untuk mengobati pasien Covid-19, tapi berbagai perhimpunan profesi kesehatan sudah mengeluarkan panduan atau pedoman yang bisa diterapkan kepada pasien dengan gejala. "Memang saat ini belum ada terapi spesifik untuk Covid-19. Tidak ada sampai saat ini di seluruh dunia, belum ditemukan," kata Agus.

 

Regimen Obat Covid-19

Agus menyebutkan beberapa obat pilihan yang sudah disepakati perhimpunan profesi kesehatan diantaranya, Azitromisin atau Levofloksasin, Hidroksiklorokuin, Favipiravir, Lopinavir, Ritonavir serta Remdesivir. “Nah, selain dari keenam obat itu, harus disertai dengan vitamin berdosis tinggi. Pilihan obat ini disesuaikan dengan ketersediaan di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes),” kata Agus.

Ditegaskan Agus, meksipun ada empat pilihan regimen pengobatan standar, tapi alternatif keempat tidak diberlakukan di Indonesia.

Pasalnya, jenis obat ketiga di alternatif pengobatan keempat, yakni Remdesivir tidak tersedia di Indonesia. "Sejauh ini itulah yang sudah digunakan di Indonesia dari sejak ada kasus pada bulan April," ujarnya.

Agus berkata, ada tambahan obat yang diberikan terutama pada pasien dengan kasus sedang, berat hingga kritis. Obat tersebut adalah Deksamethason. Umumnya diberikan pada pasien dalam terapi oksigen dan ventilator.

Selain itu juga Antikoagulan dan beberapa pilihan obat atau terapi lainnya yang bisa diberikan, asalkan sesua dengan assesment Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP), dan dalam rangka uji klinis.

Dari tiga macam pilihan terapi obat itu mana yang lebih baik, Agus mengatakan bahwa kita dari perhimpuan profesi kesehatan sejauh ini belum ada riset membandingkan ketiga pilihan obat tersebut. "Tetapi, penggunaannya itu kan berdasarkan emergency use dari Badan POM. Artinya BPOM sudah mengizinkan, kemudian di lapangan kita laksanakan," ujarnya.

Sehingga, kata dia, itulah algoritma yang kita keluarkan terkait ketika terapi atau obat yang selama ini digunakan untuk menangani pasien Covid-19. mbi/ana/cr2/rmc

Berita Terbaru

Rayakan HUT ke 28, Ketum IJTI Ingatkan Pentingnya Jurnalis Membangun Kolaborasi dan Kredibilitas

Rayakan HUT ke 28, Ketum IJTI Ingatkan Pentingnya Jurnalis Membangun Kolaborasi dan Kredibilitas

Senin, 07 Sep 2026 20:39 WIB

Senin, 07 Sep 2026 20:39 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Informasi yang cepat diera digitalisasi harus disikapi dengan cara yang bijak, produk jurnalistik harus terus hadir secara persisi…

Wujudkan Infrastruktur Jalan Mulus dan Terkoneksi, Bupati Lamongan Diganjar Penghargaan dari IJTI

Wujudkan Infrastruktur Jalan Mulus dan Terkoneksi, Bupati Lamongan Diganjar Penghargaan dari IJTI

Senin, 07 Sep 2026 20:34 WIB

Senin, 07 Sep 2026 20:34 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Langkah kongrit bupati Lamongan Yuhronur Efendi dalam mewujudkan infrastruktur jalan mulus terkoneksi antar wilayah, diganjar…

Hari Pelanggan Nasional, PLN UIT JBM Perkuat Sinergi Dengan Stakeholder Sektor Industri Manufaktur

Hari Pelanggan Nasional, PLN UIT JBM Perkuat Sinergi Dengan Stakeholder Sektor Industri Manufaktur

Senin, 07 Sep 2026 19:23 WIB

Senin, 07 Sep 2026 19:23 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Memaknai Hari Pelanggan Nasional (HPN) yang diperingati setiap 4 September, PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur d…

‎Skor LPPD Naik, Bupati Madiun: Jangan Cuma Kejar Nilai

‎Skor LPPD Naik, Bupati Madiun: Jangan Cuma Kejar Nilai

Senin, 07 Sep 2026 17:39 WIB

Senin, 07 Sep 2026 17:39 WIB

‎SURABAYAPAGI.com, Madiun - Skor kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah Kabupaten Madiun meningkat dalam evaluasi nasional. Meski demikian, Bupati Madiun H…

Sekjen PP AMPG Sebut Diklatda Jatim Pilot Project Kaderisasi Anak Muda se Indonesia

Sekjen PP AMPG Sebut Diklatda Jatim Pilot Project Kaderisasi Anak Muda se Indonesia

Senin, 07 Sep 2026 15:43 WIB

Senin, 07 Sep 2026 15:43 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (PP AMPG), Ubaidillah, menilai pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan …

Dibuka 10 September, Truk Kini Bisa Lewati Jembatan Buk Wedi Pasuruan

Dibuka 10 September, Truk Kini Bisa Lewati Jembatan Buk Wedi Pasuruan

Senin, 07 Sep 2026 15:24 WIB

Senin, 07 Sep 2026 15:24 WIB

SURABAYAPAGI.com, Pasuruan - Setelah proses pembangunan jembatan selesai, kini kendaraan besar dapat kembali melewati Jembatan Buk Wedi di Kota Pasuruan mulai…